Yusi Avianto Pareanom: Sapi Berpenampilan Rapi Meminta Permakluman Setelah Melantunkan Neraca-neraca Merdu

Sapi Berpenampilan Rapi Meminta Permakluman Setelah Melantunkan Neraca-neraca Merdu
(Pengantar untuk diskusi novel Lanang karya Yonathan Rahardjo, 23 Mei 2008, TIM, Jakarta)

Yusi Avianto Pareanom

Profesi dokter hewan jarang muncul dalam karya sastra fndonesia, baik novel maupun cerita pendek. Nasibnya mirip dengan penarik pajak, koki, dan tukang sulap. Mereka kalah jauh 'pamornya' bila dibandingkan dengan dokter, guru, mahasitwa, mantan tahanan politik, bahkan pelacur. Oleh sebab itu, kehadiran novel Lanang dengan tokoh utama seorang dokter hewan bisa disebut sesuatu yang segar. Apa lagi, profesi si tokoh yang bernama sama dengan judul novel, Lanang, bukan sekadar tempetan.

Lanang berkisah tentang problem yang mesti dihadapi Lanang setelah kemunculan makhluk tak lazim yang disebut Burung Babi Hutan. Dalam upayanya menemukan jawab, ia mesti beberapa kali meninggaikan istrinya, Putri, di kawasan Pegunungan. la terlibat datam penelitian, seminar, dan perburuan makhtuk itu. Ia juga bertemu dengan dukun hewan Rajikun dan mantan kekasihnya, Doktor Dewi, yang dalam sampul belakang buku disebut sebagai antek korporasi asing.

Saat membaca Lanang, saya merasakan ambisi dan semangat besar Yonathan Rahardjo untuk bicara banyak hal, antara lain situasi mutakhir industri peternakan dan kesehatan hewan Tanah Air, perkembangan teknologi transgenik, mistisme yang masih dipegang banyak orang, dan hubungan laki-laki dan perempuan.

Sebagai titik tolak, saya ingin menggunakan kata-kata Yonathan sendiri yang dikutip oleh Sihar Ramses Simatupang dari Sinar Harapan di halaman v, "Kita kembali pada karya sastra saja." Dengan kata lain, saya akan menimbang Lanang berdasarkan unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel, yaitu tema, deskripsi, dialog, penokohan, plot, dan penggunaan bahasa.

Setelah menamatkan Lanang, saya mesh bilang dengan berat hati bahwa semua unsur yang saya sebut di atas muncul secara tidak meyakinkan di semua halaman. Tidak nyaris di semua halaman, tetapi benar¬benar di semua halaman. Saya akan memulai dengan hal-hal yang paling paling mengganggu saya, yaitu ketidaktelitian yang dilakukan pengarang, plus penyunting, dan logika yang lemah.

Tangannya cekatan mengendalikan kemudi mobil. Jalan berlekok dengan santai diikuti tangan membelok sesuai arah jalan, lalu membanting ke arah berlawanan. Dalam waktu bersamaan, kakinya terampil menginjak gas dan rem. Sesekali tangan kiri menggenggam panel untuk mengubah gigi mesin. Rata-rata kecepatan yang tertampang dalam argometer mobil menunjukkan laju kendaraan sangat tinggi, dibanding jalan berkelok-kelok yang membutuhkan kecermatan serta cara mengemudi yang butuh sikap ekstra hati-hati. (halaman 5)

Kecuali kalimat pertama, semua kalimat dalam alinea yang dikutip di atas bermasalah. Saya bukan pengemudi yang andal, tetapi rasanya susah membayangkan pedal gas dan rem yang diinjak dalam waktu yang bersamaan. Sebuah panel lazimnya juga tidak digenggam. Dan, bukankah istilah yang tepat adalah tuas untuk alat yang dipakai untuk mengubah gigi mesin? Alat untuk mengetahui kecepatan di mobil adalah speedometer, bukan argometer, dan yang terlihat bukaniah kecepatan rata-rata melainkan kecepatan aktual ketika sebuah kendaraan berjalan. Tidak tepat pula kecepatan yang tinggi dibandingkan dengan jalan yang berkelok-kelok, semestinya kata dibanding diganti dengan kata untuk.
Contoh lain:
,..Bebunyian logam-logam sebagai peralatan standar penanganan sapi perah sating bertumbuk dengan gelas-gelas botol, vial dan ampul obat-obatan dalam alatnya masing-masing (halaman 28).

Kalimat di atas sangat rancu. Bagaimana mungkin bebunyian logam-logam bisa menjadi peralatan standar penanganan sapi perah seperti yang dinyatakan dengan penggunaan kata sebagal? Bagaimana pula bebunyian bisa saling bertumbuk dengan gelas-gelas botol? Lalu, apa yang dimaksud dengan gelas botol, vial dan ampul obat-obatan dalam alatnya masing-masing?

Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno, Guru Besar Sastra Universitas Indonesia, Ketua Dewan Juri Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, dalam Pe'rtgantar menyarankan pembaca Lanang untuk mengikuti kaidah pembacaan cerita saspens, artinya, untuk menikmatinya pembaca harus sabar membaca dari awal sampai akhir dengan teliti.

Saya mengikuti saran beliau, dan inilah yang saya temui. Di halaman 22, disebutkan Lanang datang ke sebuah peternakan dengan pakaian seragam putih-putih, terseterika rapi. Namun, di halaman 25, muncul kalimat yang menyatakan kain baju Lanang agak koyak sesudah pertempuran semalam. Kesalahan ini makin parah lagi bila mengingat dalam adegan pertempuran yang dimaksud, Lanang digambarkan menjalaninya dengan bertelanjang, alias tak memakai baju.

Ketidaktelitian yang juga parah muncul tatkala Lanang menjelaskan gejala sapi yang terserang penyakit misterius. Semula, sapi-sapi perah itu diceritakan mampus dalam waktu yang singkat, malah dalam beberapa kasus tewas seketika. Namun pada halaman 39, Lanang berkata,

°Ternak sangat menderita dan mad. Biasanya didahului sakit kepala, lesu, mual, nafsu makan menurun, gugup, dan nyeri."
Ketidakpahaman juga menjadi sebab deskripsi yang berantakan.
Banyak orang tidak tahu, pemuda itu mall tergantung selama beberapa jam. Lehernya terjerat kabel listrik Kereta Re/ Ustrik. Sudah menghitam. Darahnya tak bisa mengucur keluar. Pasti pendarahan di dalam. Leher itu begitu terjepit. Hampir putus. Sampai kepalanya menengadah ke samping. Ditarik beban yang menggantung. Lurus, Tegak. (halaman 181)

Sulit membayangkan mayat yang tergantung di tempat umum dibiarkan berjam-jam. Musykil juga kabel listrik KRL yang tegang bisa menjerat. Betul, bahwa di halaman 180 dikatakan si korban itu tercekik lehernya pada persilangan kabel listrik. Namun ini mustahil juga, karena kabel terbuat dari kawat baja. Bila leher seseorang yang sedang berdiri di atap kereta yang melaju menabrak persilangan kabel, besar kemungkinan ia langsung jatuh karena sengatan listrik 16 ribu kilovolt. Tidak mungkin juga kan si korban meloncat ke persilangan untuk menggantung did?

Ketidaklogisan muncul secara nyata di halaman 343-345, yaitu ketika seorang gadis bertangan sayap, mirip Burung Babi Hutan, mampir ke kantor polisi-malah sempat beli es doger-tetapi tak ada kehebohan apa pun. Padahal, Burung Babi Hutan yang tak pernah terlihat oleh publik sudah bikin geger satu negara. Contoh lain, di halaman 382 diceritakan Lanang sudah disekap oleh para antek korporasi asing di sebuah ruang sempit, sehingga ia tak bisa bergerak; namun, di halaman 388 disebutkan setelah pintu selnya terbuka, masuk sekelompok orang dengan pakaian rapi, jubah putih-putih. Berapa ukuran tubuh para manusia yang berpakaian rapi ini?

Logika bahasa yang berantakan bisa ditemui di sana- sini.

Bedanya, kala masuk frase cintanya pada lelaki lain, matanya berubah berkaca-kaca. (halaman 163)

"...Ketika aku melantunkan neraca-neraca merdu yang menuntun jari-jemari jiwaku mendayu-dayu dalam liuk semenari tubuh gemulaimu dengan tarian rindu....' (halaman 170)

Majas punya batas. Bagaimana neraca bisa menjadi merdu kalau ia adalah timbangan atau catatan perbandingan untung rugi, atau bagaimana pula sebuah neraca bisa dilantunkan? Untuk adilnya, saya juga mesti bilang bahwa Yonathan sebetulnya bisa menggunakan kiasan dengan tepat.

...Dengan mata dibebani batu, ia lihat bayang-bayang hitam pada semak-semak dan pohon-pohon di kiri-kanan jalan. (halaman 35)

Sayangnya, contoh di atas jarang ditemui.

Dalam Lanang, adegan-adegannya lebih banyak muncul melalui dialog, monolog, maupun pemikiran tokoh¬tokohnya (dalam bahasa Yonathan disebut angan mengembara, angan melesat, dan sejenisnya). Deskripsi menempati porsi yang sangat kecil, dan ketika muncul, ia tak meyakinkan. Berikut beberapa contoh.

Mobil beranjak.
Jalan sangat menanjak.
Maklum daerah pegunungan. (halaman 5)

Mash di halaman yang sama,

"Mas Lanang...,° mata istri bersinar-sinar dengan wajah yang masih belum begitu rapi, maklum berjam-jam gelisah,

Pada halaman 19, si pengarang kembali meminta permakluman.

....Baunya minta ampun. Maklum, namanya saja kotoran sapi. Kotoran sapi atau ayam tak ada bedanya. Sama-sama kotoran.

Kenapa minta permakluman? Untuk contoh terakhir, akan lebih menarik bila dipaparkan seperti apa bau yang minta ampun itu sebetulnya. Apakah bikin perut mual? Apakah masih tercium dari jarak 100 meter? Apakah baunya tak hilang walaupun kandang diguyur karbol sepuluh liter? Lalu, apakah betul tidak ada beda antara kotoran sapi dan kotoran ayam? Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia kedokteran hewan, Yonathan semestinya bisa menghadirkan paparan yang lebih rinci dan memikat.

Selain itu, banyak pula ditemui deskripsi yang susah sekali divisualkan.

Berhenti sejenak, kepala babi hutan itu menjilat organ membulat di bagian belakang tubuhnya sendiri (halaman 82)

Bagaimana sebuah kepala bisa menjilat, bukankah ini tugas lidah? Lalu, bagaimana pula makhluk ini bisa menjilat sesuatu yang berada di belakang tubuhnya sendiri? Tidak ada penjelasan apakah babi ajaib ini memang memiliki elastisitas yang sedemikian mengagumkannya sehingga bisa melakukan hal seperti itu.

Dalam penyajian monolog, dialog, ataupun pemikiran, terlihat jelas keinginan Yonathan berpuitis-puitis. Sayang, mengingat diksinya sangat lemah, yang tersaji adalah kalimat- yang bertele-tele dan mubasir. Lebih celaka lagi, gaya bicara semua tokohnya serupa. Memang, tokoh-tokoh yang muncul hampir semuanya punya persinggungan dengan dunia peternakan ataupun kesehatan hewan. Meskipun demikian,
semestinya setiap dari mereka adalah pribadi unik. Keseragam karakter tokoh-tokoh ini paling terlihat saat mereka bersenandika.

Misalnya, ketika sapi-sapi perahnya mati, inilah yang katakan Sukarya, sang peternak,
"Dalam waktu singkat, para malaikat pencabut nyawa melolong di tengah alam gelap, menyebabkan rasa ngeri di hati kafni akan datangnya kematian pada sapi-sapi. Mereka mirip anjing-anjing gila, menggigit ternak tak berdosa hingga menemui ajal," jerit Sukarya pilu. (halaman 25)
Bagaimana jika Sukarya sedang berpikir? Begini jadinya.
`Tebercik dalam pikiran kami untuk ganti haluan usaha seperti dorongan yang kami rasakan manakala krisis moneter mendera negeri Nusantara, sehingga usaha peternakan kami gulung tikar akibat situasi ekonomi yang sulit. Yang kami hadapi saat ini bukan situasi ekonomi itu, tetapi penyakit yang telah bahkan tampaknya bakal membuat para penasihat serta fasilitator kami menjadi begitu kerdil hati untuk berbuat secara pasti clan kesatria demi menolong nasib kami, terutama nasib sapi yang bergelimpangan tewas secara mengenaskan oleh penyakit berkabut misteri.' (halaman 44)
Mash berkaitan dengan kematian sapi-sapi perah, seorang dokter hewan rekan Lanang menasihati tokoh utama,
"Lanang, kita harus menunjukkan kepedulian kepada petemak yang tengah dirundung nestapa ini. Sama halnya dengan kepedulian terhadap seluruh masyarakat yang terkait dengan kerja koperasi kita. Disiplin kerja seperti biasa harusjuga jadi prioritas kita."
Untuk senandika yang {ebih dahsyat dari para peternak, lihat halaman 146-148. Bagaimana dengan suara Putri, isti Lanang?
"Kita tahu, Mas Lanang sangatlah kuat dalam penelusuran ilmiah. Pengalaman menjadi mahasiswa yang baik dalam riset-riset kampus pastilah membentuknya jadi ilmuwan handal yang bisa mengatasi kemelutnya. Tapi aku tak mau hal itu terjadi, meski bertentangan dengan rasa banggaku padanya, bahwa seorang yang pernah dekat denganku akan menjadi penguak tabir hitam yang mendukakan kelompok masyarakat yang jelas-jelas menjadi target pelayanan kita demi mengabdi masyarakat dan ilmu." (halaman 49)
Begini kata saat Putri bercinta.
°Kulayani suamiku yang memberi miliknya. Goyangan-goyanganku yang menyambut miliknya betul-betul membuatnya suka.Aku pun puas tiada terkira." (hal 227)

Harus diakui, kata-kata Putri orisinil. Biasanya, perempuan terbagi ke dalam tiga golongan besar saat bercinta. Si optimis akan bilang 'oh yes', si pesimis akan bercuap 'oh no', sementara si religius menyebut 'oh God'.

Begini kata Putri saat ia diisyaratkan si pengarang ingin mengadakan hubungan badan dengan Taro, anjingnya.

"Untuk membayangkan akan sangat sulit, Menderita. Itu pasti. Maka jarak antara kami mesti kujaga. Di sini aku yang harus aktif, karena aku manusia yang tahu konstanta-konstanta." (halaman 352)

Orisinalitas ini bukan cuma milik Putri, melainkan juga Lanang. Di halaman 277, diceritakan Lanang melakukan pemasanan sebelum berhubungan badan dengan Putri. Ketika kepala Lanang berhadapan dengan bagian bawah tubuh Putri, alih-alih langsung beraksi ia justru mendendangkan melodi indah tentang cinta dan lingkungan yang tiriknya diawali dengan '9ercinta Mencegah Hutan Gundul'...dan dibagian lain berbunyi `Tinggal pikiran, hati, dan tangan ini mau secara praktis menyingkirkan AC freon atau tidak.'
Begini cara Doktor Dew, si antek korporasi asing, wanita yang tubuhnya nyaris tambun tetapi lekuk tubuhnya masih tergolong ideal itu (halaman 253) menyambut Lanang di kantornya.

°Kau tiba siang hari ketika aku menyisihkan hariku khusus untuk menunggumu. Aku masih berbicara dengan temanku di telepon manakala kau menjejakkan kaki di pelataran rumahku dan mengetuk pintu."

°Stafku, yang membukakan pintu, mempersilakanmu menunggu dan memberitahu bahwa kau mencari aku. Sementara kau berdiri di depan pintu, aku berjalan meninggalkan kamar kerjaku. Aku menuju pintu depan rumah dan melongokkan kepalaku. Aku senang melihatmu lagi!"
Reaksi Lanang? Begini.
°Mengapa kau mendirikan Insititut Peduli Kesejahteraan Total, Dew? Tidakkah kau puas dengan keilmuwananmu sebagai Doktor Bioteknologi Kehewanan?° tanya Lanang pada Dew, begitu kerinduan tergenapi dalam suatu komunikasi. (halaman 252)

Lanang, si tokoh utama, yang di sampul belakang buku disebut sebagai dokter hewan yang cerdas dan melankolis, bilang seperti ini kepada Dew setelah mereka bercinta:

"Dew, tahukah yang terjadi kala itu. Kukata, biar aku tak terus begini, dalam kepecundangan yang kian menderaku makin gila, karena sempit dinding menemboki dengan asa yang dangkal, mengerok kulit harapku makin botak. Aku tak ingin kematian bulu rambut hatiku makin membuatku gundul merangas. Biar gantinya kuraih ia yang berbunga. Ditiup angin pun takkan pernah berhenti tumbuh terus. Sebab ia tumbuh di belantara yang subur." (halaman 162)

Yang paling °dahsyat" muncul di halaman 108-109 ketika Lanang merindukan istrinya. Angan-angannya saya kutipkan di sini.

Putri, betapa kuingin pelukanmu. Kau memelukku. Aku tersipu dan menahan rasa yang mengetuk-ngetuk dinding dada yang kini tak berotot kekar lagi. Di sini, aku mencari hijau alam untuk kulalui. Namun, kurindu kau memelukku, walau hanya dalam suara yang kembali menjenguk melalui telepon genggamku yang hampir tak berbunyi lagi.'
'Kini,' lanjutnya, 'telepon genggamku memang benar-benar lemah baterai. Tentu saja, ini jadi penghambat komunikasi kita. Kau past tak bisa menghubungiku melalui telepon rumah kita. Sementara aku tidak membawa baterai cadangan atau penggertak energi yang membangunkannya terjaga lagi. Aku merasa kehilangan suaramu bila kita tak bisa berkomunikasi. Kegelisahan ini sebenarnya tak perlu mengusikku. Karena bila aku ingin menghubungimu, bisa kulakukan lewat telepon umum.'

Persoalan telepon genggam yang lemah baterai ini masih dikeluhkan Lanang sampai setengah halaman lagi. Saya tak sanggup mengutipnya secara utuh, panjangnya melebih solilokui Hamlet yang sedang ragu-ragu, "To be or not to be," (Hamlet, Babak 3 Adegan 1 Baris, William Shakespeare).

Bagaimana kalau suara Lanang diwakili si narator?

Mestinya di kota ini ia meltyani panggilan teman, kenalan dan klien untuk mengobati hewan kesayangan mereka. Panggilan mereka adalah panggilan surgawi yang bakal `memperpanjang nyala api kompor gas Lanang, lalu melirik ke kompor elektrik', laksana embusan udara sepoi yang berbunga wangi dan mempersembahkan mekarnya untuk hati yang mendamba kesejahteraan sekaligus kehormatan kaum intelektual dan terdidik. (halaman 115)

Petikan terakhir adalah penegasan saya bahwa karakter-karakter di Lanang tak (mungkin) berkembang karena suara si narator adalah suara semua tokoh. Yang paling parah adalah tak digarapnya situasi batin tokoh Putri setelah disetubuhi Burung Babi Hutan (entah jadi-jadian atau transgenik). la bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Kok bisa?

Motif lemah dan sains asal-asalan

Teknologi transgenik sebetulnya sudah menyediakan bahan kuat bagi Lanang. Apalagi, banyak pro dan kontra berkenaan dengan teknologi ini. Sayangnya, peluang ini tak dimanfaatkan oleh Yonathan. Memang muncul istilah ilmiah seperti modifikasi genetis, Aglutination Gel Presipitation, Polymerase Chain Reaction, alpha- l-antitrypsin, tetapi hadir pula Obat Ekstra Ampuh yang terdiri dari seribu kuman.

. Ketika para ahli berteori tentang asal-asul Burung Babi Hutan, seseorang mengemukakan pendapat yang ngawur pol.

"Barangkali babi itu tersesat sampai pucuk gunung, sedangkan jalan untuk kembali ke daratan sangat sulit. la bergaul dengan burung-burung rajawali dan burung-burung penyendiri di puncak gunung. Bergaul dan melakukan adaptasi pola hidup. Tumbuh sayap pada tubuhnya." (halaman 191)

Ahli ilmu apakah orang yang berpendapat semacam itu? Babi tersesat bisa diterima. Frase kembali ke daratan bermasalah, karena pucuk gunung juga daratan. Babi yang tersesat mestinya hanya seekor karena disebut ia bergaul dengan burung-burung rajawali, dan burung-burung pemangsa ini mestinya berpantang daging babi karena mangsa mengantarkan diri diterima baik-baik. Yang tak masuk akal, bagaimana babi yang tersesat ini bisa tumbuh sayapnya gara-gara bergaul dengan burung? Evolusi membutuhkan waktu puluhan ribu tahun. Apakah si babi ini juga punya ilmu rawa rontek atau aji pancasonya sehingga setiap tersentuh tanah hidup kembali?

Ambisi Yonathan untuk memadukan penjelasan ilmiah dengan ilmu kebatinan malah menjadikan Lanang tak memuaskan keduanya. Bila memang para ilmuwan antek korporasi asing dalam novel ini sudah berhasil menciptakan berbagai makhluk transgenik: burung babi hutan, nyamuk berkepala tupai, sapi berpenampilan rapi, tikus bertelinga terang, dan masih banyak lagi, tujuan-tujuan akhir mereka begitu sepele. Di satu sisi, mereka ingin memasok obat untuk industri peternakan, di sisi lain mereka ternyata menciptakan ayam berkepala tiga untuk memuaskan hasrat pecinta kepala ayam, harimau berkepala kambing untuk mencegah penganiayaan anak-anak bila harimau dilepas di tempat umum, dan keledai berkaki jerapah agar ia meningkat kemampuannya makan daun-dauan di pohon-pohon yang 6nggi.

Bila seseorang menguasai teknologi seperti itu, ia sudah menguasai dunia, karena dipastikan teknologinya bisa mencegah maupun berbagai penyakit. Atau setidak-fidaknya bikin kebun binatang ajaib macam
Jurassic Park. Ngapain pula ia mesti repot membikin bangkrut peternak sapi perah Nusantara. Apa karena korporasi ini asing? Siapa pula sesungguhnya yang disebut asing itu: Amerika Serikat, Inggris, Uganda, atau Maladewa? Soalnya, sekalipun banyak akur dalam urusan kebijakan politik luar negeri di Timur Tengah, Amerika, Uni Eropa, dan Australia bertengkar hebat kalau yang dibicaran urusan dagang barang pertanian dan peternakan. Nah, mengapa korporasi asing ini memilih Nusantara?
f
Yang mistis pun hadir tak berkesan. Adegan Lanang memanggil Burung Babi Hutan dengan cara menelan berbagai biji (biji kasih, biji sukacita, biji kesetiaan, dan masih banyak lagi) yang ia ciptakan dari potongan daging yang ditetesi susu hewan dan cairan kemaluan wanita pun konyol sekali. Bagaimana yang mistis bisa memanggil yang transgenik? Ketika Lanang dituduh sebagai biang munculnya penyakit misterius, ia mengeluarkan mantra (di antaranya ada 'Hiphop makan pikir menggelinjang'), tetapi tidak terjadi apa-apa. Lantas, untuk apa ia berkomat-kamit?

Sebetulnya, bila pretensi ilmiah ditanggalkan, Yonathan bisa lebih mudah mengolah Lanang bila ia merasa tak bisa atau tak mau menjelaskan bagaimana pembuatan makhluk-makhluk ajaib itu. la bisa menggarap novelnya dengan pendekatan komik superhero. Artinya, keajaiban yang muncul bisa diterima tanpa pembaca harus cerewet. Misalnya, Spiderman muncul setelah Peter Parker digigit laba-laba yang mengandung radio aktif; Hulk lahir setelah si ilmuwan terkena sinar Gamma; dst.

Lanang bahkan berpotensi lebih menggedor lagi bila ia menyajikan potret riil intrik industri peternakan dan kesehatan hewan di Tanah Air. Tanpa Burung Babi Hutan, persoalan yang dihadapi masyarakat sudah menjanjikan banyak bahan bukan? Satu hal lagi yang tak tergarap, dan sebetulnya bisa jadi pesan kuat adalah pengobatan tradisional terhadap hewan yang dimiliki Indonesia. Lanang sudah sedikit menyinggung hal ini. Namun, alih-alih menjadikan pengobatan tradisional ini sebagai tandingan teknologi Barat, si pengarang justru makin menyudutkannya secara tidak langsung dengan menjadikan Dukun Hewan Rajikun sebagai antek dari Doktor Dewi si antek korporasi asing.
Perayaan yang berlebihan

Kesalahan berbahasa di Lanang ternyata menular sampai pujian-pujian yang ada di dalamnya. Hal ini makin memperlihatkan betapa tak tergarapnya penyuntingan buku ini.

Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Budaya Republika, menulis:
°Cara bercerita dalam novel Lanang memperkaya khazanah susastra Indonesia, sebuah cara penceritaan yang baru, rinci, telaten, namun arahnya pasfi dan penuh kejufan.°

Terlepas komentar Ahmadun tepat atau tidak, pembaca yang kritis akan bertanya, °Bagaimana mungkin sesuatu yang arahnya pasti bisa penuh kejutan?°

Kompas menulis:
"Penyair yang dokter hewan ini dikenal dengan puisi-puisi kontekstual dan sosial. Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang."

Mengapa memakai kata kendafi bukannya dan?

Di akhir tulisan ini saya ingin bilang bahwa dengan segala kritik saya, saya menghargai usaha keras Yonathan Rahardjo. Namun, besar saja tidak cukup, tidak pernah cukup,
Jakarta, 22 Mei 2008

No comments: