Mustafa Ismail: Tentang Seks dalam Lanang

*1. Tentang Seks dalam Lanang
oleh: Mustafa Ismail
Wartawan Koran Tempo
June 1, 2008 ·

http://jalansetapak.wordpress.com/2008/06/01/tentang-seks-dalam-lanang/

Ketika saya menjadi salah satu pembicara dalam bedah novel Lanang karya Yonathan Rahardjo di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta, 28 Mei lalu, salah satu yang saya kritik adalah novel itu banyak menyajikan pergumulan cinta (Kritik soal lain bisa dibaca dalam tulisan lain di blog ini: Lanang, Susu, dan Pasar Malam Sastra). Saya bilang: pola ini mengingatkan saya pada novel-novel Nick Carter, yang saya baca diam-diam ketika sekolah dulu. Isinya, selain upaya Carter memecahkan masalah sebagai detektif, juga banyak menyuguhkan adegan percintaan dewasa.

Saya juga bilang, waktu itu, dengan pola seperti ini, kesan saya, pengarang terjebak pada “pelajaran” menulis novel dari buku “Mengarang Novel itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto. Di buku itu dijelaskan, antara lain, novel itu mengandung banyak pemanis, seperti unsur seks, dan lain-lain. Saya katakan, mestinya, pengarang sekarang tidak terlalu terkekang pada teori-teori semacam itu. Mutu karya tidak terletak pada adanya unsur-unsur itu. Toh, unsur-unsur itu bukan “rukun” mutlak yang kalau tidak ada membuat tidak sahnya novel itu.

Diskusi berjalan. Tapi, saat itu, moderator diskusi, Feby Indirani di sela-sela ia menawarkan tanggapan dan pertanyaan kepada hadirin, sempat mengatakan: memangnya kenapa kalau mirip Nick Carter? Saya tidak sempat menjawab malam itu, karena pertanyaan itu menguap begitu saja oleh pertanyaan lain dari peserta diskusi.

Sebenarnya, memang tidak salah sebuah novel atau karya sastra mirip dengan karya sastra lainnya. Terpenting apakah yang disampaikan dalam karya itu adalah ada hal-hal baru. Kebaruan dimaksud tidak hanya dalam ide, juga dalam elemen-elemen lain di dalam cerita, seperti adegan. Sebuah adegan percintaan, buat saya, bukanlah sesuatu yang baru.

Saya melihat, dalam Lanang, pengarang masih terbuka banyak kesempatan untuk mengolah imaji sehingga menemukan adegan-adegan yang lebih cerdas ketimbang terus-menerus bergumul dengan persoalan seks.

Jika pun soal seks ini tetap ingin dikedepankan, mungkin untuk menggambarkan sosok Lanang yang doyan perempuan dan berhubungan seks, tentulah bisa dipilih cara-cara yang tidak klise, yang lebih cerdas (bisa simbolik), dengan bahasa tubuh, tidak harus sampai menjelaskan secara detil adegan itu, sampai perlu dialog penegas segala. Coba simak dialog ini: “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” (Tengok di hal 167). Ini salah satu contoh saja.

Buat saya, ini model penggambaran adegan percintaan yang sungguh klise. Padahal seks bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak. Coba simak, salah satu penggambaran percintaan yang enak dibaca, dan tidak terkesan murahan:

Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.

Itu adalah petikan narasi dari cerpen Sang Penari karya Kurnia Effendi (dari buku kumpulan cerpen “Kincir Api”). Memang tidak adil membandingkan Yonathan dengan Kurnia Effendi yang sudah berkarat dan sangat berpengalaman menulis. Tapi ini hanya sebagai contoh saja bahwa seks bisa dijelaskan dengan bahasa simbolik, tidak perlu mendikte apalagi memperagakan.

Jadi, seks sah-sah saja hadir, tapi fungsinya sebagai bagian dari jalannya cerita (yang bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak) bukan sebagai “sisipan” untuk merangsang saraf-saraf purba laki-laki atau perempuan. Lagian, apa sih menariknya hal “begituan” diumbar-umbar? DEPOK, 1 JUNI 2008 PUKUL 02.12 WIB. MUS.


2. seks mempunyai kaitan erat dengan penyakit misterius, sekaligus sumber dan ”media” penyelesaiannya

oleh: Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
Guru Besar Sastra Universitas Indonesia
Ketua Dewan Juri
Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006

Pada Pengantar Novel LANANG

Banyak adegan seks dalam novel ini, bukan hanya antar manusia tetapi juga manusia dan binatang, yang disajikan secara cukup mendetil. Namun bila dilenyapkan atau dikurangi, kerangka cerita akan berubah, karena seks mempunyai kaitan erat dengan penyakit misterius, sekaligus sumber dan ”media” penyelesaiannya, selain juga kecenderungan tokoh Lanang sebagai ”lanang”. Di lain pihak, tampaknya dunia dokter (juga pakar) hewan yang sangat terobsesi masalah pembiakan, karena harus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk yang makin cepat, yang membutuhkan protein untuk kesehatan dan perkembangannya, berkaitan erat dengan seks.

syndicates // June 3, 2008 at 5:45 pm

Bung Mustafa,

Kenapa anda tidak menganggap adil membandingkan Yonathan dengan KEF. Ketidakadilan itu ada pada perbandingan yang anda buat. Kalau anda cermat dan teliti mana yang perlu diperbandingkan, tentu tidak ada ungkapan “tidak adil”.

Satu hal lagi, meskipun anda bukan dikenal sebagai kritikus sastra, dalam posisi ini anda berlaku sebagai kritikus sastra. Pada posisi ini, pengertian “kritikus” tidak mereferen ke kata “kritik” yang berarti kecaman. Akan tetapi, kalau anda merujuk ke KBBI anda akan melihat seperti di bawah ini.

kri·tik n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb;
– ekstern tahap penelitian berdasarkan liputan fisik berupa deskripsi bentuk, jenis aksara, bahan, lingkungan, dan lokasi keberadaan prasasti; — film kupasan dl media massa mengenai film yg dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dr segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yg dilandasi alasan yg logis; — intern tahap kerja yg dilakukan berdasarkan hasil liputan data lapangan, yaitu transliterasi dan transkripsi ke dl bahasa sasaran melalui analisis perbandingan dng berbagai terbitan yg ada, baik dr sumber tertulis maupun analogi epigraf; — membangun kritik yg bersifat memperbaiki; — naskah metode dl filologi yg menyelidiki naskah dr masa lampau dng tujuan menyusun kembali naskah yg dianggap asli dng cara membanding-bandingkan naskah yg termasuk dl satu jenis asal-usul, lalu menentukan naskah yg paling tinggi kadar keasliannya, kemudian mengembalikannya pd bentuk yg asli atau yg mendekati aslinya; — sastra pertimbangan baik buruk thd hasil karya sastra; — teks kritik naskah;
meng·kri·tik v mengemukakan kritik; mengecam;
peng·kri·tik n orang yg mengkritik; orang yg mengemukakan kritik

Jika demikian, kenapa tidak anda tampilkan seluruh narasi adegan seks dalam LANANG. Jelas, anda tidak memposisikan sebagai “kritikus yang obyektif”. Anda menafikan fakta yang lain untuk membangun kesan buruk, yang cenderung mengecam. Kalau anda baca buku Analisis Wacana karya Erianto, anda memang tidak obyektif… Wartawan yang tidak menjunjung tinggi obyektifitas. Kasihan sekali Tempo sekarang….


ilenk // June 4, 2008 at 7:33 am

wah…lagi-lagi sampeyan terjebak dalam pemikiran sempit. Mas Mus lupa yaa cairan yang digambarkan disitu bukankah ada hubungannya dng tindakan selanjutnya Lanang. Wah, payah, kalau sebagian besar pembaca dewasa kita masih terjebak dengan teks, padahal menurutku seks yg ada di buku Lanang tidak sevulgar yg dikawatirkan sampeyan. Banyak digambarkan disitu dengan metafora, kalau seandainya dia perjelas, itu ada konteksnya hubungannya dng alur cerita. Kalo Cak Yo dibandingkan KEF hahahahahah ya laen tenan. KEF suka menulis cerita romantis tis tis tak ada cerita thriller macam Lanang ini, jadi aneh kalo Lanang yg isinya sudah meledak ledak gini adegan seksnya kayak KEF…yg bener aja sampeyan ini mas. Setiap otak pengarang selalu lain dalam penggambaran imajinasi cerita, kita tidak bisa belajar menulis mengarang dng sama seperti guru/pengarang, karena karangan adalah hasil imajinasi otak, dan otak masing-2 orang berbeda, kalau sekedar mengikuti pola yang umum, okey, tapi untuk penggambaran walah….pengarang membeo namanya kalo gini…sumprit aq ga bakal baca bukunya….

aq suka penggambaran imajinasi pengarang itu tanpa pembatas teks..kotak..sama juga aq suka pelukis yang menggambar dengan hati…jiwa..bukan pesanan..bukan membeo…bukan ikut-ikutan….

jalansetapak // June 4, 2008 at 8:19 am

Wah, saya tepancing juga untuk menanggapi. Tapi begini saja, saya kira, sebuah pembacaan itu sah-sah saja. Mbak Ilenk (apa kabar Mbak, senang kenal Anda di Wapres itu), atau teman-teman lain yang sudah menanggapi, boleh punya pendapat lain dengan saya, begitu juga teman-teman lain. Masing-masing kita pasti punya kerangka analisis sendiri.

Saya kira, dari pada teman-teman menanggapi secara sepotong-sepotong, dan bisa menyebabkan distorsi makna dan konteks (dan distorsi itu sudah terjadi dalam beberapa komentar di atas), mendingan teman-teman membikin sebuah tinjauan panjang terhadap novel Lanang.

Saya ingin kita membangun diskusi yang enak (syukur-syukur ada kerangka analisis yang kuat) dan tidak saling mengecam. Jangan khawatir, pembaca tidak akan terpengaruh dengan tulisan saya. Pembaca cerdas kok, bisa membaca sendiri novel itu, ya seperti Anda.

Tapi baiklah, soal seks itu (di mana-mana soal ini memang lebih seru, he…he… ), saya bisa paham itu hadir dalam sebuah cerita, apalagi itu menjadi bagian tak terpisahkan cerita itu. Tapi lagi-lagi, seperti saya bilang dalam tulisan di atas (coba baca lagi deh), bagaimana “seks bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak”, tidak terkesan klise, apalagi murahan (maaf, saya tidak mendapatkan kata-kata yang lebih “adem” dari pada dua kata itu). Ini saja kok.

Dalam konteks “cairanmu” tadi, saya bisa membayangkan ada cara lain yang lebih enak untuk menuturkan persenggamaan dan prosesi pengambilan “cairan” itu oleh Lanang. Begitu pula dalam beberapa adegan “percintaan” lainnya. Tentu itu tanpa menghilangkan atau mengecilkan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang seputar “petualangan” Lanang itu.

Saya tak hendak “menjatuhkan” novel itu. Sejak awal, saya sudah katakan bahwa ide yang diusung novel ini sungguh menarik, dan jarang disentuh oleh pengarang lain. Tapi sebuah karya selalu tidak bisa lepas dari persoalan di luar ide: bagaiman ia dihadirkan secara menarik. Dari sisi ini, seperti saya pernah bilang, baik dalam diskusi di Wapres maupun dalam dua tulisan saya di blog ini, ada beberapa “lubang” yang terlupa ditutupi oleh pengarang. Saya mencoba memperlihatkan lubang-lubang itu. Maksudnya, agar di lain waktu pengarang bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Itu saja.

Kalau teman-teman tidak bisa melihat lubang itu, ya itu hasil pembacaan teman-teman, dan sah-sah saja. Salam. MUS

Dedy // June 4, 2008 at 9:05 am

Salam, Abang Mus.

Saya setuju dengan Bang Mus yang berpendapat bahwa kalimat-kalimat klise sebaiknya tidak digunakan (terlalu banyak) dalam sebuah novel. Saya yakin bahwa dalam kalimat “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” yang dimaksud oleh Bang Mus ini bukan masalah kata “cairan” tetapi pengungkapannya yang cenderung klise. “Cinta” sebagai panggilan sayang, sudah biasa. Yang agak aneh adalah kata “mengesankan” yang menjadi kata sifat untuk kata benda “cairan”. Mungkin ini yang sebenarnya dimaksud oleh Bang Mus.

Saya pernah membaca sebuah novel berjudul “Almost Adam” di sana si tokoh utama memperinci detail perilaku seksual sebangsa “kera pra manusia” di pedalaman Kongo. Tapi tidak terkesan porno dan ‘ala Nick Carter. Malah cenderung ilmiah dan psikologis penulisannya. Saya kira gaya seperti itu lebih cocok untuk novel Lanang itu.

Tapi seperti Bang Mus bilang, hasil pembacaan orang berbeda-beda dan itu sah. Kecuali jika melanggar HAM untuk memaksakan pendapat kita pada orang lain. he.he.he.

Salam

pelanggar // June 4, 2008 at 9:43 am

Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?

Kurnia Effendi menulis,

“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)

Dan Yonathan menulis,

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Bukankah sama-sama indah?

ilenk // June 4, 2008 at 9:45 am

Aloww…Mas Mus…..daku ya senang kenal sampeyan, apalagi setelah tahu garwane mbak Dyah….aq suka Sintren beliau..salam dari penggemarnya..

sebenarnya aku juga sudah buat semacam kesimpulan/resensi Lanang ini ditinjau tidak dari teks apa tatabahasa yg aq akui ada beberapa kelemahan, tapi aq berusaha membaca dalam kerangka pemikiran setiap penulis selalu ingin menyampaikan apa yanga kan dia sampaikan pada pembacanya, syukur-2 itu bermanfaat…ya kadang penulis kan bisa juga merangkap sebagai juru dakwah..dalam arti luas.

dalam novel Lanang ini, ada yg kutangkap dari penulis yg ingin disampaikan, yaitu 1) segi ilmiahnya (krn.sampai sekarang yg namanya rekayasa transgenik ini luar biasa sudah mengglobal, dan aq sendiri ada kekawatiran bahwa hasil-2nya itu nanti bisa bercampur antara yg halal dan haram (info dr teman yg bekerja di farmasi Jerman, dia bilang bisa jadi dimasa yg akan datang ada daging kambing rasa sapi..malah dengan tertawa dia juga bisa katakan daging babi rasa sapi supaya halal….byuh )
yang ke.2) pesan moral….pengarang tanpa menggurui mencoba menyampaikan pesan itu. Lanang yg hyperseks, juga perempuan-2 itu, juga ex. pendeta yg melecehkan umatnya. disitu diceritakan dengan polos…tak perlu klise karena kehidupan ini sudah polos los los….

ke 3) tentang maskulin di tubuh wanita dan feminim di tubuh lelaki.
disini terlihat bagaimana seorang Lanang yg seharusnya sejatine Lanang malah menjadi seperti wanita (aq bicara hati, ketetapan dlm mengambil sikap,dll) sedangkan Dewi yang wanita malah maskulinnya dia lebih menonjol, bahkan cenderung sadis. Di keseharian itu banyak dijumpai hal-2 seperti ini, aq seperti melihat kehidupan nyata ini.

ke 4) tentang cinta, komitmen….dalam Lanang yang namanya cinta itu seprti ditelanjangi bahwa cinta sekedar basa-basi tak ada komitmen sama sekali, kesetiaan sebagai suami istri porak poranda….dan di kehidupan sekarang ini banyak seperti itu

sebenarnya masih banyak lagi mas Mus yg aq dapatkan dng membca Lanang terlepas dari apa cetaknnya bener, apa tata bahasa baku or not…halah…itu wes urusan ahli tata bahasa dan editor…

masih ingat buku Laskar Pelangi….itu banyak logika bengkoknya, tapi tidak di gubris oleh 400.000 pembacanya dan mereka apresiat terhadap ada pesan yg disampaikan dibalik cerita karangan tersebut.

nah aqpun demikian ketika membaca…apapun buku yg kubaca…mau cerita runut mau kocar kacir..mau mbluet kaya Milan Kumdera..atau mas SGA..atau runut kayak mbah Dyah…mas Kef…as the same…harus ada pesan yang disampaikan..

wah, ajakan diskusi aq tidak menolak, seperti kata alm. HB Yasin..setiap kita mengkritik harus ada juga memuji…positif negatif kudu balance…dan aq pribadi sangat menghargai atas jerih payah semua penulis…mau baru menulis apa mau udah karatan menulis..karena dengan menulis sudah membantu menyampaikan pesan Ilahi pada masyarakat banyak berupa pembelajaran tentang kehidupan..

monggo mas…hehehehe diskusi sambil makan pisgor karo ngupi…halahhh..

pelanggar // June 4, 2008 at 10:43 am

Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?

Kurnia Effendi menulis,

“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)

Dan Yonathan menulis,

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Bukankah sama-sama indah?

jalansetapak // June 4, 2008 at 11:33 am

Wah, seandainya Anda ikut memberi masukan penyuntingan terhadap novel ini, tentulah akan lebih bagus hasilnya. Saya sepakat narasi di atas memang lumayan bagus menggambarkan suasana. Dan Anda sudah mengeditnya kan?

Ada kata-kata yang Anda hilangkan di bagian “titik-titik” ( … ) itu, yakni:
Rofiqoh mendesis ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Dst. (Wah, orang makin penasaran pingin baca novel ini nih, he…he… )

Di balik sejumlah kekurangan itu, seperti saya katakan ketika bedah novel itu, memang: pertama, pengarangnya tidak melakukan “pembacaan ulang” terhadap novel itu sebelum diterbitkan. Pembacaan ulang dimaksud ya melakukan penyempurnaan isi, editing, perbaikan bahasa jika ada yang kata-kata yang berpanjang-panjangan dan bertele-tele, dan seterusnya. Pembacaan ulang ini seperti pekerjaan seorang editor, bedanya ini dilakukan pengarangnya sendiri dan kewenanganya sangat luas, termasuk menambahkan dan mengurangi bagian-bagian yang tidak perlu atau dirasakan kurang asyik.

Kedua, ini juga saya sebutkan ketika diskusi itu, fungsi editor di sini juga tidak maksimal. (lihat lagi tulisan saya: “Lanang, Susu, dan Pasar Malam Sastra”). Salam. MUS

pelanggar // June 4, 2008 at 1:07 pm

Hehehe… Mas Mus… rupanya makin menarik diskusi ini…

Penghilangan dengan “titik-titik” (… sebenarnya lebih karena saya mengurangi energi untuk mengetik ulangnya saja. Akan tetapi, baiklah, saya akan mengetik lebih lengkap terhadap bagian yang telah saya hilangkan itu.

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan.
Hasrat masih terjaga. Harus ada cara.
Berhasil!
Rafiqoh mendesis, ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Aktivitas di atas padang tempat tidur itu kembali menjadi penuh gelora dengan gerakan tak tertahankan sekalipun caranya begitu berbeda.
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Nah, sudah saya bayar. Lengkaplah narasi itu. Sebab, saya merasa tidak punya hak untuk mengeditnya. Dan maksud saya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa mas Mus kurang proporsional dalam menyandingkan narasi yang dibuat oleh Yonathan dengan narasi yang buat oleh Kurnia Efendi. Tidak lebih. Sebagaimana yang saya bilang, “ya mesti beda, to mas… memang indah… coba dibaca lagi, mas… ada juga lo.. yang indah.. mungkin keselip, waktu bacanya…”

Begitu saja, mas Mus… senang berdiskusi dengan sampeyan…

pelanggar // June 4, 2008 at 1:24 pm

O, ya. Ada yang ketinggalan. Saya menghargai tindakan Yonathan dalam hal tidak mengedit Novel Lanang ini. Kenapa? Saya cenderung menafsirkan bahwa Yonathan tidak ingin mengubah terhadap karya yang telah dimenangkan oleh Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2006 itu. Dalam bahasa lain, “Ini lo novel yang menang itu.” Jadi, Yonathan tidak membohongi publik. Apalagi, ada beberapa kelompok sastrawan yang cenderung untuk tidak mau mengedit karya sastra, dikarenakan sastra adalah ungkapan spontan. Mungkin Yonathan memegang teguh pandangan itu. Dan siapapun yang mempunyai keyakinan tertentu, tentu, kita menghargainya, bukan? (Biar tidak seperti FPI yang memaksakan keyakinannya untuk diikuti oleh semua orang).

By the way, Lanang, bagi saya, menjadi salah satu bagian dari khazanah sastra Indonesia, yang mungkin mempunyai gaya pengucapan novel yang berbeda dengan gaya pengucapan novel Indonesia umumnya sebelumnya. Meskipun orang lain menganggap karya Novel Lanang ini adalah pelanggar. hehehehe.. saya jadi ingat analisa Ignas Kleden terhadap karya Sutardji Calzoum Bachri yang dianggap sengaja melakukan pelanggaran kaidah bahasa Indonesia, karena ingin menuangkan betapa bangsa Indonesia suka melakukan pelanggaran. Hahahahaha….

Okay, mas Mus..
salam pelanggar
di mana ada hukum, di sana ada pelanggar.

syndicates // June 4, 2008 at 6:18 pm
HA HA HA HA
Bung Mustafa Ismail dan sidang pembaca sekalian…
Kita sekarang sudah melihat dengan nyata. Bung Mustafa Ismail ternyata memang editor handal. Komentarku pun dieditnya sesuai dengan kepentingannya sendiri. Fakta dihilangkan untuk membuat kesan tertentu sesuai dengan kepentingan sang editor, bukan kepentingan penulis. Dari diskusi yang panjang ini, bung mustafa juga tampak jelas bukan orang yang obyektif. tidak menjunjung tinggi fakta setinggi-tingginya sebagaimana motto seorang jurnalis. Dari salah satu tampilan yang disajikan oleh pelanggar menunjukkan anda memang tidak bisa membandingkan satu hal dengan hal lain secara berkesesuaian.
Bung Mustafa, ayo kita ubah cara pandang kritik sastra sebagai upaya pembantaian, pengecaman, penjelek-jelekan, dan segala tindakan yang tidak obyektif. Mari kita selamatkan tradisi kritik sastra yang tidak sehat. Tunjukkan kalau anda memang orang yang benar-benar obyektif dalam memberikan penilaian.

jalansetapak // June 4, 2008 at 7:24 pm

Bung Syndicates, saya kira cara Anda berbicara sudah tidak sehat. Bahkan, dalam tulisan Anda sebelumnya, Anda menyebut-nyebut tempat saya bekerja (bagian itu telah saya hilangkan). Itu tidak ada hubungannya dengan diskusi tentang Lanang. Selanjutnya, saya tidak akan menanggapi lagi omongan Anda. Saya berharap sebuah diskusi yang sehat dan mencerahkan. Jika bagi Anda Lanang banyak kelebihan, yang mesti Anda lakukan adalah menggali kelebihan-kelebihan itu. Jadi, dari pada marah-marah, mendingan Anda buat sebuah tinjauan panjang tentang Lanang. Itu jauh lebih positif. Salam. MUS

Pembaca Novel Lanang // June 3, 2008 at 12:30 am

Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
Guru Besar Sastra Universitas Indonesia
Ketua Dewan Juri
Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006

mengatakan:

Banyak adegan seks dalam novel ini, bukan hanya antar manusia tetapi juga manusia dan binatang, yang disajikan secara cukup mendetil. Namun bila dilenyapkan atau dikurangi, kerangka cerita akan berubah, karena seks mempunyai kaitan erat dengan penyakit misterius, sekaligus sumber dan ”media” penyelesaiannya, selain juga kecenderungan tokoh Lanang sebagai ”lanang”. Di lain pihak, tampaknya dunia dokter (juga pakar) hewan yang sangat terobsesi masalah pembiakan, karena harus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk yang makin cepat, yang membutuhkan protein untuk kesehatan dan perkembangannya, berkaitan erat dengan seks.
pelanggar // June 3, 2008 at 4:33 pm

hehehehehe…

“Coba simak dialog ini: “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” (Tengok di hal 167). ” dibandingkan dengan “Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.”

ya mesti beda, to mas… memang indah… coba dibaca lagi, mas… ada juga lo.. yang indah.. mungkin keselip, waktu bacanya…

di samping itu, kepentingan untuk mengungkapkan kata “cairan” tentu tidak tanpa maksud, bukan? karena di akhir-akhir cerita, “cairan” itu punya kepentingan tersendiri, yang bukan sekadar untuk mengumbar “nafsu basah”…

Beberapa adegan seks dalam cerita ini juga tampaknya bukan untuk sekadar klise, membubuhi, novel ini seperti halnya kisah porno, bukan? Akan tetapi adegan seks di sini juga menjadi bagian dari pemecahan persoalan yang dihadapi lanang, kan?

hehehehe…

aku juga sedang membaca, mas… hehehehe…
syndicates // June 3, 2008 at 5:45 pm

Bung Mustafa,

Kenapa anda tidak menganggap adil membandingkan Yonathan dengan KEF. Ketidakadilan itu ada pada perbandingan yang anda buat. Kalau anda cermat dan teliti mana yang perlu diperbandingkan, tentu tidak ada ungkapan “tidak adil”.

Satu hal lagi, meskipun anda bukan dikenal sebagai kritikus sastra, dalam posisi ini anda berlaku sebagai kritikus sastra. Pada posisi ini, pengertian “kritikus” tidak mereferen ke kata “kritik” yang berarti kecaman. Akan tetapi, kalau anda merujuk ke KBBI anda akan melihat seperti di bawah ini.

kri·tik n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb;
– ekstern tahap penelitian berdasarkan liputan fisik berupa deskripsi bentuk, jenis aksara, bahan, lingkungan, dan lokasi keberadaan prasasti; — film kupasan dl media massa mengenai film yg dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dr segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yg dilandasi alasan yg logis; — intern tahap kerja yg dilakukan berdasarkan hasil liputan data lapangan, yaitu transliterasi dan transkripsi ke dl bahasa sasaran melalui analisis perbandingan dng berbagai terbitan yg ada, baik dr sumber tertulis maupun analogi epigraf; — membangun kritik yg bersifat memperbaiki; — naskah metode dl filologi yg menyelidiki naskah dr masa lampau dng tujuan menyusun kembali naskah yg dianggap asli dng cara membanding-bandingkan naskah yg termasuk dl satu jenis asal-usul, lalu menentukan naskah yg paling tinggi kadar keasliannya, kemudian mengembalikannya pd bentuk yg asli atau yg mendekati aslinya; — sastra pertimbangan baik buruk thd hasil karya sastra; — teks kritik naskah;
meng·kri·tik v mengemukakan kritik; mengecam;
peng·kri·tik n orang yg mengkritik; orang yg mengemukakan kritik

Jika demikian, kenapa tidak anda tampilkan seluruh narasi adegan seks dalam LANANG. Jelas, anda tidak memposisikan sebagai “kritikus yang obyektif”. Anda menafikan fakta yang lain untuk membangun kesan buruk, yang cenderung mengecam.
ilenk // June 4, 2008 at 7:33 am

wah…lagi-lagi sampeyan terjebak dalam pemikiran sempit. Mas Mus lupa yaa cairan yang digambarkan disitu bukankah ada hubungannya dng tindakan selanjutnya Lanang. Wah, payah, kalau sebagian besar pembaca dewasa kita masih terjebak dengan teks, padahal menurutku seks yg ada di buku Lanang tidak sevulgar yg dikawatirkan sampeyan. Banyak digambarkan disitu dengan metafora, kalau seandainya dia perjelas, itu ada konteksnya hubungannya dng alur cerita. Kalo Cak Yo dibandingkan KEF hahahahahah ya laen tenan. KEF suka menulis cerita romantis tis tis tak ada cerita thriller macam Lanang ini, jadi aneh kalo Lanang yg isinya sudah meledak ledak gini adegan seksnya kayak KEF…yg bener aja sampeyan ini mas. Setiap otak pengarang selalu lain dalam penggambaran imajinasi cerita, kita tidak bisa belajar menulis mengarang dng sama seperti guru/pengarang, karena karangan adalah hasil imajinasi otak, dan otak masing-2 orang berbeda, kalau sekedar mengikuti pola yang umum, okey, tapi untuk penggambaran walah….pengarang membeo namanya kalo gini…sumprit aq ga bakal baca bukunya….

aq suka penggambaran imajinasi pengarang itu tanpa pembatas teks..kotak..sama juga aq suka pelukis yang menggambar dengan hati…jiwa..bukan pesanan..bukan membeo…bukan ikut-ikutan….
jalansetapak // June 4, 2008 at 8:19 am

Wah, saya tepancing juga untuk menanggapi. Tapi begini saja, saya kira, sebuah pembacaan itu sah-sah saja. Mbak Ilenk (apa kabar Mbak, senang kenal Anda di Wapres itu), atau teman-teman lain yang sudah menanggapi, boleh punya pendapat lain dengan saya, begitu juga teman-teman lain. Masing-masing kita pasti punya kerangka analisis sendiri.

Saya kira, dari pada teman-teman menanggapi secara sepotong-sepotong, dan bisa menyebabkan distorsi makna dan konteks (dan distorsi itu sudah terjadi dalam beberapa komentar di atas), mendingan teman-teman membikin sebuah tinjauan panjang terhadap novel Lanang.

Saya ingin kita membangun diskusi yang enak (syukur-syukur ada kerangka analisis yang kuat) dan tidak saling mengecam. Jangan khawatir, pembaca tidak akan terpengaruh dengan tulisan saya. Pembaca cerdas kok, bisa membaca sendiri novel itu, ya seperti Anda.

Tapi baiklah, soal seks itu (di mana-mana soal ini memang lebih seru, he…he… ), saya bisa paham itu hadir dalam sebuah cerita, apalagi itu menjadi bagian tak terpisahkan cerita itu. Tapi lagi-lagi, seperti saya bilang dalam tulisan di atas (coba baca lagi deh), bagaimana “seks bisa dinarasikan dengan bahasa yang enak”, tidak terkesan klise, apalagi murahan (maaf, saya tidak mendapatkan kata-kata yang lebih “adem” dari pada dua kata itu). Ini saja kok.

Dalam konteks “cairanmu” tadi, saya bisa membayangkan ada cara lain yang lebih enak untuk menuturkan persenggamaan dan prosesi pengambilan “cairan” itu oleh Lanang. Begitu pula dalam beberapa adegan “percintaan” lainnya. Tentu itu tanpa menghilangkan atau mengecilkan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang seputar “petualangan” Lanang itu.

Saya tak hendak “menjatuhkan” novel itu. Sejak awal, saya sudah katakan bahwa ide yang diusung novel ini sungguh menarik, dan jarang disentuh oleh pengarang lain. Tapi sebuah karya selalu tidak bisa lepas dari persoalan di luar ide: bagaiman ia dihadirkan secara menarik. Dari sisi ini, seperti saya pernah bilang, baik dalam diskusi di Wapres maupun dalam dua tulisan saya di blog ini, ada beberapa “lubang” yang terlupa ditutupi oleh pengarang. Saya mencoba memperlihatkan lubang-lubang itu. Maksudnya, agar di lain waktu pengarang bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Itu saja.

Kalau teman-teman tidak bisa melihat lubang itu, ya itu hasil pembacaan teman-teman, dan sah-sah saja. Salam. MUS
Dedy // June 4, 2008 at 9:05 am

Salam, Abang Mus.

Saya setuju dengan Bang Mus yang berpendapat bahwa kalimat-kalimat klise sebaiknya tidak digunakan (terlalu banyak) dalam sebuah novel. Saya yakin bahwa dalam kalimat “Dewi…cinta. Basah cairanmu sungguh mengesankan….” yang dimaksud oleh Bang Mus ini bukan masalah kata “cairan” tetapi pengungkapannya yang cenderung klise. “Cinta” sebagai panggilan sayang, sudah biasa. Yang agak aneh adalah kata “mengesankan” yang menjadi kata sifat untuk kata benda “cairan”. Mungkin ini yang sebenarnya dimaksud oleh Bang Mus.

Saya pernah membaca sebuah novel berjudul “Almost Adam” di sana si tokoh utama memperinci detail perilaku seksual sebangsa “kera pra manusia” di pedalaman Kongo. Tapi tidak terkesan porno dan ‘ala Nick Carter. Malah cenderung ilmiah dan psikologis penulisannya. Saya kira gaya seperti itu lebih cocok untuk novel Lanang itu.

Tapi seperti Bang Mus bilang, hasil pembacaan orang berbeda-beda dan itu sah. Kecuali jika melanggar HAM untuk memaksakan pendapat kita pada orang lain. he.he.he.

Salam
pelanggar // June 4, 2008 at 9:43 am

Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?

Kurnia Effendi menulis,

“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)

Dan Yonathan menulis,

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Bukankah sama-sama indah?
ilenk // June 4, 2008 at 9:45 am

Aloww…Mas Mus…..daku ya senang kenal sampeyan, apalagi setelah tahu garwane mbak Dyah….aq suka Sintren beliau..salam dari penggemarnya..

sebenarnya aku juga sudah buat semacam kesimpulan/resensi Lanang ini ditinjau tidak dari teks apa tatabahasa yg aq akui ada beberapa kelemahan, tapi aq berusaha membaca dalam kerangka pemikiran setiap penulis selalu ingin menyampaikan apa yanga kan dia sampaikan pada pembacanya, syukur-2 itu bermanfaat…ya kadang penulis kan bisa juga merangkap sebagai juru dakwah..dalam arti luas.

dalam novel Lanang ini, ada yg kutangkap dari penulis yg ingin disampaikan, yaitu 1) segi ilmiahnya (krn.sampai sekarang yg namanya rekayasa transgenik ini luar biasa sudah mengglobal, dan aq sendiri ada kekawatiran bahwa hasil-2nya itu nanti bisa bercampur antara yg halal dan haram (info dr teman yg bekerja di farmasi Jerman, dia bilang bisa jadi dimasa yg akan datang ada daging kambing rasa sapi..malah dengan tertawa dia juga bisa katakan daging babi rasa sapi supaya halal….byuh )
yang ke.2) pesan moral….pengarang tanpa menggurui mencoba menyampaikan pesan itu. Lanang yg hyperseks, juga perempuan-2 itu, juga ex. pendeta yg melecehkan umatnya. disitu diceritakan dengan polos…tak perlu klise karena kehidupan ini sudah polos los los….

ke 3) tentang maskulin di tubuh wanita dan feminim di tubuh lelaki.
disini terlihat bagaimana seorang Lanang yg seharusnya sejatine Lanang malah menjadi seperti wanita (aq bicara hati, ketetapan dlm mengambil sikap,dll) sedangkan Dewi yang wanita malah maskulinnya dia lebih menonjol, bahkan cenderung sadis. Di keseharian itu banyak dijumpai hal-2 seperti ini, aq seperti melihat kehidupan nyata ini.

ke 4) tentang cinta, komitmen….dalam Lanang yang namanya cinta itu seprti ditelanjangi bahwa cinta sekedar basa-basi tak ada komitmen sama sekali, kesetiaan sebagai suami istri porak poranda….dan di kehidupan sekarang ini banyak seperti itu

sebenarnya masih banyak lagi mas Mus yg aq dapatkan dng membca Lanang terlepas dari apa cetaknnya bener, apa tata bahasa baku or not…halah…itu wes urusan ahli tata bahasa dan editor…

masih ingat buku Laskar Pelangi….itu banyak logika bengkoknya, tapi tidak di gubris oleh 400.000 pembacanya dan mereka apresiat terhadap ada pesan yg disampaikan dibalik cerita karangan tersebut.

nah aqpun demikian ketika membaca…apapun buku yg kubaca…mau cerita runut mau kocar kacir..mau mbluet kaya Milan Kumdera..atau mas SGA..atau runut kayak mbah Dyah…mas Kef…as the same…harus ada pesan yang disampaikan..

wah, ajakan diskusi aq tidak menolak, seperti kata alm. HB Yasin..setiap kita mengkritik harus ada juga memuji…positif negatif kudu balance…dan aq pribadi sangat menghargai atas jerih payah semua penulis…mau baru menulis apa mau udah karatan menulis..karena dengan menulis sudah membantu menyampaikan pesan Ilahi pada masyarakat banyak berupa pembelajaran tentang kehidupan..

monggo mas…hehehehe diskusi sambil makan pisgor karo ngupi…halahhh..
pelanggar // June 4, 2008 at 10:43 am

Mas Mus, kalau perbandingan tulisan Kurnia Effendi dan Yonathan dalam agenda seks itu seperti ini di bawah ini, kira-kira pendapat Mas Mus bagaimana?

Kurnia Effendi menulis,

“Aku mencium mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Dua kancing bajuku lepas oleh hentakan tangannya. Kudengar detasnya meluncur ke bahwa meja televisi. Rambutnya yang basah hinggap ke wajahku. Entah siapa yang lebih dulu tersengal, tapi sebagaimana keinginanku: Parastuti menari di atas tubuhku. Sepuluh menit kemudian pipinya direbahkan ke dadaku, telinganya mencoba mendengar proses degup jantung yang mereda.” (Kurnia Effendi)

Dan Yonathan menulis,

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan…
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Bukankah sama-sama indah?
jalansetapak // June 4, 2008 at 11:33 am

Wah, seandainya Anda ikut memberi masukan penyuntingan terhadap novel ini, tentulah akan lebih bagus hasilnya. Saya sepakat narasi di atas memang lumayan bagus menggambarkan suasana. Dan Anda sudah mengeditnya kan?

Ada kata-kata yang Anda hilangkan di bagian “titik-titik” ( … ) itu, yakni:
Rofiqoh mendesis ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Dst. (Wah, orang makin penasaran pingin baca novel ini nih, he…he… )

Di balik sejumlah kekurangan itu, seperti saya katakan ketika bedah novel itu, memang: pertama, pengarangnya tidak melakukan “pembacaan ulang” terhadap novel itu sebelum diterbitkan. Pembacaan ulang dimaksud ya melakukan penyempurnaan isi, editing, perbaikan bahasa jika ada yang kata-kata yang berpanjang-panjangan dan bertele-tele, dan seterusnya. Pembacaan ulang ini seperti pekerjaan seorang editor, bedanya ini dilakukan pengarangnya sendiri dan kewenanganya sangat luas, termasuk menambahkan dan mengurangi bagian-bagian yang tidak perlu atau dirasakan kurang asyik.

Kedua, ini juga saya sebutkan ketika diskusi itu, fungsi editor di sini juga tidak maksimal. (lihat lagi tulisan saya: “Lanang, Susu, dan Pasar Malam Sastra”). Salam. MUS
pelanggar // June 4, 2008 at 1:07 pm

Hehehe… Mas Mus… rupanya makin menarik diskusi ini…

Penghilangan dengan “titik-titik” (… sebenarnya lebih karena saya mengurangi energi untuk mengetik ulangnya saja. Akan tetapi, baiklah, saya akan mengetik lebih lengkap terhadap bagian yang telah saya hilangkan itu.

“Mereka masuk kamar.
Kain seprei yang semula rata dengan muda tiba-tiba menjadi bergelombang. Gelombang-gelombang itu bahkan bergetar laksana lipatan padang pasir terempas gunung-gunung yang roboh.
Langit kelam dalam ruang kamar tiada dapat menghambat aktivitas tersembunyi dua manusia berbeda jenis kelamin, yang terlucuti satu demi satu pakaian kesehariannya.
Namun, begitu cepat aktivitas itu kandas tatkala seluruh organ tubuh tak lagi ada pembatas dan saling bersentuhan.
Hasrat masih terjaga. Harus ada cara.
Berhasil!
Rafiqoh mendesis, ketika jari Lanang menyentuh organnya yang paling tersembunyi.
Aktivitas di atas padang tempat tidur itu kembali menjadi penuh gelora dengan gerakan tak tertahankan sekalipun caranya begitu berbeda.
Puncaknya, padang kain seprei yang bergetar dalam gelombang tiba-tiba basah dialiri sungai dengan sumber begitu meluap-luap. Lalu diam.
Afi lemas. Tapi puas. Walau, hatinya melayang-layang bagai kapas ditiup angin malam.” (Lanang: 117)

Nah, sudah saya bayar. Lengkaplah narasi itu. Sebab, saya merasa tidak punya hak untuk mengeditnya. Dan maksud saya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa mas Mus kurang proporsional dalam menyandingkan narasi yang dibuat oleh Yonathan dengan narasi yang buat oleh Kurnia Efendi. Tidak lebih. Sebagaimana yang saya bilang, “ya mesti beda, to mas… memang indah… coba dibaca lagi, mas… ada juga lo.. yang indah.. mungkin keselip, waktu bacanya…”

Begitu saja, mas Mus… senang berdiskusi dengan sampeyan…
pelanggar // June 4, 2008 at 1:24 pm

O, ya. Ada yang ketinggalan. Saya menghargai tindakan Yonathan dalam hal tidak mengedit Novel Lanang ini. Kenapa? Saya cenderung menafsirkan bahwa Yonathan tidak ingin mengubah terhadap karya yang telah dimenangkan oleh Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2006 itu. Dalam bahasa lain, “Ini lo novel yang menang itu.” Jadi, Yonathan tidak membohongi publik. Apalagi, ada beberapa kelompok sastrawan yang cenderung untuk tidak mau mengedit karya sastra, dikarenakan sastra adalah ungkapan spontan. Mungkin Yonathan memegang teguh pandangan itu. Dan siapapun yang mempunyai keyakinan tertentu, tentu, kita menghargainya, bukan? (Biar tidak seperti FPI yang memaksakan keyakinannya untuk diikuti oleh semua orang).

By the way, Lanang, bagi saya, menjadi salah satu bagian dari khazanah sastra Indonesia, yang mungkin mempunyai gaya pengucapan novel yang berbeda dengan gaya pengucapan novel Indonesia umumnya sebelumnya. Meskipun orang lain menganggap karya Novel Lanang ini adalah pelanggar. hehehehe.. saya jadi ingat analisa Ignas Kleden terhadap karya Sutardji Calzoum Bachri yang dianggap sengaja melakukan pelanggaran kaidah bahasa Indonesia, karena ingin menuangkan betapa bangsa Indonesia suka melakukan pelanggaran. Hahahahaha….

Okay, mas Mus..
salam pelanggar
di mana ada hukum, di sana ada pelanggar.
syndicates // June 4, 2008 at 6:18 pm

HA HA HA HA
Bung Mustafa Ismail dan sidang pembaca sekalian…

Kita sekarang sudah melihat dengan nyata. Bung Mustafa Ismail ternyata memang editor handal. Komentarku pun dieditnya sesuai dengan kepentingannya sendiri. Fakta dihilangkan untuk membuat kesan tertentu sesuai dengan kepentingan sang editor, bukan kepentingan penulis. Dari diskusi yang panjang ini, bung mustafa juga tampak jelas bukan orang yang obyektif. tidak menjunjung tinggi fakta setinggi-tingginya sebagaimana motto seorang jurnalis. Dari salah satu tampilan yang disajikan oleh pelanggar menunjukkan anda memang tidak bisa membandingkan satu hal dengan hal lain secara berkesesuaian.

Bung Mustafa, ayo kita ubah cara pandang kritik sastra sebagai upaya pembantaian, pengecaman, penjelek-jelekan, dan segala tindakan yang tidak obyektif. Mari kita selamatkan tradisi kritik sastra yang tidak sehat. Tunjukkan kalau anda memang orang yang benar-benar obyektif dalam memberikan penilaian.

jalansetapak // June 4, 2008 at 7:24 pm

Bung Syndicates, saya kira cara Anda berbicara sudah tidak sehat. Bahkan, dalam tulisan Anda sebelumnya, Anda menyebut-nyebut tempat saya bekerja (bagian itu telah saya hilangkan). Itu tidak ada hubungannya dengan diskusi tentang Lanang. Selanjutnya, saya tidak akan menanggapi lagi omongan Anda. Saya berharap sebuah diskusi yang sehat dan mencerahkan. Jika bagi Anda Lanang banyak kelebihan, yang mesti Anda lakukan adalah menggali kelebihan-kelebihan itu. Jadi, dari pada marah-marah, mendingan Anda buat sebuah tinjauan panjang tentang Lanang. Itu jauh lebih positif. Salam. MUS

Pengelola Blog // June 6, 2008 at 9:19 am

MAKLUMAT

Kawan-kawan, terima kasih Anda telah ikut menikmati diskusi tentang Novel Lanang. Namun, buat teman-teman yang ingin memberi komentar, saya mempermaklumkan untuk selalu mengacu pada teks novel itu, bukan pada orang yang memberi pendapat terhadap novel itu. Ulaslah novel itu menurut pembacaan Anda, kelebihan dan kekurangannya. Komentar yang keluar dari fokus pembicaraan, apalagi bernada menghujat dan mencerca pihak lain yang memberi komentar, akan segera dihapus dari blog ini. Ini demi terciptanya diskusi yang sehat dan mencerahkan.

No comments: