Pages

Search Here

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Yusuf Amin Nugroho: Sejarah Munculnya Fiksi Sains di Indonesia


Sejarah Munculnya Fiksi Sains di Indonesia

Writen By: Yusuf Amin Nugroho On 7/20/2012
http://www.tintaguru.com/2012/07/sejarah-munculnya-fiksi-sains-di.html


Nyoman Tusthi Eddy pernah menyatakan bahwa sastra Indonesia belum memiliki fiksi ilmiah. Menurutnya, para penulis fiksi Indonesia belum ada yang memiliki dua faktor yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya fiksi sains, yakni “terampil sekaligus berselera tinggi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi” dan “kebebasan berpikir.” (Suara Karya, 28-2-2009). Pendapat tersebut, menurut saya terkesan terburu-buru dan tidak berdasar. Tusthi seakan tidak mau melihat perkembangan sastra Tanah Air, mengingat ketika tulisan tersebut diterbitkan, kesusasteraan Indonesia sudah melahirkan beberapa fiksi ilmiah.
Meskipun di negeri ini fiksi ilmiah atau sains masih belum tumbuh sebagaimana genre prosa fiksi yang lain, tetapi kehadirannya telah banyak memberikan warna baru pada khasanah kesusasteraan kita. Kemunculan fiksi sains di Indonesia telah diteliti oleh M.V. Wresti Budiaju A.P dalam penelitian berjudul Kajian Perkembangan Fiksi Ilmiah Anak dan Remaja Karya Pengarang Indonesia 1968–1991. Penelitian tersebut menyatakan bahwa fiksi sains yang muncul pertama kali di Indonesia adalah karya Djokolelono dengan judul Jatuh ke Matahari yang telah terbit tahun 1976. (Maulana, 2010: 30) Tidak heran jika kemudian Djokolelono dikenal sebagai Master Fiksi Ilmiah Indonesia.
Namun demikian gaung mengenai fiksi sains di Indonesia baru terdengar sejak lahirnya novel Supernovakarya Dee (Dewi Lestari) yang terbit pada tahun 2001. Sebelum Dee menulis Supernova, sebenarnya sudah ada seorang penulis muda yang begitu gigih membuahkan fiksi sains, yakni Eliza V. Handayani. Eliza mengaku telah menulis naskah dengan judul Area X: Hymne Angkasa Raya pada tahun 1998 ketika dia masih duduk di Sekolah Menengah Atas. Naskah tersebut memenangi Lomba Penulisan Naskah Film/televisi pada tahun 1999, dan kemudian baru diterbitkan dalam bentuk novel pada tahun 2003.
Selain karya-karya tersebut masih ada beberapa prosa fiksi sains lain karya anak negeri. Ada novel Anomali(2004) karya Santopay yang banyak memuat konsep-konsep fisika. Ada pula novel Laskar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata yang ditulis dengan gaya saintifik dan banyak mengekplorasi istilah-istilah sains. Novel Lanang, Yonathan Rahardjo (2006) yang bercerita tentang virus yang diakibaktkan hasil rekayasa transgenik; dan novel ORB karya Galang Lutfiyanto yang mencoba menggabungkan sains dan mistikisme juga digolongkan dalam fiksi sains.
Untuk mempertegas bahwa fiksi sains di Indonesia sudah banyak bermunculan mungkin perlu dideretkan lebih banyak lagi contoh: Quantum Leap (2008) karya Bimo dan Gerry Nimpuno, Lesti, Nyatakah Dia? (2006) karya Soehario Padmodiwirio, Chimera (2008) karya Donny Anggoro, Seribu Tahun Cahaya (2009) karya Mad Soleh, dan banyak karya fiksi sains lain yang kurang terekspos ke publik.
Sependapat dengan Sandya Maulana (2010: 33) fiksi sains di Indonesia memang masih berada dalam fase yang sangat awal, belum tiba pada pengertian bahwa sains yang terdapat dalam fiksi sains murni bersifat spekulatif dan keakuratannya terbuka untuk dipertanyakan. Pengkajian fiksi sains di Indonesiapun mesti perlu diperluas untuk melihat fiksi sains sebagai karya yang memiliki potensi kritis dan dapat berfungsi sebagai cermin tempat berkacanya dunia nyata.
Apa pun itu, kenyataan bahwa fiksi sains telah mendapat ruang dan penggemar di Indonesia merupakan hal yang baik. Supernova, misalnya, merupakan karya pertama Dee dan langsung meledak di pasaran. Demikian pula Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan Area-Xkarya Eliza V. Handayani banyak mendapatkan apreasiasi dari kalangan pembaca dan kritikus sastra.
Komunitas penggemar dan penulis fiksi sains di Indonesia juga telah terbentuk. Di internet kita dapat berselancar dan menemukan beberapa blog dan group penggemar dan penulis fiksi sains. Salah satunya komunitas Indo-Star Trek yang profilnya telah dimuat di berbagai koran dan majalah. Komunitas Star-Trek Indo ini terlihat unik dan bergairah. Komunitas yang berdiri secara formal tahun 2006 ini telah memiliki website, mailing list, juga forum dan grup di situs jejaring sosial Facebook. Anggota Indo-Star Trek bahkan sudah mencapai lebih 500 orang. Kegiatannya mencakup diskusi sains, pembuatan kostum, wargames, pameran di World Book Day, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Pada tahun 2012 Indo-Star Trek bahkan mengadakan lomba penulisan cerpen bergenre fiksi sains yang memotivasi publik sastra untuk meramaikan fiksi sains tanah air.
Untuk melengkapi pembahasan mengenai fiksi sains di Indonesia penting pula untuk dihadirkan ringkasan dan ulasan karya fiksi sains di sini. Tujuannya adalah, pertama, pembaca akan memperoleh pemahaman yang lebih luas melalui ringkasan kisah dan ulasan karya fiksi sains; kedua, memberikan semacam panduan bagi pecinta sastra, khususnya pelajar yang ingin menekuni fiksi sains; ketiga, menarik minat masyarakat khususnya generasi muda untuk mencintai sastra, dalam hal ini fiksi sains; dan keempat, menimbulkan sikap cinta Tanah Air.

Tommy M J Sihotang: Novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif

http://pakkatnews.com/menguak-tabir-hegemoni-prostitusi-intelektual-interpretasi-novel-lanang.html

Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ (Interpretasi Novel Lanang)

( Resensi Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)
Oleh : Chris Poerba
Publikasi : Tommy M J  Sihotang
”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”
( Roberth Imam )
Jurgen Habermas dari Mazhab Frankfurt Jerman, dengan pendekatan rasio komunikatif menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Antonio Gramsci juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini dan tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial yang diwahyukan Karl Marx sulit akan tercapai.
Gramsci yang juga pernah mengalami kegelisahan karena tidak hadirnya revolusi sosial di Italia dan pernah dipenjara saat Fassisme Mussolini, menambahkan bahwa revolusi tidak terjadi karena bourjuis atau pemilik sumber daya dan penguasa sudah tidak lagi menggunakan alat-alat negara seperti dengan militerisme (dominasi = hardpower) tapi menggantikannya dengan cara-cara yang lebih halus (hegemoni = softpower). Sehingga telah dirubahnya cara-cara mencapai kekuasaan. Dari sebelumnya dengan Dominasi yang memperoleh kekuasaan dengan pendekatan kekerasan baik dengan anarkhisme maupun vandalisme, telah dirubah dengan pendekatan Hegemoni dengan memperoleh kekuasaan melalui kesepakatan atau persetujuan. Bourjuis tentunya jelas memiliki kekhawatiran bila terus-menerus melakukan dominasi totalitarianisme maka akan mendapat perlawanan secara terbuka pula sehingga mekanisme dilakukan dengan cara-cara hegemoni. Dominasi menjadi tersamarkan meskipun sangat nyata dalam keseharian.
Dunia ’kapitalisme tingkat lanjut’ atau dominasi yang disamarkan oleh penguasa ini jelas masih dalam logika ekonomi pasar. Sehingga hegemoni dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, adalah sosialisasi ide-ide dan pencitraan dari bourjuis kepada proletar supaya proletar dapat mengembangkan dirinya sedikit menyerupai bourjuis. Padahal dalam kategori proletar yang telah menjadi bourjuis tetap saja dipandang sebelah mata oleh bourjuis utama. Dalam kategori ini maka proletar yang berupaya menjadi bourjuis pastinya hanya menjadi ’bourjuis abu-abu’ bisa juga dikategorikan sebagai kelas menengah. Pencitraan di sosialisasikan dengan memberikan pemahaman mengenai gaya hidup termasuk diantaranya cara berpenampilan, berbusana bahkan sampai pada berbicara. Kedua, Setelah sosialiasi ide-ide sudah gencar dilakukan tahapan berikutnya adalah menjual berbagai macam produk-produk dan teknologi. Sehingga dari konsep diatas maka yang pertama dilakukan adalah marketing ide dan selanjutnya adalah marketing produk. Sehingga diciptakanlah sebuah ’mekanisme ketergantungan’. Hal ini juga yang merupakan inti sistem kapitalisme yaitu selalu mengupayakan sebuah mekanisme ketergantungan
Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo yang telah menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 ini mendeskripsikan sebuah sistem kehidupan dalam pola ’kapitalisme tingkat lanjut’ bahkan novel ini sanggup me-narasi-kan hegemonisasi dalam keseharian hidup. Mengingat novel dapat membuat alur cerita dan dialog-dialog panjang bahkan diskursus antar para subyek yang saling bertentangan di dalamnya. Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri rekayasa genetik global) yang ditanam dalam keseharian hidup dengan bantuan kerja-kerja prostitusi intelektual. Prostitusi intelektual karena ilmuwan sudah bukan lagi bekerja atas dasar ilmu dan pengetahuan bahkan nilai-nilai kemanusiaan. Melainkan hanya logika ekonomi semata.
Dalam novel ini sebenarnya tergambar bahwa desa pegunungan yang merupakan wilayah koperasi kerja Lanang tidak terdapat sebuah masalah yang dikatakan sangat mendesak untuk segera ditangani, apalagi dengan kebutuhan harus melangsungkan rekayasa genetik/ bioteknologi sebagai satu-satunya jalan keluar. Semua berjalan dengan alami. Diceritakan juga semua aspek berjalan dengan sangat normal seperti kelahiran anak sapi, keluarga yang rukun, peternak sapi pernah yang memiliki keinginan yang masih dalam tahap wajar, pihak koperasi juga menunaikan kewajibannya dengan baik. Sehingga habitus di wilayah pedesaan ini berjalan dengan sistem yang terkelola dengan baik.
Proses hegemonisasi ini dimulai dengan dihadirkannya Burung Babi Hutan. Kemunculan Burung Babi Hutan ini sengaja untuk mengganggu habitus yang mulanya sangat tenang dan damai. Digambarkan sosok Burung Babi Hutan yang merupakan hewan transgenik. Setelah kemunculan Burung Babi Hutan atau Berwujud Babi Hutan Bersayap ternyata Pak Sukarya mendapati anak sapinya yang baru lahir sakit, sebuah penyakit sapi yang misterius. Pada akhirnya terjadilah wabah kematian pada sapi-sapi perah secara beruntun. Uniknya wabah penularan hanya terjadi pada sapi-sapi perah, sedangkan sapi potong tidak terserang. Dan juga tidak ada penularan dari sapi perah ke sapi potong. Singkatnya puncak kekalutan tidak hanya terjadi pada area peternakan Lanang tapi juga bagi para dokter hewan lain, bahkan sampai kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat
Kehadiran Burung Babi Hutan yang merupakan makhluk transgenik ternyata sengaja diciptakan untuk memberikan kekacauan pada sistem. Sebuah keberhasilan hegemonisasi yang dilakukan prostitusi intelektual yang melibatkan sejumlah pelacur-pelacur intelektual dan jaringan kerjanya, seperti Dokterandus Sukirno yang menjabat sebagai Pemimpin Koperasi, Penagih hutang ’Bank Kredit Menyicil’ di Lokalisasi-nya Rafiqoh. yang ternyata juga termasuk dalam skema jaringan pelacur intelektual, Mister Robert, Dokter hewan bule lulusan universitas ternama di luar negeri, Konsultan dan Anggota Dewan Pakar Kesehatan Hewan Nusantara, Tamu dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, baru bergabung dengan perusahaan besar di Nusantara, kekasih Doktor Dewi dan pada akhirnya juga anggota dan membantu di Divisi Pakan Ternak Transgenik, Rajikun mulanya disebut sebagai pengamat peternakan dan kesehatan hewan, tapi bukan Dokter Hewan dan dinyatakan sebagai Dukun Hewan, juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tindakan asusila, juga bersetubuh dengan Putri saat menjadi Burung Babi Hutan, yang ternyata adalah Kepala Divisi Obat Transgenik untuk Hewan, dan otak utama dari proses hegemonisasi prostitusi intelektual ini didalangi oleh Doktor Dewi Maharani, pernah menjadi kekasih Lanang semasa kuliah, dimana hubungan mereka putus setelah Dewi menginginkan Lanang mengikuti agama kepercayaannya, seorang dokter dengan latar belakang bioteknologi kehewanan, yang ternyata memegang Divisi Ternak dan Hewan Transgenik sekaligus Pimpinan Institut Peduli Kesejahteraan Total. Bahkan Putri istri Lanang juga terlibat konspirasi karena kedekatannya dengan Dewi semasa kuliah
Langkah berikutnya yang dikerjakan prostitusi intelektual berharap dapat memegang semua kepala penentu kebijakan negeri dengan memaksa Menteri Kehewanan untuk mengatakan secepatnya ke publik bahwa penyakitnya adalah Burung Babi Hutan dan mengesampingkan para ahli yang berseberangan. Menteri Kehewanan ’dipaksa’ untuk mengeluarkan pernyataan utama bahwa penyebab kematian sapi perah adalah Burung Babi Hutan dengan bujukan bahwa obat penangkalnya pasti akan ditemukan termasuk juga mengundang ke laboratorium yang akan membuat obat tersebut termasuk untuk tentunya juga mengenalkan perusahaan obat tersebut. Termasuk dengan melakukan suap kepada penguasa. Semua mekanisme tersebut bahkan hampir melanggar prosedur yang terlebih dahulu harus mendengar pendapat dari Tim Penyidik Penyakit Sapi Nusantara. Pada akhirnya pengumuman penyebab penyakit dinyatakan juga yaitu Burung Babi Hutan oleh Tim Ahli Pemerintah atas wewenang Meteri Kehewanan. Pernyataan menteri yang bersifat resmi ini merupakan persetujuan dan legitimasi lisan, sekaligus menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi eksperimen-eksperimen selanjutnyta dari para prostitusi intelektual (Mister Robert, Rajikun, Sukirno dan Doktor Dewi sebagai dalangnya).
Pada saat tertangkapnya Burung Babi Hutan, maka prostitusi intelektual memberikan klaim legitimasi ke publik atas keberhasilannya, maka diadakan Undangan Seminar Nusantara Pengenalan Teknologi Canggih Peternakan Pasca Bencana Nusantara Penyakit Misterius yang difasilitasi oleh Institut Peduli Kesejahteraan Total sendiri, dengan pembicara beberapa ahli dari Negara Adidaya, Negara Adikuasa dan dua pakar dari Negara Nusantara. Pakar dari Negara Nusantara sendiri adalah Doktor Dewi Maharani dan Dukun Hewan Rajikun. Kedua pelacur intelektual ini pada akhirnya mendapatkan legitimasi di publik
Pada akhirnya prostitusi intelektual memperoleh persetujuan dari publik dan dari penguasa. Puncak hegemoni ini dengan diberikannya sebuah legitimasi resmi atau surat resmi dari sebuah kekuasaan.”Dewi melirik tulisan pada sampul berkas pertama : Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization, Di bawahnya tertulis Pengendalian Wabah Misterius penyakit Sapi Perah. Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca………………Selanjutnya, untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, agar dapat aman dari serangan penyakit berikutnya , dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode tertentu umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan maksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.” (Baca hlm 398)
Pada tataran ini maka sistem dan mekanisme yang baru sudah ter-konstruksi dan berhasil menggantikan sistem yang lama. Sistem baru ini menjadi dasar bagi mekanisme berkelanjutan dalam bingkai kapitalisme, yaitu keberlanjutan menjadi ketergantungan. ” Nusantara mengimport kedelai sejumlah sejuta ton lebih, bungkil kedelai tujuh ratus ribu ton, dan jagung enam ratus ribuan ton……Nusantara juga mengimpor susu sapi sejumlah enam ratus ribuan ton susu bubuk dan susu yang diproses, daging sapi delapan ribuan ton, dan daging hari lima ribuan ton. Semua bahan impor ini berasal dari beberapa negara yang mengizinkan penggunaan teknologi rekayasa genetika dalam proses produksinya. Tujuh puluh persen pakan ternak di Negara Adimaju ini mengandung transgenik.” (Baca hlm 271)
Lebih jauh dari Novel Lanang, ternyata tidak terdapat keterkaitan antara Burung Babi Hutan mahluk transgenik yang menyebabkan kematian sapi perah. Burung Babi Hutan ternyata hanya digunakan sebagai pengalih perhatian. Sedangkan sumber utamanya dari kematian sapi perah adalah zat rekayasa genetika sendiri. ” Ia adalah persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan yang ada pada diri setiap manusia. Apa wujud dari persilangan ini ? Zat rekayasa genetika” (Baca hlm 406)
Sehingga pada dasarnya ternyata sebuah habitus secara terus-menerus, perlahan-lahan sudah disusupi dan diinjeksi dari kekuatan luar secara halus. Proses hegemonisasi ternyata tanpa disadari telah berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Dalam kasus pada novel Lanang maka hegemonisasi memang sudah berlangsung bahkan sebelum hadirnya prostitusi intelektual. Meskipun pada akhirnya prostitusi intelektual semakin mempercepat pembusukan pertahanan diri dari sistem tersebut. ” Bagaimana kok bisa mematikan sapi-sapi perah ? Begitu sapi perah mengkonsumsi pakan ternak transgenik yang kita pasok dan sebarkan ke seluruh peternakan Nusantara, gen kebodohan dan kemalasan itu langsung menyerbu setiap mekanisme pertahanan tubuh sapi perah. Membuat sapi perah sudah tidak meengenaali lagi mekanisme pertahanan sendiri, apalagi menimbulkan reaksi melawan penyakit. Sehingga, apapun penyakit yang masuk akan memunculkan gejala parah yang berubah-ubah sesuai jenis penyakit yang ada. Tapi tak bisa diobati karena penyebab tunggalnya memang dihilangkan oleh gen silang tadi.” (Baca hlm 406)
Penutup, novel ini jelas menggambarkan sebuah proses hegemonisasi yang berlangsung secara perlahan-lahan, terus-menerus berkesinambungan dan berkelanjutan dalam sistem kehidupan. Pada suatu masa maka mengkristalnya hegemoni ini akan menjadi lebih dikhawatirkan karena membuat sebuah sistem akan membusuk secara perlahan-lahan tanpa disadari. Disaat sudah membusuk dan sekarat maka terjadi keterlambatan dalam menyikapi masalah. Bahkan ironisnya ’tubuh diri’ dari sistem yang sekarat tersebut pada akhirnya menyerah dan akan memilih melakukan ’bunuh diri’. Meronta-ronta minta dibunuh.
Sehingga novel Lanang ini selain menarasikan hegemoni yang sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
Selain itu novel Lanang ini merupakan kontribusi dari penulisnya Yonathan Rahadrjo bagi ruang publik (baca = republik) ke-Indonesia-an kita. Kontribusi dari penulisnya yang juga seorang dokter hewan yang bukan hanya mengenalkan lebih jauh kepada khalayak umum mengenai kontekstual masalah dalam profesi kedokteran hewan, melainkan kontekstualisasi ke-Indonesia-an kita. Novel ini juga jelas sebuah opini dari penulisnya yang terkandung muatan-muatan moral dan etis sebagai ’civil society’ (baca = masyarakat/ komunitas warga) di ruang kepublikan Indonesia. Akhir kata novel ini adalah sebuah kekuatan perjuangan dari ’civil society’ di Indonesia. Sebuah novel yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap ’civil society’ dari berbagai komunitas di Indonesia seperti sastrawan, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, intelektual organik, dan masih banyak yang lainnya.
Beberapa bagian dari tulisan pernah disajikan pada Diskusi Novel Lanang, di Lokasi H.B Jassin Hari Senin, Tanggal 30 Juni 2008.

Baca Juga...

5 komentar pembaca

  • Risma
    9th Jul 2009 3:36 pm
  • teng.. sude totong manjaha Artikel “Menguak Tabir Hegemoni” dijaha sambing dang dikomentari ninna patibbo hu ilmu nai dang tardudung, hape au hadungdung au kodo..Torushon – lanjutkan.

  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 8:32 am
  • Komentar :
    Saya melihat novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif. Merunut pada teori konspirasi intelijen oleh perangkat badan intelijen suatu negara, dimana selalu mengembangkan teori itu yang bertujuan untuk membentuk suatu opini. Ini sangat konspiratif dan konstruktif bukan?
    Teori konspirasi menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area. Pertama, ketika teori konspirasi mengarah pada apa yang disebut sebagai ‘paranoia within reason’. Selalu ada semacam ketakutan yang berlebihan yang selalu mengikut dalam akal manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai ‘systematically distortion of information’. Informasi yang didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Kita tentu ingat pepatah, kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga, teori konspirasi juga selalu mengarah kepada ‘terrorizing of the truth’ karena sulit dibuktikan maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi kebenaran.
    Dalam contoh kasus novel Lanang ini, ketiga hal yang disebutkan di atas sangat relevan. Dalam kejadian sekarang yang melanda dunia, berbagai virus dan penyakit mematikan telah merebak dan menyerang makhluk hidup. Bukankan ada dugaan banyak orang bahwa hal ini adalah peperangan dalam bentuk senjata biologi, dari sapi gila (mad cow), antraks, flu burung, flu babi dan lainnya. Secara ekonomi, hal ini sangat menguntungkan bagi Negara perekayasa penyakit ini, dengan ‘menemukan’ vaksin untuk menangkal penyakit-penyakit ini. Ada perputaran ekonomi yang besar dibidang industri farmasi, makanan dan kimia yang akan menimbulkan ketergantungan. Teori sudah bergerak sesuai skenario dan babak demi babak akan terus berlangsung.
    Ada suatu cerita tradisional, di suatu dusun terpencil, medis dan ilmu kedokteran belum menjadi kebutuhan masyarakat apabila sakit, tetapi pergi kepada orang pintar itu, di kampung kita seperti DATU kali ya. (=walau pengertian Datu sebenarnya juga telah bergeser maknanya). Untuk mempertahankan kedudukan sosialnya sebagai Datu yang disegani dari gempuran teknologi pengobatan yang sudah masuk wilayah itu, dia akan berusaha menciptakan ketergantungan masyarakat agar tetap berobat kepadanya walaupun pengobatan dengan petugas kesehatan dan dokter sudah ada. Bagaimana dia melakukannya, tentu dengan melakukan teori di atas tadi, misalnya menciptakan suatu penyakit, lalu membuat opini dan orang akan berobat terus kepadanya. Tentu dia akan bisa mengobati karena dia pencipta penyakit itu.
    Horas…Mauliate !

  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 9:35 am
  • @Tommy M J Sihotang,
    Perspektif saya tentunya menyorot sistem kerja Negara Adimaju dengan transgeniknya. Dalam sistem kerja itu, termasuk didalamnya para pelaku Prostitusi Intelektual, sistem birokrasi dan pemerintah yag korup, kebohongan publik yang akan menggerogoti kehidupan dengan suatu rasa ketergantungan.
    Jadi seperti disebutkan diatas bahwa novel Lanang ini menarasikan hegemoni sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
    Horas…Mauliate !

  • Parbatto
    10th Dec 2009 10:33 am
  • Kasus NAMRU 2 ?
    Perdangangan VIRUS dan ANTI VIRUS adalah bisnis jutaan dolar…Akka halak na malo alai LICIK, dang i?

  • Parbatto
    15th Sep 2010 2:36 pm
  • Betapa sulit mencari kaum intelektual organis. Lebih gampang menemukan
    kaum intelektual oportunis.

    Sihar Ramses Simatupang: Berpatah-berderap menimbulkan tegangan dan emosi

    Materi Bedah Novel Lanang 28 Mei 2009, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

    Catatan yang Tertinggal
    (tentang novel Lanang karya Yonathan Rahardjo)


    Oleh Sihar Ramses Simatupang *)


    Membaca sebuah karya sastra dan menghubungkan antara idealisme penulis – atau Budi Dharma menyebutnya ”obsesi”, Pramoedya Ananta Toer menyebutnya ”ideologi” dan saya menyebutnya visioner – adalah sebuah keniscayaan. Apa pun idealismenya, di karya sastra itulah, dibebankan segala pikiran si pengarang terhadap sejarah masyarakatnya.
    Barangkali benar, bahwa karya sastra adalah bagian dari imaji. Tak semua teks dihasilkan oleh rasio dan kognisi, tapi juga afeksi, rasa. Namun olahan rasa pun tak lepas dari biografi si pengarang, sikap hidupnya. Keduanya berpaut dan saling bertanggungjawab, dirasalah terdapat pengalaman terutama emosi atau kesan historis, di logika lah, segala kesimpulan si penulis sebagai salah satu kaum intelektual peradaban.
    Sebuah karya, novel apa pun, tak hanya mewariskan kesan kekinian, tapi juga rentet masa lalu dan ukuran nilai dan kenyataan masa depan.

    ***

    ”Rumit tapi…. Sangat menarik.” kata novelis Ahmad Tohari. “Novel yang kaya ... sains, thriller, sosial, psikologi.” ujar Guru Besar Sastra Unversitas Indonesia.
    Kata saya, bahasa penulis berlatar belakang dokter hewan dan kini menjadi jurnalis di sebuah majalah kesehatan satwa ini pun lancar di novelnya Lanang (terbitan Pustaka Alvabet, Mei 2008). Tentu dengan gaya Yonathan, tak tenang untuk disebut rapih, namun berpatah-berderap menimbulkan tegangan dan emosi, pertanyaan pembaca pun selesai ketika kata tak lagi jadi rintangan, ketika pembaca terpancing pada kisah di dalam novel. Karena itu, jangan dikejar tautan kata yang teliti atau kata yang puitik, narasi dan bentangan kisah juga deskripsilah yang perlu diperjuangkan pembacanya.
    Lelah? Tidak!
    “Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang.” papar Harian Umum Kompas, mengomentari paparan karya novelis ini.


    ***

    Syahdan, di suatu ketika, saya membaca karya Lanang dari manuskrip teman saya, Yonathan Rahardjo, sebuah manuskrip yang sekarang telah menjadi sebuah novel. Sebuah (manuskrip) novel yang berkisah tentang Doktor Dewi sebagai seorang antek korporasi asing yang ”anehnya” menciptakan burung babi hutan, telah berefek pada ribuan petenakan sapi perah mati.
    Pertanyaan saya, kalau menjadi wabah sapi perah, kenapa harus menciptakan burung babi hutan, tak menciptakan virusnya saja? Virus yang kelak menyebarkan efek yang sama, wabah penyakit di segenap sapi perah. Atau barangkali disinilah uniknya, mencipta virus, langsung dari proses kimia di tubuh inangnya. Inang yang hewan sapi perah, yang hasil sebuah rekayasa biogenetika burung babi hutan, yang uniknya lagi, berefek di tubuh mamalia lain yang biasa disebut sapi?

    ***

    Embel-embel bahwa burung babi hutan adalah hewan jadi-jadian, rumit. Kesan bioteknologi pun telah bercampur alam mistik tradisi Asia. Bioteknologi yang dulu didengungkan barat, sekali pun kini telah akrab dengan Asia, termasuk Indonesia, tetap menjadi suatu yang asing bila dikaitkan dengan mistik Indonesia. ”Kamu harus memilih, Yo,” ujar saya kepada penulis, beberapa tahun silam, jauh sebelum karyanya diikutkan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 yang mengantarkan dia menjadi salah satu pemenang.
    Barangkali, saya dibebat oleh persoalan bahwa amatlah sulit meniti kisah-kisah, bila pembaca diganduli pertanyaan, cerita Lanang dan tokoh lain termasuk kemunculan makhluk aneh ini, bila didasari syakwasangka dilematis. Ini science fiksi atau mistik.
    Science fiksi tak disebutkan runut tentang kenapa, berapa, kok bisa, gen babi hutan dan burung mewujud menjadi satu makhluk? Seperti suntikan gen fosil nyamuk purba di telur katak yang kemudian menjadi dinosaurus. Bukan apa-apa, penjelasannya pun ilmiah, nyamuk itu konon pernah menghisap darah dinosaurus, ribuan tahun yang lalu.
    Mistik, tak dijelaskan khusus apa beda burung babi hutan dengan ngipri monyet, piara tuyul, babi ngepet, dan lain lain.
    Namun inilah fiksi! Logika dan mistik adalah cabang lain di luar imaji karya sastra. Bentuk burung babi hutan inilah yang dikejar, ketika Lanang mengejar burung babi hutan, jangan jangan dia bagian dari anomali roh si Lanang, binatang ”jejaden” ciptaan Radikun? Oh ya, secara genetik, jangan lupakan, jangan-jangan dia bikinan si Dokter cerdas Radikun, rekayasa genetik cemerlang kreasi abad terakhir manusia – kalau dikaitkan dengan rasio genetika.
    Nyatalah, di tangan Yo, dua kontroversi itu justru menjadi tegangan pertanyaan buat pembaca, alias dibiarkan menjadi paradoks alam pikir pembacanya. Inilah dia si Burung Babi Hutan, bukan film Jurasic Park atau Frankenstein juga bukan film Beranak dalam Kubur, Kuntilanak atau pun Twilight alias sang drakula vegetarian. Ini Burung Babi Hutan, fiksi transgenik-mistik, plus kisah ”inang” (induk atau media) dari virus penyerang sapi peliharaan.
    Ceritanya memang berderap, tegang. Macam-macam tegangannya, tegang ketika Burung Babi Hutan menyerang Lanang, tegang ketika Lanang menyukai wanita, tegang ketika Lanang diburu, tegang ketika Burung Babi Hutan meneror orang-orang.

    ***

    Sekilas yang saya paparkan tadi adalah sedikit saja logika cerita terkait mistik dan science fiction. Tapi sekilas yang saya mau tanyakan lagi adalah bagaimana kehidupan Lanang. Nah kalau secara individu unik juga mengikuti psikologi Lanang, yang liar dan tak terkendali, terkadang gelisah, apalagi hubungannya dengan beberapa wanita dekatnya.
    Juga secara sosial, bagaimana pandangan tokoh lain terhadap Lanang. Lanang berada di masyarakat lain, dari masyarakat intelektual, masyarakat sipil. Juga buatan dia, tentang bioteknologi ala Indonesia yang direspon oleh Barat, sebuah penemuan dari negara kecil, yang radius wilayahnya justru cukup luas di dunia. Penduduknya banyak, luas wilayahnya pun lumayan, tapi jadi orang kecil dalam peradaban teknologi di dunia, apalagi teknologi rekayasa genetika.

    ***

    Manakah visionernya? Ya dicari saja. Saya bisa saja melihat tentang sikap para tokoh, misalnya Dewi yang diciptakan sebagai tokoh antagonistik, disebut sebagai antek korporasi asing. Sialnya, si burung babi hutan, ciptaan cemerlang itu malah ditempatkan sebagai biang keladi. Dialah ikon barat, dalam rupa makhluk seram, musuh utama untuk mencipta kegelisahan tokoh, menjadi thriller buat Lanang dan kawan-kawannya, terutama buat pembaca.
    Ada hasil eksperimen dari laboratorium barat, ada pemasokan produk obat-obatan dari luar, ada burung babi hutan, transegnik yang dicipta dari kecanggihan eksperimen asing. Ada juga kenakalan meng-antitesis-kannya dengan eksperimen manusia lokal, obat-obatan lokal, dan orang-orang lokal yang berusaha menghalau burung babi hutan.
    Ini bukan anti barat. Ini justru kearifan bahwa baik barat dan Asia, kembali berpulang kepada pemikiran, tindakan dan prakteknya.
    Obat-obatan luar tak selalu buruk. Sistem transgenik, sistem bayi tabung sekali pun masih kontroversi dari pandangan agama bahkan budaya apalagi bila dari sel telur dan sperma yang bukan pasangan, pasokan obat yang terkadang begitu sahih dan sangat melecehkan produk jamu dan produk obat-obatan dari para ahli medis dan apoteker pribumi termasuk mbakyu jamu atau petani benalu teh di puncak Bandung...

    ***

    Inikah visioner seorang alumni dokter hewan yang beralmamater di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur? Atau ada visioner lain, dari penulis yang juga seorang asal Bojonegoro, Jawa Timur – agak dekat dengan Jawa Tengah – ketika melihat kearifan lokal ke-Jawa-annya? Di saat dia mengenal jamu dan obat-obatan produk putra negeri. Plus, mengangkut aura sakral kebudayaan, menyerpih yang negatif seperti perewangan babi ngepet dan memenangkan jiwa Lanang yang menggali kemanusiaannya sendiri lewat kedekatan kepada Tuhan, Sang Khalik, manunggal ing kawula Gusti...
    (Akh, saya jadi teringat pada novel Sanu Infinita Kembar-nya Motinggo Busye dimana Sanu pun gelisah, gelisah fisik dan gelisah jiwa, melakukan pengembaraan erotis pada perempuan hingga lelah lalu menyerah. Selanjutnya, dia pun mencari spiritualitas, bahkan perenungan theologis...)
    Mbuh, aku nggak weruh... Tak ada yang tahu persis niat Yonathan pertama kali menuangkan karya ini.
    Tapi, bukankah saya dan anda berhak menterjemahkannya di alam pikir bahkan di alam imaji anda juga. Sekali pun kita sepakat, pengarang tak sungguh-sungguh mati.
    Apalagi ada si pengarang di tengah kita saat ini.


    Raden Saleh - Jakarta, 21 Mei 2009


    *) Jurnalis di Harian Umum Sinar Harapan. Penulis buku ”saku” kumpulan puisi ”Metafora Para Pendosa (Rumpun Jerami, 2004) , kumpulan cerpen ”Narasi Seorang Pembunuh” (Dewata Publishing, 2004), novel ”Lorca Memoar Penjahat tak Dikenal” (Melibas, 2005). Buku puisinya ”Manifesto” (Q Publisher, 2009) dan novel ”Bulan Lebam di Tepian Toba” nya akan dipublikasikan Juni-Juli mendatang.

    Yusi Avianto Pareanom: Sapi Berpenampilan Rapi Meminta Permakluman Setelah Melantunkan Neraca-neraca Merdu

    Sapi Berpenampilan Rapi Meminta Permakluman Setelah Melantunkan Neraca-neraca Merdu
    (Pengantar untuk diskusi novel Lanang karya Yonathan Rahardjo, 23 Mei 2008, TIM, Jakarta)

    Yusi Avianto Pareanom

    Profesi dokter hewan jarang muncul dalam karya sastra fndonesia, baik novel maupun cerita pendek. Nasibnya mirip dengan penarik pajak, koki, dan tukang sulap. Mereka kalah jauh 'pamornya' bila dibandingkan dengan dokter, guru, mahasitwa, mantan tahanan politik, bahkan pelacur. Oleh sebab itu, kehadiran novel Lanang dengan tokoh utama seorang dokter hewan bisa disebut sesuatu yang segar. Apa lagi, profesi si tokoh yang bernama sama dengan judul novel, Lanang, bukan sekadar tempetan.

    Lanang berkisah tentang problem yang mesti dihadapi Lanang setelah kemunculan makhluk tak lazim yang disebut Burung Babi Hutan. Dalam upayanya menemukan jawab, ia mesti beberapa kali meninggaikan istrinya, Putri, di kawasan Pegunungan. la terlibat datam penelitian, seminar, dan perburuan makhtuk itu. Ia juga bertemu dengan dukun hewan Rajikun dan mantan kekasihnya, Doktor Dewi, yang dalam sampul belakang buku disebut sebagai antek korporasi asing.

    Saat membaca Lanang, saya merasakan ambisi dan semangat besar Yonathan Rahardjo untuk bicara banyak hal, antara lain situasi mutakhir industri peternakan dan kesehatan hewan Tanah Air, perkembangan teknologi transgenik, mistisme yang masih dipegang banyak orang, dan hubungan laki-laki dan perempuan.

    Sebagai titik tolak, saya ingin menggunakan kata-kata Yonathan sendiri yang dikutip oleh Sihar Ramses Simatupang dari Sinar Harapan di halaman v, "Kita kembali pada karya sastra saja." Dengan kata lain, saya akan menimbang Lanang berdasarkan unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel, yaitu tema, deskripsi, dialog, penokohan, plot, dan penggunaan bahasa.

    Setelah menamatkan Lanang, saya mesh bilang dengan berat hati bahwa semua unsur yang saya sebut di atas muncul secara tidak meyakinkan di semua halaman. Tidak nyaris di semua halaman, tetapi benar¬benar di semua halaman. Saya akan memulai dengan hal-hal yang paling paling mengganggu saya, yaitu ketidaktelitian yang dilakukan pengarang, plus penyunting, dan logika yang lemah.

    Tangannya cekatan mengendalikan kemudi mobil. Jalan berlekok dengan santai diikuti tangan membelok sesuai arah jalan, lalu membanting ke arah berlawanan. Dalam waktu bersamaan, kakinya terampil menginjak gas dan rem. Sesekali tangan kiri menggenggam panel untuk mengubah gigi mesin. Rata-rata kecepatan yang tertampang dalam argometer mobil menunjukkan laju kendaraan sangat tinggi, dibanding jalan berkelok-kelok yang membutuhkan kecermatan serta cara mengemudi yang butuh sikap ekstra hati-hati. (halaman 5)

    Kecuali kalimat pertama, semua kalimat dalam alinea yang dikutip di atas bermasalah. Saya bukan pengemudi yang andal, tetapi rasanya susah membayangkan pedal gas dan rem yang diinjak dalam waktu yang bersamaan. Sebuah panel lazimnya juga tidak digenggam. Dan, bukankah istilah yang tepat adalah tuas untuk alat yang dipakai untuk mengubah gigi mesin? Alat untuk mengetahui kecepatan di mobil adalah speedometer, bukan argometer, dan yang terlihat bukaniah kecepatan rata-rata melainkan kecepatan aktual ketika sebuah kendaraan berjalan. Tidak tepat pula kecepatan yang tinggi dibandingkan dengan jalan yang berkelok-kelok, semestinya kata dibanding diganti dengan kata untuk.
    Contoh lain:
    ,..Bebunyian logam-logam sebagai peralatan standar penanganan sapi perah sating bertumbuk dengan gelas-gelas botol, vial dan ampul obat-obatan dalam alatnya masing-masing (halaman 28).

    Kalimat di atas sangat rancu. Bagaimana mungkin bebunyian logam-logam bisa menjadi peralatan standar penanganan sapi perah seperti yang dinyatakan dengan penggunaan kata sebagal? Bagaimana pula bebunyian bisa saling bertumbuk dengan gelas-gelas botol? Lalu, apa yang dimaksud dengan gelas botol, vial dan ampul obat-obatan dalam alatnya masing-masing?

    Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno, Guru Besar Sastra Universitas Indonesia, Ketua Dewan Juri Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, dalam Pe'rtgantar menyarankan pembaca Lanang untuk mengikuti kaidah pembacaan cerita saspens, artinya, untuk menikmatinya pembaca harus sabar membaca dari awal sampai akhir dengan teliti.

    Saya mengikuti saran beliau, dan inilah yang saya temui. Di halaman 22, disebutkan Lanang datang ke sebuah peternakan dengan pakaian seragam putih-putih, terseterika rapi. Namun, di halaman 25, muncul kalimat yang menyatakan kain baju Lanang agak koyak sesudah pertempuran semalam. Kesalahan ini makin parah lagi bila mengingat dalam adegan pertempuran yang dimaksud, Lanang digambarkan menjalaninya dengan bertelanjang, alias tak memakai baju.

    Ketidaktelitian yang juga parah muncul tatkala Lanang menjelaskan gejala sapi yang terserang penyakit misterius. Semula, sapi-sapi perah itu diceritakan mampus dalam waktu yang singkat, malah dalam beberapa kasus tewas seketika. Namun pada halaman 39, Lanang berkata,

    °Ternak sangat menderita dan mad. Biasanya didahului sakit kepala, lesu, mual, nafsu makan menurun, gugup, dan nyeri."
    Ketidakpahaman juga menjadi sebab deskripsi yang berantakan.
    Banyak orang tidak tahu, pemuda itu mall tergantung selama beberapa jam. Lehernya terjerat kabel listrik Kereta Re/ Ustrik. Sudah menghitam. Darahnya tak bisa mengucur keluar. Pasti pendarahan di dalam. Leher itu begitu terjepit. Hampir putus. Sampai kepalanya menengadah ke samping. Ditarik beban yang menggantung. Lurus, Tegak. (halaman 181)

    Sulit membayangkan mayat yang tergantung di tempat umum dibiarkan berjam-jam. Musykil juga kabel listrik KRL yang tegang bisa menjerat. Betul, bahwa di halaman 180 dikatakan si korban itu tercekik lehernya pada persilangan kabel listrik. Namun ini mustahil juga, karena kabel terbuat dari kawat baja. Bila leher seseorang yang sedang berdiri di atap kereta yang melaju menabrak persilangan kabel, besar kemungkinan ia langsung jatuh karena sengatan listrik 16 ribu kilovolt. Tidak mungkin juga kan si korban meloncat ke persilangan untuk menggantung did?

    Ketidaklogisan muncul secara nyata di halaman 343-345, yaitu ketika seorang gadis bertangan sayap, mirip Burung Babi Hutan, mampir ke kantor polisi-malah sempat beli es doger-tetapi tak ada kehebohan apa pun. Padahal, Burung Babi Hutan yang tak pernah terlihat oleh publik sudah bikin geger satu negara. Contoh lain, di halaman 382 diceritakan Lanang sudah disekap oleh para antek korporasi asing di sebuah ruang sempit, sehingga ia tak bisa bergerak; namun, di halaman 388 disebutkan setelah pintu selnya terbuka, masuk sekelompok orang dengan pakaian rapi, jubah putih-putih. Berapa ukuran tubuh para manusia yang berpakaian rapi ini?

    Logika bahasa yang berantakan bisa ditemui di sana- sini.

    Bedanya, kala masuk frase cintanya pada lelaki lain, matanya berubah berkaca-kaca. (halaman 163)

    "...Ketika aku melantunkan neraca-neraca merdu yang menuntun jari-jemari jiwaku mendayu-dayu dalam liuk semenari tubuh gemulaimu dengan tarian rindu....' (halaman 170)

    Majas punya batas. Bagaimana neraca bisa menjadi merdu kalau ia adalah timbangan atau catatan perbandingan untung rugi, atau bagaimana pula sebuah neraca bisa dilantunkan? Untuk adilnya, saya juga mesti bilang bahwa Yonathan sebetulnya bisa menggunakan kiasan dengan tepat.

    ...Dengan mata dibebani batu, ia lihat bayang-bayang hitam pada semak-semak dan pohon-pohon di kiri-kanan jalan. (halaman 35)

    Sayangnya, contoh di atas jarang ditemui.

    Dalam Lanang, adegan-adegannya lebih banyak muncul melalui dialog, monolog, maupun pemikiran tokoh¬tokohnya (dalam bahasa Yonathan disebut angan mengembara, angan melesat, dan sejenisnya). Deskripsi menempati porsi yang sangat kecil, dan ketika muncul, ia tak meyakinkan. Berikut beberapa contoh.

    Mobil beranjak.
    Jalan sangat menanjak.
    Maklum daerah pegunungan. (halaman 5)

    Mash di halaman yang sama,

    "Mas Lanang...,° mata istri bersinar-sinar dengan wajah yang masih belum begitu rapi, maklum berjam-jam gelisah,

    Pada halaman 19, si pengarang kembali meminta permakluman.

    ....Baunya minta ampun. Maklum, namanya saja kotoran sapi. Kotoran sapi atau ayam tak ada bedanya. Sama-sama kotoran.

    Kenapa minta permakluman? Untuk contoh terakhir, akan lebih menarik bila dipaparkan seperti apa bau yang minta ampun itu sebetulnya. Apakah bikin perut mual? Apakah masih tercium dari jarak 100 meter? Apakah baunya tak hilang walaupun kandang diguyur karbol sepuluh liter? Lalu, apakah betul tidak ada beda antara kotoran sapi dan kotoran ayam? Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia kedokteran hewan, Yonathan semestinya bisa menghadirkan paparan yang lebih rinci dan memikat.

    Selain itu, banyak pula ditemui deskripsi yang susah sekali divisualkan.

    Berhenti sejenak, kepala babi hutan itu menjilat organ membulat di bagian belakang tubuhnya sendiri (halaman 82)

    Bagaimana sebuah kepala bisa menjilat, bukankah ini tugas lidah? Lalu, bagaimana pula makhluk ini bisa menjilat sesuatu yang berada di belakang tubuhnya sendiri? Tidak ada penjelasan apakah babi ajaib ini memang memiliki elastisitas yang sedemikian mengagumkannya sehingga bisa melakukan hal seperti itu.

    Dalam penyajian monolog, dialog, ataupun pemikiran, terlihat jelas keinginan Yonathan berpuitis-puitis. Sayang, mengingat diksinya sangat lemah, yang tersaji adalah kalimat- yang bertele-tele dan mubasir. Lebih celaka lagi, gaya bicara semua tokohnya serupa. Memang, tokoh-tokoh yang muncul hampir semuanya punya persinggungan dengan dunia peternakan ataupun kesehatan hewan. Meskipun demikian,
    semestinya setiap dari mereka adalah pribadi unik. Keseragam karakter tokoh-tokoh ini paling terlihat saat mereka bersenandika.

    Misalnya, ketika sapi-sapi perahnya mati, inilah yang katakan Sukarya, sang peternak,
    "Dalam waktu singkat, para malaikat pencabut nyawa melolong di tengah alam gelap, menyebabkan rasa ngeri di hati kafni akan datangnya kematian pada sapi-sapi. Mereka mirip anjing-anjing gila, menggigit ternak tak berdosa hingga menemui ajal," jerit Sukarya pilu. (halaman 25)
    Bagaimana jika Sukarya sedang berpikir? Begini jadinya.
    `Tebercik dalam pikiran kami untuk ganti haluan usaha seperti dorongan yang kami rasakan manakala krisis moneter mendera negeri Nusantara, sehingga usaha peternakan kami gulung tikar akibat situasi ekonomi yang sulit. Yang kami hadapi saat ini bukan situasi ekonomi itu, tetapi penyakit yang telah bahkan tampaknya bakal membuat para penasihat serta fasilitator kami menjadi begitu kerdil hati untuk berbuat secara pasti clan kesatria demi menolong nasib kami, terutama nasib sapi yang bergelimpangan tewas secara mengenaskan oleh penyakit berkabut misteri.' (halaman 44)
    Mash berkaitan dengan kematian sapi-sapi perah, seorang dokter hewan rekan Lanang menasihati tokoh utama,
    "Lanang, kita harus menunjukkan kepedulian kepada petemak yang tengah dirundung nestapa ini. Sama halnya dengan kepedulian terhadap seluruh masyarakat yang terkait dengan kerja koperasi kita. Disiplin kerja seperti biasa harusjuga jadi prioritas kita."
    Untuk senandika yang {ebih dahsyat dari para peternak, lihat halaman 146-148. Bagaimana dengan suara Putri, isti Lanang?
    "Kita tahu, Mas Lanang sangatlah kuat dalam penelusuran ilmiah. Pengalaman menjadi mahasiswa yang baik dalam riset-riset kampus pastilah membentuknya jadi ilmuwan handal yang bisa mengatasi kemelutnya. Tapi aku tak mau hal itu terjadi, meski bertentangan dengan rasa banggaku padanya, bahwa seorang yang pernah dekat denganku akan menjadi penguak tabir hitam yang mendukakan kelompok masyarakat yang jelas-jelas menjadi target pelayanan kita demi mengabdi masyarakat dan ilmu." (halaman 49)
    Begini kata saat Putri bercinta.
    °Kulayani suamiku yang memberi miliknya. Goyangan-goyanganku yang menyambut miliknya betul-betul membuatnya suka.Aku pun puas tiada terkira." (hal 227)

    Harus diakui, kata-kata Putri orisinil. Biasanya, perempuan terbagi ke dalam tiga golongan besar saat bercinta. Si optimis akan bilang 'oh yes', si pesimis akan bercuap 'oh no', sementara si religius menyebut 'oh God'.

    Begini kata Putri saat ia diisyaratkan si pengarang ingin mengadakan hubungan badan dengan Taro, anjingnya.

    "Untuk membayangkan akan sangat sulit, Menderita. Itu pasti. Maka jarak antara kami mesti kujaga. Di sini aku yang harus aktif, karena aku manusia yang tahu konstanta-konstanta." (halaman 352)

    Orisinalitas ini bukan cuma milik Putri, melainkan juga Lanang. Di halaman 277, diceritakan Lanang melakukan pemasanan sebelum berhubungan badan dengan Putri. Ketika kepala Lanang berhadapan dengan bagian bawah tubuh Putri, alih-alih langsung beraksi ia justru mendendangkan melodi indah tentang cinta dan lingkungan yang tiriknya diawali dengan '9ercinta Mencegah Hutan Gundul'...dan dibagian lain berbunyi `Tinggal pikiran, hati, dan tangan ini mau secara praktis menyingkirkan AC freon atau tidak.'
    Begini cara Doktor Dew, si antek korporasi asing, wanita yang tubuhnya nyaris tambun tetapi lekuk tubuhnya masih tergolong ideal itu (halaman 253) menyambut Lanang di kantornya.

    °Kau tiba siang hari ketika aku menyisihkan hariku khusus untuk menunggumu. Aku masih berbicara dengan temanku di telepon manakala kau menjejakkan kaki di pelataran rumahku dan mengetuk pintu."

    °Stafku, yang membukakan pintu, mempersilakanmu menunggu dan memberitahu bahwa kau mencari aku. Sementara kau berdiri di depan pintu, aku berjalan meninggalkan kamar kerjaku. Aku menuju pintu depan rumah dan melongokkan kepalaku. Aku senang melihatmu lagi!"
    Reaksi Lanang? Begini.
    °Mengapa kau mendirikan Insititut Peduli Kesejahteraan Total, Dew? Tidakkah kau puas dengan keilmuwananmu sebagai Doktor Bioteknologi Kehewanan?° tanya Lanang pada Dew, begitu kerinduan tergenapi dalam suatu komunikasi. (halaman 252)

    Lanang, si tokoh utama, yang di sampul belakang buku disebut sebagai dokter hewan yang cerdas dan melankolis, bilang seperti ini kepada Dew setelah mereka bercinta:

    "Dew, tahukah yang terjadi kala itu. Kukata, biar aku tak terus begini, dalam kepecundangan yang kian menderaku makin gila, karena sempit dinding menemboki dengan asa yang dangkal, mengerok kulit harapku makin botak. Aku tak ingin kematian bulu rambut hatiku makin membuatku gundul merangas. Biar gantinya kuraih ia yang berbunga. Ditiup angin pun takkan pernah berhenti tumbuh terus. Sebab ia tumbuh di belantara yang subur." (halaman 162)

    Yang paling °dahsyat" muncul di halaman 108-109 ketika Lanang merindukan istrinya. Angan-angannya saya kutipkan di sini.

    Putri, betapa kuingin pelukanmu. Kau memelukku. Aku tersipu dan menahan rasa yang mengetuk-ngetuk dinding dada yang kini tak berotot kekar lagi. Di sini, aku mencari hijau alam untuk kulalui. Namun, kurindu kau memelukku, walau hanya dalam suara yang kembali menjenguk melalui telepon genggamku yang hampir tak berbunyi lagi.'
    'Kini,' lanjutnya, 'telepon genggamku memang benar-benar lemah baterai. Tentu saja, ini jadi penghambat komunikasi kita. Kau past tak bisa menghubungiku melalui telepon rumah kita. Sementara aku tidak membawa baterai cadangan atau penggertak energi yang membangunkannya terjaga lagi. Aku merasa kehilangan suaramu bila kita tak bisa berkomunikasi. Kegelisahan ini sebenarnya tak perlu mengusikku. Karena bila aku ingin menghubungimu, bisa kulakukan lewat telepon umum.'

    Persoalan telepon genggam yang lemah baterai ini masih dikeluhkan Lanang sampai setengah halaman lagi. Saya tak sanggup mengutipnya secara utuh, panjangnya melebih solilokui Hamlet yang sedang ragu-ragu, "To be or not to be," (Hamlet, Babak 3 Adegan 1 Baris, William Shakespeare).

    Bagaimana kalau suara Lanang diwakili si narator?

    Mestinya di kota ini ia meltyani panggilan teman, kenalan dan klien untuk mengobati hewan kesayangan mereka. Panggilan mereka adalah panggilan surgawi yang bakal `memperpanjang nyala api kompor gas Lanang, lalu melirik ke kompor elektrik', laksana embusan udara sepoi yang berbunga wangi dan mempersembahkan mekarnya untuk hati yang mendamba kesejahteraan sekaligus kehormatan kaum intelektual dan terdidik. (halaman 115)

    Petikan terakhir adalah penegasan saya bahwa karakter-karakter di Lanang tak (mungkin) berkembang karena suara si narator adalah suara semua tokoh. Yang paling parah adalah tak digarapnya situasi batin tokoh Putri setelah disetubuhi Burung Babi Hutan (entah jadi-jadian atau transgenik). la bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Kok bisa?

    Motif lemah dan sains asal-asalan

    Teknologi transgenik sebetulnya sudah menyediakan bahan kuat bagi Lanang. Apalagi, banyak pro dan kontra berkenaan dengan teknologi ini. Sayangnya, peluang ini tak dimanfaatkan oleh Yonathan. Memang muncul istilah ilmiah seperti modifikasi genetis, Aglutination Gel Presipitation, Polymerase Chain Reaction, alpha- l-antitrypsin, tetapi hadir pula Obat Ekstra Ampuh yang terdiri dari seribu kuman.

    . Ketika para ahli berteori tentang asal-asul Burung Babi Hutan, seseorang mengemukakan pendapat yang ngawur pol.

    "Barangkali babi itu tersesat sampai pucuk gunung, sedangkan jalan untuk kembali ke daratan sangat sulit. la bergaul dengan burung-burung rajawali dan burung-burung penyendiri di puncak gunung. Bergaul dan melakukan adaptasi pola hidup. Tumbuh sayap pada tubuhnya." (halaman 191)

    Ahli ilmu apakah orang yang berpendapat semacam itu? Babi tersesat bisa diterima. Frase kembali ke daratan bermasalah, karena pucuk gunung juga daratan. Babi yang tersesat mestinya hanya seekor karena disebut ia bergaul dengan burung-burung rajawali, dan burung-burung pemangsa ini mestinya berpantang daging babi karena mangsa mengantarkan diri diterima baik-baik. Yang tak masuk akal, bagaimana babi yang tersesat ini bisa tumbuh sayapnya gara-gara bergaul dengan burung? Evolusi membutuhkan waktu puluhan ribu tahun. Apakah si babi ini juga punya ilmu rawa rontek atau aji pancasonya sehingga setiap tersentuh tanah hidup kembali?

    Ambisi Yonathan untuk memadukan penjelasan ilmiah dengan ilmu kebatinan malah menjadikan Lanang tak memuaskan keduanya. Bila memang para ilmuwan antek korporasi asing dalam novel ini sudah berhasil menciptakan berbagai makhluk transgenik: burung babi hutan, nyamuk berkepala tupai, sapi berpenampilan rapi, tikus bertelinga terang, dan masih banyak lagi, tujuan-tujuan akhir mereka begitu sepele. Di satu sisi, mereka ingin memasok obat untuk industri peternakan, di sisi lain mereka ternyata menciptakan ayam berkepala tiga untuk memuaskan hasrat pecinta kepala ayam, harimau berkepala kambing untuk mencegah penganiayaan anak-anak bila harimau dilepas di tempat umum, dan keledai berkaki jerapah agar ia meningkat kemampuannya makan daun-dauan di pohon-pohon yang 6nggi.

    Bila seseorang menguasai teknologi seperti itu, ia sudah menguasai dunia, karena dipastikan teknologinya bisa mencegah maupun berbagai penyakit. Atau setidak-fidaknya bikin kebun binatang ajaib macam
    Jurassic Park. Ngapain pula ia mesti repot membikin bangkrut peternak sapi perah Nusantara. Apa karena korporasi ini asing? Siapa pula sesungguhnya yang disebut asing itu: Amerika Serikat, Inggris, Uganda, atau Maladewa? Soalnya, sekalipun banyak akur dalam urusan kebijakan politik luar negeri di Timur Tengah, Amerika, Uni Eropa, dan Australia bertengkar hebat kalau yang dibicaran urusan dagang barang pertanian dan peternakan. Nah, mengapa korporasi asing ini memilih Nusantara?
    f
    Yang mistis pun hadir tak berkesan. Adegan Lanang memanggil Burung Babi Hutan dengan cara menelan berbagai biji (biji kasih, biji sukacita, biji kesetiaan, dan masih banyak lagi) yang ia ciptakan dari potongan daging yang ditetesi susu hewan dan cairan kemaluan wanita pun konyol sekali. Bagaimana yang mistis bisa memanggil yang transgenik? Ketika Lanang dituduh sebagai biang munculnya penyakit misterius, ia mengeluarkan mantra (di antaranya ada 'Hiphop makan pikir menggelinjang'), tetapi tidak terjadi apa-apa. Lantas, untuk apa ia berkomat-kamit?

    Sebetulnya, bila pretensi ilmiah ditanggalkan, Yonathan bisa lebih mudah mengolah Lanang bila ia merasa tak bisa atau tak mau menjelaskan bagaimana pembuatan makhluk-makhluk ajaib itu. la bisa menggarap novelnya dengan pendekatan komik superhero. Artinya, keajaiban yang muncul bisa diterima tanpa pembaca harus cerewet. Misalnya, Spiderman muncul setelah Peter Parker digigit laba-laba yang mengandung radio aktif; Hulk lahir setelah si ilmuwan terkena sinar Gamma; dst.

    Lanang bahkan berpotensi lebih menggedor lagi bila ia menyajikan potret riil intrik industri peternakan dan kesehatan hewan di Tanah Air. Tanpa Burung Babi Hutan, persoalan yang dihadapi masyarakat sudah menjanjikan banyak bahan bukan? Satu hal lagi yang tak tergarap, dan sebetulnya bisa jadi pesan kuat adalah pengobatan tradisional terhadap hewan yang dimiliki Indonesia. Lanang sudah sedikit menyinggung hal ini. Namun, alih-alih menjadikan pengobatan tradisional ini sebagai tandingan teknologi Barat, si pengarang justru makin menyudutkannya secara tidak langsung dengan menjadikan Dukun Hewan Rajikun sebagai antek dari Doktor Dewi si antek korporasi asing.
    Perayaan yang berlebihan

    Kesalahan berbahasa di Lanang ternyata menular sampai pujian-pujian yang ada di dalamnya. Hal ini makin memperlihatkan betapa tak tergarapnya penyuntingan buku ini.

    Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Budaya Republika, menulis:
    °Cara bercerita dalam novel Lanang memperkaya khazanah susastra Indonesia, sebuah cara penceritaan yang baru, rinci, telaten, namun arahnya pasfi dan penuh kejufan.°

    Terlepas komentar Ahmadun tepat atau tidak, pembaca yang kritis akan bertanya, °Bagaimana mungkin sesuatu yang arahnya pasti bisa penuh kejutan?°

    Kompas menulis:
    "Penyair yang dokter hewan ini dikenal dengan puisi-puisi kontekstual dan sosial. Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang."

    Mengapa memakai kata kendafi bukannya dan?

    Di akhir tulisan ini saya ingin bilang bahwa dengan segala kritik saya, saya menghargai usaha keras Yonathan Rahardjo. Namun, besar saja tidak cukup, tidak pernah cukup,
    Jakarta, 22 Mei 2008

    Chris Poerba: Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ (Interpretasi Novel Lanang)

    Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ (Interpretasi Novel Lanang)

    Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ [1]
    ( Resensi Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)

    Oleh : Chris Poerba


    ”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”
    ( Roberth Imam )


    Jurgen Habermas dari Mazhab Frankfurt Jerman, dengan pendekatan rasio komunikatif menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Antonio Gramsci juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini dan tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial yang diwahyukan Karl Marx sulit akan tercapai.

    Sihar Ramses Simatupang: Catatan yang Tertinggal

    Materi Bedah Novel Lanang 28 Mei 2009, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

    Catatan yang Tertinggal
    (tentang novel Lanang karya Yonathan Rahardjo)


    Oleh Sihar Ramses Simatupang *)


    Membaca sebuah karya sastra dan menghubungkan antara idealisme penulis – atau Budi Dharma menyebutnya ”obsesi”, Pramoedya Ananta Toer menyebutnya ”ideologi” dan saya menyebutnya visioner – adalah sebuah keniscayaan. Apa pun idealismenya, di karya sastra itulah, dibebankan segala pikiran si pengarang terhadap sejarah masyarakatnya.
    Barangkali benar, bahwa karya sastra adalah bagian dari imaji. Tak semua teks dihasilkan oleh rasio dan kognisi, tapi juga afeksi, rasa. Namun olahan rasa pun tak lepas dari biografi si pengarang, sikap hidupnya. Keduanya berpaut dan saling bertanggungjawab, dirasalah terdapat pengalaman terutama emosi atau kesan historis, di logika lah, segala kesimpulan si penulis sebagai salah satu kaum intelektual peradaban.
    Sebuah karya, novel apa pun, tak hanya mewariskan kesan kekinian, tapi juga rentet masa lalu dan ukuran nilai dan kenyataan masa depan.

    Hudan Hidayat: LANANG - PUNCAK NOVEL INDONESIA, Kejatuhan dan Kebangkitan Manusia

    Hudan Hidayat[1]:
    lanang[2] - puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia[3]
    lanang dan puncak puncak novel indonesia
    - untuk bla dan gieb
    dunia kepastian
    kehidupan selalu menarik untuk direnungkan kembali. Seorang ilmuwan mengamati gejala dalam dunia. Gejala yang berulang, dalam ruang dan dalam waktu. Ia membuat representasi kenyataan akan dunia, membentukkannya ke dalam sains. Sains, menjadi bentuk dari dunia yang ditemukan polanya. Ia menjadi hukum yang berlaku pada kenyataan dunia. Hukum di mana ilmuwan membuat klaim akan kepastian. Bahwa dunia stabil dalam pola. Tetap dalam bentuknya.
    Dalam bentuk dunia seperti itu, bentuk sains, keindahan juga melekat sebagai sesuatu yang terberi. Keindahan bentuk sains bagi mereka yang mencoba merenungkan kembali. Kita bisa melihat lapisan lapisan yang nampak, atau mengimajinasikan lapisan lapisan terjauh, di mana kita telah kehilangan kontrol indera atasnya. Alat bantu, yang adalah hasil sains, menautkan imajinasi kita akan dunia yang tak terindra itu.
    Dunia nampak indah – dunia yang berputar seolah mesin raksasa yang berputar.
    Seseorang bisa tampil dengan imajinasi: memberantakkan pola yang melekat dalam dunia sebagai hukum, ke dalam kehendak pencampuran, atau pembalikan hukum. Apa jadinya kalau hukum bumi mengitari matahari diputar, ke dalam bumi mengitari galaksi bima sakti? Atau dunia yang mengitari berjuta juta galaksi. Waktu setahun berantakan, terentang tak terhingga. Semua berubah, dengan tingkat kemungkinannya yang tak terduga. Apa jadinya kalau semua itu bisa diangkut sains ke dalam laboratorium, dan kita melihat tahapan tahapannya dalam laboratorium, di mana semua unsur unsur yang dibalik bekerja. Keindahan sains kini ada dalam pandangan mata.
    Tapi imajinasi seperti ini, mengalami tingkat kesukaran ganda. Pertama, apakah tenaga yang menggerakkan sehingga bumi berputar? Jelas dia adalah bagian dari hukum yang melekat dalam alam – bumi – sebagai sesuatu yang terberi. Tapi bagaimana menangkapnya? Membuatnya terperangkap ke dalam kanal, sehingga bisa diolah untuk kemungkinan lain – semisal menggerakkan bumi mengitari bima sakti, atau seluruh galaksi. Bukan semata mengitari matahari.
    Kesukaran kedua, mungkinkah tenaga yang menggerakkan bumi bisa ditangkap atau ditatap? Diangkut ke dalam lab, sebagai sesuatu, untuk diberi fungsi lain? Kita bisa menyaksikan sinar matahari yang merambat ke bumi. Merasakan getar panasnya. Gabriel bahkan telah membuatnya, atau membentuknya, ke dalam fiksi. Sebuah kemungkinan dari panas matahari yang dipantulkan melalui kaca, telah membuat sang pemimpi gila terbakar hampir seluruh tubuhnya.
    Itulah adegan awal dari novel seratus tahun kesunyian. Di mana hukum dunia dicoba dimainkan ke dalam fiksi. Tapi tenaga bumi? Sebuah energi yang tak nampak tapi telah dengan pasti membuat bumi kita berputar, adakah sains yang diangankan mengandung kepastian, bisa menangkapnya? Adakah kepastian sebagai sesuatu yang telah tertangkap itu, sekali lagi, bisa kita tatap tahapan tahapannya di dalam laboratorium. sebagai keindahan sains, yang bisa dikenali orang awan di dalam laboratorium.
    Bahwa itu belum terjadi, atau mungkin tidak akan terjadi, adalah beban yang disandang oleh manusia, kaum ilmuwan yang mendeklarasikan sains, sebagai dunia kepastian. Sebagai bentuk kerja mental manusia yang menguakkan misteri dunia, sehingga dunia tak bermisteri lagi. Dunia yang kehilangan misteri lagi, oleh sebagian ilmuwan, telah membuat mereka menggeser pandangan tentang tuhan, yang melekatkan kuasanya kepada hukum pada dunia.
    dunia yang diberantakkan
    lanang telah memberantakkan keindahan semacam itu – keindahan alami dari alam alami – keindahan organ organ mahluk hidup menjalankan fungsinya. Sains, kata ilmuwan, adalah kepastian atas dunia ciptaannya. Tapi kepastian tuhan tetaplah memiliki peluang untuk daya tawar.
    Atau hendak kita katakan: kepastian itu berbeda pada dua dunia: dunia alam fisik dan dunia alam mahluk hidup? nyaris tak terbayangkan menggeser hukum tuhan tentang bumi yang mengitari matahari, ke dalam sebuah pergerakan bumi mengitari galaksi bimasakti, atau berjuta juta galaksi. Sementara di dalam dunia mahluk hidup, sains telah melakukan pembalikkan atas hukum alam, seperti yang kita saksikan dalam novel lanang. Atau hukum pada alam fisik pun sesuatu yang mungkin diubah?
    Kalau demikian halnya, maka hanya soal waktu belaka akan tampilnya seorang dewi lain? - dewi di bidang seni novel antariksa? Di mana tatanan astronomi menjadi kacau, sebagaimana tatanan genetika manusia menjadi kacau?
    Novel Supernova, belum mencapai taraf imajinasi fsti esai ini. Baru merangkak pada ketakjuban akan dunia yang dilihat oleh tokoh tokohnya.
    Semacam proses kanibal dalam mesin. sebuah piranti dicopot, untuk digabung ke dalam tubuh induk. Hasilnya bukan pola induk lagi. Tapi pola induk yang sudah bercampur dengan kemungkinan fungsi yang berdampak lain.
    inilah yang terjadi dan memenuhi sekujur tubuh novel lanang. Di sana, sains diangkut ke dalam fiksi – ke dalam seni novel. Hasilnya adalah burung babi hutan di awal novel, ragam mahluk transgenik sebagai hasil biotek di ujung novel. Oleh sang novelis yang kehadirannya menakjubkan itu, seperti yang ditulis oleh prof. bambang sugiharto. Sayang, statemen bambang ini tak kita lihat elaborasinya. Pernyataan yang membuatnya setali tiga uang dengan prof. sapardi, yang pernah berkata bahwa sebuah novel belum pernah dicoba komposisinya di negeri ini, bahkan di dunia lain pun. Tapi hingga saat ini kita tidak pernah mendapatkan argument pendukungnya.
    rekayasa genetika, sebagai bentuk sains mutakhir terhadap gejala mahluk hidup, sangat mungkin menerobos imajinasi, mendarat ke dalam bentuk nyatanya. jonathan telah mengantarkan sains itu ke dalam sastra. Ke dalam bentuk seni novel. Tapi, dapatkah sastra indonesia berkata, bahwa ia telah memiliki seni yang mengangkut sains ke dalam tubuhnya?
    di awal telah saya tegaskan, bahwa keindahan datang dari pola alam yang terberi, yang melompat ke dalam bentuk barunya, yakni keindahan sains tentang alam fisik yang bisa kita tatap tahapan tahapannya di dalam kerja laboratorium, maka pertanyaan yang sama bisa kita ajukan kepada bentuk sains yang lain. Yakni sains tentang tentang genetika mahluk dalam novel lanang. Adakah keindahan kita temukan juga di sini? Apakah keindahan yang kita temukan itu telah indah pula dalam bentuknya yang lain, yakni bentuk sastra. Dengan lain perkataan, berhasilkah jonathan membentuk sains ke dalam novelnya? berhasilkah penulis gila dan amat istimewa ini mewujudkan proyek ambisiusnya tentang manusia?
    sains dan keindahan dalam lanang
    Kalau saya berbicara tentang keindahan, maka saya berbicara tentang sebuah struktur, tentang nuansa nuansa di dalam struktur, tentang pembelokannya dan penyatuannya. tentang proses berjalannya unsur unsur di dalam struktur. Tatanan yang secara persepsi nampak bekerja secara serasi, itulah struktur. Persepsi yang mendatangkan kenikmatan indera memaknainya. Tapi sekaligus dengan itu, saya berbicara juga tentang kekacuan sebagai gejala keindahan. Konon, hukum kedua termodinamika, mengabarkan kekacauan ini, sebagai hukum yang melekat pada semesta. Di mana semesta bergerak maju melalui dan menuju kekacauan. Dalam perspektif hukum ini, dunia mahluk hidup sebagai bagian dari semesta, maka bisalah disebutkan kehendak jonathan untuk memberantakkan mekanisme organ dalam tubuh, adalah di dalam visi kekacauan hukum kedua termodinamika. sesuatu yang nampak kacau, nampak indah dalam persepsi saya. Karena dengan kekacuan itu, terbuka daerah daerah kemungkinan kreatif
    yang bisa dimaknai.
    Begitulah sains yang hendak memporandakan struktur alami, akan mendatangkan keindahan di hati. Sebagai sebuah motif, dengan elemen elemen pendukung motif, yang dalam kasus novel sebagai karya seni, seni novel, maka elemen elemen pendukung novel. Sejauh manakah unsur unsur novel di dalam novel lanang mendukung motif sang pengarang, untuk mengubah pola alami dalam tubuh mahluk hidup.
    Plot dalam alur, alur yang meniti dalam plot, plot kejadian peristiwa atau plot kejadian pikiran, mengisahkan repetisi terhadap kisah genetika. Menjadi plot dan alur yang repetitif. Maka sekujur novel dipenuhi oleh suara suara tentang rekayasa genetika, dengan akibat awal sapi yang mati karena wabah yang disebar. Warna dasar novel muncul timbul tenggelam ke dalam tokoh dan waktu, yang juga timbul tenggelam. Novel bergerak seolah karikatur sebuah negeri. Di mana hal ihwal tak gampang dikuakkan - semua nampak mengambang. Memendek atau memanjang. Di mana rasio berpadu dengan unrasio. keagungan berbalut dengan kebusukan. Dibayang bayangi kuatnya peran narator dalam novel, narator yang sepintas tak cukup demokratis kepada kebebasan tokoh, elemen elemen novel bergerak maju mendorong novel.
    Dalam repetisi seperti itu, pembaca mungkin berpikir untuk membuang bagian bagian novel yang tidak penting, bagian bagian yang bisa dihilangkan tanpa mengurangi maksud novel. Atau, mengintensifkan bagian bagian semacam itu, sebagai penguat novel. Tapi saya memperlakukannya sebagai gejala dunia yang saling komplemen. Serupa ranting kecil yang tumbuh di sebuah batang yang rindang. Dengan ranting seperti itu, maka satu satunya ukuran, kalau pun hendak disebutkan ukuran, adalah dengan menyimak kedalamannya – kedalaman makna yang dikandung ranting. Bukan menyibak semata arti kehadirannya, dalam konteks pohon yang besar – novel lanang.
    Apa yang khas pada lanang adalah, peristiwa sering terjadi tanpa deskripsi. Ide seolah lepas dari tubuh – tubuh novel.
    Apakah artinya seorang anak peternak sapi yang meratapi sapinya yang mati? Anak yang tak nampak dalam penceritaan, tiba tiba menyeruak sebagai peratap sapi yang mati. Inilah tokoh yang datang mendadak. tekanan material tangis dan kesedihan di sana masih ada, tapi tangis dan ratapan di sana terasa kehilangan timbangan maknanya.
    Dengan cara yang sama, hal ini bisa kita lihat dalam sebuah momen yang diturunkan jonathan sehalaman penuh, tentang seorang peternak yang meratapi sapinya yang mati. juga mereka yang ramai bicara tentang sebab sebab bencana, dalam selang seling pendapat yang hanya ide, tanpa deskripsi dan tanpa tahu siapa mereka yang bicara.
    Semua itu membuat novel menjadi bising ide, tapi kehilangan sentuhan untuk mendiskripsikan manusia ke dalam gerak fisiknya, yang bisa kita maknai manusia yang bergerak dalam realitas sehari-hari. Di mana sebuah kesedihan, adalah kesedihan yang bisa kita ikut rasakan vibrasi rasanya. Di mana sebuah kekalutan, adalah kekalutan yang bisa pula kita rasakan debar paniknya.
    Tapi harus segera kita katakan, bahwa lanang memuat sekaligus bising ide dan deskripsi peristiwa dan pikiran, yang membuat pembaca terhenyak. Di mana peristiwa yang digambarkan benar benar mendebarkan. Seakan campuran dunia nyata dan dunia mimpi yang tak mungkin terjadi. Tapi ia hadir sebagai pemandangan realis di dalam novel. Lihatlah bagaimana mencengkamnya kejadian burung babi hutan yang kasmaran di depan suami istri yang sedang di puncaknya: bermain burung. Lihatlah bagaimana jonathan menghadirkan ide ini dengan mendadak di tengah permaianan burung yang sedang berlangsung.
    Kejadian yang dilukiskan jonathan ini, dengan skala kemungkinan rekayasa genetika pada tema utama novel, adalah sebuah tamparan yang keras bagi pendukung uu pornografi. segera terbukti, bahwa deskripsi persetubuhan yang dilarang dalam uu itu, menemukan bentuk, atau sebuah hal yang niscaya, dalam novel lanang. Ia bukanlah tempelan belaka, mengejar sensasi kehadapan publik tentang hubungan terlarang tapi hendak diungkapkan. Tapi adalah bagian utama yang mendukung misteri novel: rekayasa genetika yang berbuntut kehadiran burung babi hutan, dengan sikap sikap misterinya.
    Pelukisan hadirnya sesuatu yang buas di tengah kekusyukan hubungan suami istri itu pun, adalah teror yang begitu sempurna dihadirkan seorang pengarang sastra, kepada kehidupan manusia. Seolah kejadian itu ingin mengejek kefitrian hubungan suami istri, hubungan yang akan membuahkan kelangsungan kemanusian. Teror bagi isyarat bahwa kemanusiaan, seolah akan berhenti di dalam novel. Maka dua dunia, yang memang selalu hadir di dalam kehidupan manusia, dunia penuh kemanusiaan yang dilambangkan dengan persetubuhan suami istri, dunia alam binatang yang mendapatkan wujudnya melalui burung babi hutan yang kasmaran, tapi dengan sikap seolah manusia yang mengancam. Atau dunia regulasi kaum politik, yang seolah hendak memberikan napas segar bagi kehidupan, tapi pada saat yang sama, hadir pula dunia pemangsa yang disandang oleh sang regulator itu sendiri.
    Dalam pelukisan ini, sering novel seolah kehilangan hubungan sebab dan akibat dalam tatanannya. Bersamar dengan kekaburan atau kecanggihan memainkan bahasa, yang terbaca sebagai bahasa yang sengaja menutup motif, sehingga motif masuk ke dalam sebuah misteri yang hendak dijadikan payung oleh novel. Puteri, yang dilukiskan sebagai istri yang menyayang suami dan lanang pun, sebagai suami yang menyayang istri. Itulah tangkapan awalnya, sebelum kita diajak masuk ke dalam alur yang berkembang dan plot novel yang berputar timbul tenggelam – seakan jonathan ingin menyampaikan kisah novel secara serempak, seakan tenaga penceritaan begitu berlapis saling menekan sehingga ia mendesak dan menyelinap ke dalam alur ke dalam plot menjadi peristiwa, menjadi renungan, dan membelokkan novel dari arahnya semula, ke arah yang tak terduga. Begitulah kita bisa menimbang puteri, yang pada kehadiran burung babi hutan demikian dicengkam rasa takut, tapi pada kehadirannya yang
    lain, kita sudah dibawa pengarang kepada rasa takut yang dimainkan secara bahasa. Sehingga kita kehilangan jejak atas tokohnya: bagaimana dari rasa takut menjadi dia yang mengalami persetubuhan dengan sang “babi”.
    Novel menguakkan ini melalui pernyataan dewi, bahwa sang puteri, atau rajikun, atau dewi sendiri, sebenarnya saling berkorelasi dengan lanang dalam hubungan dengan rangkaian dendam yang datang dari masa lalu.
    Repetisi itu, menemukan juga bentuk keindahannya yang lain dalam sains, bukan pada semata hasil yang dipandang sebagai wabah – burung babi hutan dengan segala efeknya. Tapi pada makna rekayasa genetika dalam novel. Sehingga novel lanang meraih inti: bahwa ilmu, dengan bumbu penyadap tahyul, adalah bisa mengubah hakekat manusia yang terberi pada tempatnya. Dengan kombinasi pengamatan pada materi, sel, kimia, dipandu dengan kecanggihan ilmu komputer, maka esensi manusia nampaknya bisa diubah – baik bentuk tubuh, maupun isi kesadarannya.
    Sekujur tubuh novel lanang, dipenuhi oleh tema ini: gen mahluk hidup yang bisa diubah, atau, tepatnya: yang hendak diubah.
    Tapi haruslah dikatakan, sains pada novel lanang, tampil bukan dalam bentuk kerjanya yang nyata, tapi dalam wujud berupa statemen. Sepanjang pengembaraan novel ini, yang kita saksikan adalah logika sains tentang berpindahnya gen, bukanlah pengamatan yang mendetilkan tentang mutasi gen di bawah miksoskop. Dan alangkah mendebarkannya, seandainya proses gen yang berubah dengan dicangkok, di dalam pengelihatan mikroskop, terlihat dalam mata kita melalui tahapan tahapan detilnya dalam novel. Kemungkinan inilah yang bisa meneruskan halaman halaman awal seratus tahun kesunyian, ke dalam tubuh dan semangat sekujur novel lanang: kehendak untuk mengubah gen mahluk.
    Kita ingin tahu apakah benar mutasi gen yang diprovokasi ke dalam tema utama memang terjadi di alam nyata. Apakah ada ciptaan serupa itu.
    Achmad maulana, meyakini yang dilakukan manusia bukanlah penciptaan. Sebab fungsi ini hanya dimiliki oleh tuhan. Manusia tidak bisa mencipta dari sesuatu yang tidak ada. Dia hanya bisa mencipta dari apa yang sudah ada. Tapi rayni membantahnya. Bahwa membuat dari yang sudah ada juga adalah mencipta. Dan gen, adalah sesuatu yang sudah tersedia, terberi di setiap mahluk hidup.
    Kita lepaskan polemik tentang arti penciptaan di milis apresiasi sastra itu, masuk ke dalam rekayasa genetika. Bahwa gen bisa dimutasi. Kalau demikian halnya, maka terbuka kemungkinan untuk sebuah perpindahan gen baik secara rekayasa atau secara alami. Ini akan membenarkan, atau setidaknya memberikan jalan, bagi hidupnya kemungkinan terori Darwin, tentang asal usul manusia kini, dari species yang amat sederhana – sesuatu yang, konon, telah ditolak: tak mungkin ada perpindahan gen serupa itu.
    Maka dengan dua belahan semacam itu, menjadi sangat mendebarkan kehadiran jonathan dengan rekayasa genetika dalam seni, seni novel. Dengan berdebar pembaca ingin mengetahui tiap detilnya perpindahan gen, ke dalam atau di bawah pengamatan kerja laboratorium yang bisa kita tatap bersama tahapan tahapannya. Tahapan yang mengandung asumsi, dasar pemikirannya yang telah terceritakan dalam novel lanang. Sehingga pembaca novel lanang bisa ikut memasuki alur pemikiran gen dalam tahapan kerjanyanya. Bukan dalam bentuk statemennya.
    Tapi lanang tidak melakukan itu. Dengan begitu pembaca hanya disuguhi tentang sebuah hal yang seolah telah terjadi, kehilangan kesempatan untuk mengikuti tahapan tahapan mutasi gen. dengan demikian gagalkah novel jonathan sebagai seni yang membawa sains ke dalam fiksi? Tidak. Justru jonathan sangat fenomenal sebagai sastrawan yang mengankut sains ke dalam seni novel. Tapi pada tahapan pernyataan sains alias statemen sains. Maka, kalau hendak dirujukkan kepada keindahan, keindahan datang bukan dari diterapkannya sains ke dalam peristiwa yang bisa diamati tahapan tahapannya, tapi pada telah dilakukannya statemen sains pada peristiwa peristiwa yang membuat plot dan alur novel lanang berjalan.
    Dengarlah kata dewi sambil menunjuk kepada sosok sapi yang lucu:
    Gensa, kau lahir sebagai rekayasa gen manusia yang disuntikkan ke dalam sel telur sapi, ditumbuhkan dalam tabung percobaan sampai menjadi emribo yang selanjutnya dicangkokkan ke dalam rahim indukmu, dibiarkan berkembang.
    Dan kau frida, kau domba betina yang berasal dari sel ambing atau kelenjar susu domba dewasa berumur enam tahun.
    apa yang disuarakan dewi adalah statemen sains, bukan sains yang bekerja setapak setapak di bawah uji laboratorium, di bawah mikroskop.
    Bahkan lanang sekalipun, yang di akhir novel nampak menemukan nasibnya yang sangat mengenaskan, adalah juga statemen sains. Lanang yang ginjal dan hatinya telah ditukar dengan ginjal dan hati burung babi hutan.
    Dengan mengatakan sains sebagai statemen, bukan sebagai liku yang didetilkan ke dalam sebuah proses, bukanlah maksud saya hendak mengurangi nilai kedahsyatan novel ini. Saya beranggapan, sekalipun dalam tingkatan statemen, novel lanang telah sangat berhasil memprovokasi tema yang dibawanya. Yakni visi tentang esensi manusia bisa diubah, seandainya hukumnya ditemukan. Rekayasa genetika, sangat mungkin bisa diterobos ke dalam dunia nyata, bukan fiksi lagi.
    Novel pun mengakui bahwa upaya mengubah ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Sekalipun telah terjadi pergerakan genetika, rekayasa gen itu telah menyisakan efek samping, sementara hasil maksimal perpaduan belum menampakkan hasil yang maksimal. Banyak ekses mutasi gen ini, kata dewi. Tapi optimisme tentang esensi manusia yang hendak diangkankan lebih sempurna, bisa terus diupayakan dengan kemajuan sains biotek.
    Pada keberhasilannya memprovokasi tema rekayasa genetika, adalah letaknya keindahan novel lanang. Bahwa manusia, walau penuh kontroversi dalam pandangan nilai moral formal, memiliki daya untuk menawar kehidupan yang seolah tak bisa diubah. sekali hukum ditemukan, maka pola untuk mengubah esensi manusia, menjadi wilayah yang terbuka.
    Menjadi pertanyaan penting di dalam sains: adakah hukum dalam terbentuknya nyawa itu? apakah dengan menemukan polanya, maka manusia pun bisa membuat nyawa?
    Lanang, puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia
    Apa yang dibawa oleh novel lanang, yakni sains ke dalam sastra, memang bukanlah langkah pertama dalam pengertian sains. Kalau dunia computer bisa kita masukkan ke dalam alur sains, burung burung manyar pun telah melakukannya saat setadewa membongkar jaringan ekonomi global yang memanipulasi angka angka dalam dan saat berhubungan dengan pihak Indonesia. Manipulasi yang begitu rumit dan membutuhkan pengetahuan sains tingkat tinggi di bidang computer.
    Tapi benar: tubuh novel burung manyar bukanlah bernapaskan sains.
    Supernova pun telah membawa wawasan sains ke dalam alur ceritanya. Dengan intensitas yang terpecah kepada tokoh tokoh yang menyebar, wawasan sains yang dibawa supernova bisa dikatakan cukup intensif. Tetapi yang membedakan di sana: pada supernova sains tentang alam fisik itu, tepatnya astronomi, tampil sebagai diskusi yang manis yang tak berdampak apa pun. Sains di sana adalah sains yang normal. Bukan sains subersiv sebagaimana dalam dunia novel lanang.
    Di lepaskan tema sains di sana, maka yang kita dapati pada supernova adalah kaum kelas menengah yang mapan dan terjebak dengan kesunyian hati masing-masing. Tak ada visi tentang kehidupan yang hendak mereka wujudkan. Dalam semacam tesis untuk tema dan isi novel, yang dipajang sebagai pintu masuk novel, supernova menegaskan semacam pendirian. Yakni: “hanya ada satu paradigma di sini: keutuhan. Bergerak untuk satu tujuan: menciptakan hidup yang lebih baik. Bagi kita. Bagi dunia.”
    Tapi penegasan semacam itu tidak membuat novel bergerak ke suatu tujuan aksi, atau renungan utuh akan dunia yang lebih baik. Tokoh tokoh novel berakhir dengan ringan, semacam ending dari film film yang bahagia, di mana persoalan atau lanskap laku hanyalah seolah jalan untuk melapangkan kebahagiaan semacam itu.
    Begitulah tokoh ruben dan dhimas berakhir dengan manis. Dengan ucapan ucapan lembut kedua lelaki terhadap pasangannya. “Mereka lalu berpegangan tangan erat. Dua pria yang tak punya nama belakang di dalam sebuah kamar kerja. Saling mencintai.”
    Tentu saja tiap novel bergerak dengan logika dan kisahnya sendiri. Adalah hak tiap pengarang menggarap wilayah kerjanya. Tapi kalau kita letakkan novel sebagai upaya memperkaya pengenalan kita kepada hakekat manusia, maka ideal novel adalah yang bisa menguakkan apa hakekat manusia itu. Apa manusia dan bagaimana hakekatnya, hanya bisa dilayani dengan geraknya pada tiap masalahnya. Ini berarti sang novelis harus menyiapkan semacam medan tempur untuk tiap tokoh novel. Sehingga dari medan tempur semacam itu sang tokoh, bisa mewujudkan dirinya siapa dia di dalam dunia. Sekaligus menguakkan apa dunia itu. medan tempur semacam itu hanya menjurus ke satu jurusan: manusia di tengah “masyarakatnya” dan “situasinya”. Dengan berada di tengah masyarakat dan situasinya, dia bisa mendudukkan diri sebagai manusia aksi, atau manusia yang menyiapkan renungan terhadap gerak dan hakekat hidup.
    Sejak layar terkembang, siti nurbaya, belenggu, bumi manusia, Ziarah, telegeram, burung manyar, olenka, sampai saman, untuk menyebut novel novel yang sering menjadi pembicaraan oleh pengamat pengamat sastra yang resmi itu, novel Indonesia selalu berpola dengan tipologi garis tegas antara tokoh baik dan tokoh buruk. Ada pertarungan dan kadang kadang si buruk memenangkan pertarungan – seperti kita lihat kolonialisme yang mengalahkan nyai ontosoroh dan mingke dalam bumi manusia. Atau bandul bergerak kepada tokoh yang baik serupa setadewa dalam burung manyar, Drummond dalam olenka, mereka yang mewarisi spirit orang baik atau tokoh yang baik yang telah dimulai oleh layar terkembang, akan menang di akhir pertarungan. Begitulah tipologi tokoh dalam sastra Indonesia mutakhir, khususnya novel, adalah pemihakan kepada tokoh baik yang menang di dalam medan laganya.
    Tapi dengan kehadiran lanang, tipologi tokoh semacam itu seolah runtuh: lanang tak menyisakan tokoh baik dalam dirinya. Lanang bukan saja menjadi novel pertama yang dengan intensitas kepada sekujur tubuh novel, mengangkut wawasan sains ke dalam tubuhnya, tapi sekaligus membawa perubahan pada tipologi tokoh dalam tradisi pernovelan. Yakni hancurnya anggapan atau pemilahan tokoh baik dan tokoh buruk. Ini adalah filsafat baru yang sangat berani dalam dunia pemikiran di negeri ini, yang dalam ranah idealnya menghendaki sebuah etik yang imperatif: bahwa manusia haruslah menjadi juru selamat masyarakat.
    Begitulah anggapan terbenam. Tapi dibongkar oleh kerja novel lanang: kenyataan memperlihatkan sebagian wajah kita, kalau tidak seluruhnya. Manusia indonesia sakit, kata muhtar lubis. Tapi harus segera kita tambahkan: manusia dunia juga sakit. Betapa manusia ditelanjangi, dilucuti, dari anggapan anggapan baiknya oleh novel lanang. Kebaikana di sana menjadi sekaligus kebusukan di sana. Bahwa manusia mengandung unsur kejahanaman dan kejahanaman bisa saja menang melawan hakekat dari keping manusia yang lain – keagungan.
    Dalam arus dunia itu, lanang nampak memilih sisi apa yang telah dikatakan tuhan itu sendiri: kelak kalian akan berbunuhan satu sama lain. Kebusukan, lawan dari keagungan, yang diterminologikan oleh kitab itu sebagai berbunuhan satu sama lain, adalah salah satu wajah dunia yang dipilih sepenuhnya oleh novel lanang. Maka pada lintasan ini, kita bisa berkata bahwa lanang telah menyalib novel novel pendahulu mereka.
    Sangat mungkin kutipan dari sebuah kitab akan ditolak oleh pembaca. Tapi kalau diletakkan betapa relatifnya dunia, juga dunia sains yang kehilangan kepastian kalau ruang dan waktu ditempatkan secara lain, katakanlah ruang dan waktu di matahari, maka semua bahan yang terbaca bisa menjadi bahan untuk suatu telaah yang menyeluruh. Anggaplah kitab itu sebagai sebuah teks sains social, yang kedudukannya sama dengan pemikiri pemikir social yang sering menjadi kutipan dalam perbincangan di dunia humaniora. Maka dengan jalan seperti itu, kita mendapatkan suatu justifikasi dari pilihan wajah kebusukan dalam novel lanang. Novel mendapat sandaran filosofisnya yang, mungkin, tidak disadari oleh sang penulisnya sendiri.
    Novel yang disampaikan dengan pendekatan thriller ini, menempatkan manusia dalam posisi yang penuh dengan kontradiksi. Dan sikap atau ideologi yang dipilih serupa itu, membuat lanang tak memiliki jalan keluar dari krisis kemanusiaan – kalau pun krisis kemanusiaan itu memang ada (pemanasan global, politik yang terus menampakkan wajah unhumanis). Malahan membawa kepada krisis kemanusiaan yang baru: hancurnya manusia dan bangkitnya iblis berupa manusia dengan kehendak merekayasa mahluk. kebangkitan manusia dengan mengandalkan otaknya, adalah sekaligus kejatuhannya sebagai mahluk yang ingin membangun peradaban. Pernyataan baik dan buruk yang berselang seling melalui tokoh lanang dan kepala koperasi misalnya, hanyalah semacam wacana untuk meledaknya sifat sifat jahat pada manusia. Mewujud sikap baik manusia ke dalam kehendak untuk melihat perbaikan masyarakat, tapi serentak dengan itu ia tertelan dengan kejahatan dalam dunia seksual dan kehendak untuk
    memasuki dunia dagang. Dunia penjualan obat obatan.
    Pada titik ini, novel sungguh adalah dunia kejatuhan manusia yang sempurna. Segenap kontradiksi bemain di sini. Kontradiksi yang dimulai dari dan menghidupi tokoh tokoh novel. Jadi bukan hanya tuhan telah mati tapi manusia baik pun telah mati. Juga dewi dan “zhang ziyi” telah mati. Semua tokoh tokoh novel membawa masa lalunya yang kelam, dan dalam satu arti, gerak novel datang dari motif masa lalu itu. Dengan penceritaan yang berselang seling realis ke surealis, novel nampak seolah dunia mimpi yang menyeramkan. Mimpi panjang dari derita hidup pelaku pelakunya, yang hidup dengan motif membalas dendam. Lihatlah tokoh tokoh novel bergerak dan menguakkan masa lalu itu, lalu terjerembab ke dalam napsu hendak membalas.
    Di sini, bisa kita katakan novel memperlihatkan keunggulannya. Nampak betapa tokoh tokoh seolah konsisten mengejar kemajuan dalam versinya sendiri. Tapi kemajuan yang sekaligus kejatuhannya. Dewi hendak membangun dunia baru tapi dunia baru itu penuh dengan mahluk hidup yang dikorbankan. Ambisi ini membuatnya menjadi tokoh yang telah kehilangan nurani sebagai manusia. Lanang adalah dokter hewan yang idealis tapi kemudian terjerembab ke dalam kejatuhannya sendiri. Rajikun adalah tipologi tokoh yang bermain dalam wilayah agama dan lalu tersesat, untuk kemudian membalas dengan cara lain. Juga puteri istri lanang.
    Begitulah kita tak menemukan manusia baik di novel ini. Semua nampak mengerikan. Satu satunya manusia baik adalah peternak sapi pak sukarya. Tapi toh kita tidak tahu apa yang terjadi pada malam malamnya. Dan ada yang membuat saya berpikir, bahwa novel penuh dengan misteri ini, diakhir novel malah menguraikan kejahatannya sendiri. Kejahatan diakui. Bukan dipaksa untuk diakui oleh varian di luarnya, atau oleh sang narator dalam novel. Tapi oleh tokohnya sendiri yakni dewi. Tokoh yang maha perkasa. Iblis betina yang menjadi pemain inti dari segenap kekacauan.
    Apa yang menarik adalah: seolah novel adalah cerminan, atau simulasi, dari dunia pembalasan oleh dunia sana kelak. Di mana anggota tubuh bicara sendiri tentang lakunya di dunia. Dan itu terjadi ketika dewi menjelaskan segala misteri dan keanehan novel. Ia menguraikan satu demi satu apa yang telah dilakukannya, di dalam bayang bayang kehendak untuk meraih kemajuan, sekaligus kejatuhannya sebagai harga dari kemajuan yang hendak dicapai itu.
    Nyaris tokoh bergerak tanpa timbangan kemanusiaan normal. Kalau pun ada suara semacam hati yang berdosa, dengan cepat dendam masa lalu serta kemajuan masa depan menutup jalan bagi tokoh tokohnya. Rasa bersalah dibenamkan oleh kehendak untuk berkuasa, dalam bentuknya yang paling dingin dengan mencabut hidup normal dari orang orang yang dikasihinya dan pernah dicintanya. Bahkan masih dicintanya.
    Dengan semua ilustrasi itu, maka jelas lanang telah membawa visi baru tentang manusia yang diangkut ke dalam novel – sebuah visi yang menampakkan hakekat satu sisi manusia yang secara radikal. Yakni wilayah setan. pada lanang trace tokoh etik telah diakhiri. Dia bergerak dan mulai mengibarikan jejak baru pada kenyataan manusia. Apa yang dikerjakan lanang serupa dengan sebuah novel yang menyorot sisi baik dan sisi buruk ke dalam alam bintang dari tingkah laku manusia, yang berselang seling pada dirinya dan pada orang lain. Novel tentang kekosongan. Dari hidup yang kosong dan dari tuhan yang kosong. Dalam kehadirannya dengan ciptaannya. Kosong dari ketiadatahuan kita tentang sebuah kepastian yang hanya miliknya semata.
    Melayari alur filsafat semacam itu, lanang kadang serupa hendak membalik arah lagi melalui naratornya – seakan ada kilas kehendak untuk berbuat baik atau menghujamkan nilai nilai baik kepada manusia, yang hendaklah berlaku terhadap tokoh yang sedang diceritakan oleh narator. Tapi tampaknya narator pun akhirnya menyerah dengan desakan desakan dari sang tokoh sendiri, yang memang meledak ke dalam sifat sifat kebinatangan yang tak tertahankan. Kehendaknya untuk totaliter akhirnya tak berdaya dengan tokoh yang menempuh jalan alam kebinatangannya sendiri.
    Tapi dengan begitu lanang jadi bercahaya. Novel menampakkan salah satu sifat yang melekat pada manusia tanpa ragu. Tuntas mengelaborasinya ke dalam wilayah kerja yang digelutinya: rekayasa genetika. Kehendak untuk menyambut dan melawan takdir tuhan atas manusia. Ia menjadi tantangan untuk membuka wilayah kemungkinan baru. Mungkin ia menjadi binatang. Tapi siapa tahu suatu saat ia malah berbalik menjadi tuhan.
    (hudan hidayat)



    [1] Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,
    [2] Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006
    [3] Makalah HUDAN MENAFSIR LANANG Percakapan Kreatif Bersama HUDAN HIDAYAT Berdasar Pembacaan Novel LANANG Karya Yonathan Rahardjo Penerbit Pustaka Alvabet Kamis/ 13 Nopember 2008 Pukul 19.00- selesai di NEWSEUM CAFE Jl Veteran I/ 33 Jakarta Pusat Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703 Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG