Tommy M J Sihotang: Novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif

http://pakkatnews.com/menguak-tabir-hegemoni-prostitusi-intelektual-interpretasi-novel-lanang.html


Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ (Interpretasi Novel Lanang)

( Resensi Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)
Oleh : Chris Poerba
Publikasi : Tommy M J  Sihotang
”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”
( Roberth Imam )
Jurgen Habermas dari Mazhab Frankfurt Jerman, dengan pendekatan rasio komunikatif menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Antonio Gramsci juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini dan tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial yang diwahyukan Karl Marx sulit akan tercapai.
Gramsci yang juga pernah mengalami kegelisahan karena tidak hadirnya revolusi sosial di Italia dan pernah dipenjara saat Fassisme Mussolini, menambahkan bahwa revolusi tidak terjadi karena bourjuis atau pemilik sumber daya dan penguasa sudah tidak lagi menggunakan alat-alat negara seperti dengan militerisme (dominasi = hardpower) tapi menggantikannya dengan cara-cara yang lebih halus (hegemoni = softpower). Sehingga telah dirubahnya cara-cara mencapai kekuasaan. Dari sebelumnya dengan Dominasi yang memperoleh kekuasaan dengan pendekatan kekerasan baik dengan anarkhisme maupun vandalisme, telah dirubah dengan pendekatan Hegemoni dengan memperoleh kekuasaan melalui kesepakatan atau persetujuan. Bourjuis tentunya jelas memiliki kekhawatiran bila terus-menerus melakukan dominasi totalitarianisme maka akan mendapat perlawanan secara terbuka pula sehingga mekanisme dilakukan dengan cara-cara hegemoni. Dominasi menjadi tersamarkan meskipun sangat nyata dalam keseharian.
Dunia ’kapitalisme tingkat lanjut’ atau dominasi yang disamarkan oleh penguasa ini jelas masih dalam logika ekonomi pasar. Sehingga hegemoni dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, adalah sosialisasi ide-ide dan pencitraan dari bourjuis kepada proletar supaya proletar dapat mengembangkan dirinya sedikit menyerupai bourjuis. Padahal dalam kategori proletar yang telah menjadi bourjuis tetap saja dipandang sebelah mata oleh bourjuis utama. Dalam kategori ini maka proletar yang berupaya menjadi bourjuis pastinya hanya menjadi ’bourjuis abu-abu’ bisa juga dikategorikan sebagai kelas menengah. Pencitraan di sosialisasikan dengan memberikan pemahaman mengenai gaya hidup termasuk diantaranya cara berpenampilan, berbusana bahkan sampai pada berbicara. Kedua, Setelah sosialiasi ide-ide sudah gencar dilakukan tahapan berikutnya adalah menjual berbagai macam produk-produk dan teknologi. Sehingga dari konsep diatas maka yang pertama dilakukan adalah marketing ide dan selanjutnya adalah marketing produk. Sehingga diciptakanlah sebuah ’mekanisme ketergantungan’. Hal ini juga yang merupakan inti sistem kapitalisme yaitu selalu mengupayakan sebuah mekanisme ketergantungan
Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo yang telah menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 ini mendeskripsikan sebuah sistem kehidupan dalam pola ’kapitalisme tingkat lanjut’ bahkan novel ini sanggup me-narasi-kan hegemonisasi dalam keseharian hidup. Mengingat novel dapat membuat alur cerita dan dialog-dialog panjang bahkan diskursus antar para subyek yang saling bertentangan di dalamnya. Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri rekayasa genetik global) yang ditanam dalam keseharian hidup dengan bantuan kerja-kerja prostitusi intelektual. Prostitusi intelektual karena ilmuwan sudah bukan lagi bekerja atas dasar ilmu dan pengetahuan bahkan nilai-nilai kemanusiaan. Melainkan hanya logika ekonomi semata.
Dalam novel ini sebenarnya tergambar bahwa desa pegunungan yang merupakan wilayah koperasi kerja Lanang tidak terdapat sebuah masalah yang dikatakan sangat mendesak untuk segera ditangani, apalagi dengan kebutuhan harus melangsungkan rekayasa genetik/ bioteknologi sebagai satu-satunya jalan keluar. Semua berjalan dengan alami. Diceritakan juga semua aspek berjalan dengan sangat normal seperti kelahiran anak sapi, keluarga yang rukun, peternak sapi pernah yang memiliki keinginan yang masih dalam tahap wajar, pihak koperasi juga menunaikan kewajibannya dengan baik. Sehingga habitus di wilayah pedesaan ini berjalan dengan sistem yang terkelola dengan baik.
Proses hegemonisasi ini dimulai dengan dihadirkannya Burung Babi Hutan. Kemunculan Burung Babi Hutan ini sengaja untuk mengganggu habitus yang mulanya sangat tenang dan damai. Digambarkan sosok Burung Babi Hutan yang merupakan hewan transgenik. Setelah kemunculan Burung Babi Hutan atau Berwujud Babi Hutan Bersayap ternyata Pak Sukarya mendapati anak sapinya yang baru lahir sakit, sebuah penyakit sapi yang misterius. Pada akhirnya terjadilah wabah kematian pada sapi-sapi perah secara beruntun. Uniknya wabah penularan hanya terjadi pada sapi-sapi perah, sedangkan sapi potong tidak terserang. Dan juga tidak ada penularan dari sapi perah ke sapi potong. Singkatnya puncak kekalutan tidak hanya terjadi pada area peternakan Lanang tapi juga bagi para dokter hewan lain, bahkan sampai kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat
Kehadiran Burung Babi Hutan yang merupakan makhluk transgenik ternyata sengaja diciptakan untuk memberikan kekacauan pada sistem. Sebuah keberhasilan hegemonisasi yang dilakukan prostitusi intelektual yang melibatkan sejumlah pelacur-pelacur intelektual dan jaringan kerjanya, seperti Dokterandus Sukirno yang menjabat sebagai Pemimpin Koperasi, Penagih hutang ’Bank Kredit Menyicil’ di Lokalisasi-nya Rafiqoh. yang ternyata juga termasuk dalam skema jaringan pelacur intelektual, Mister Robert, Dokter hewan bule lulusan universitas ternama di luar negeri, Konsultan dan Anggota Dewan Pakar Kesehatan Hewan Nusantara, Tamu dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, baru bergabung dengan perusahaan besar di Nusantara, kekasih Doktor Dewi dan pada akhirnya juga anggota dan membantu di Divisi Pakan Ternak Transgenik, Rajikun mulanya disebut sebagai pengamat peternakan dan kesehatan hewan, tapi bukan Dokter Hewan dan dinyatakan sebagai Dukun Hewan, juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tindakan asusila, juga bersetubuh dengan Putri saat menjadi Burung Babi Hutan, yang ternyata adalah Kepala Divisi Obat Transgenik untuk Hewan, dan otak utama dari proses hegemonisasi prostitusi intelektual ini didalangi oleh Doktor Dewi Maharani, pernah menjadi kekasih Lanang semasa kuliah, dimana hubungan mereka putus setelah Dewi menginginkan Lanang mengikuti agama kepercayaannya, seorang dokter dengan latar belakang bioteknologi kehewanan, yang ternyata memegang Divisi Ternak dan Hewan Transgenik sekaligus Pimpinan Institut Peduli Kesejahteraan Total. Bahkan Putri istri Lanang juga terlibat konspirasi karena kedekatannya dengan Dewi semasa kuliah
Langkah berikutnya yang dikerjakan prostitusi intelektual berharap dapat memegang semua kepala penentu kebijakan negeri dengan memaksa Menteri Kehewanan untuk mengatakan secepatnya ke publik bahwa penyakitnya adalah Burung Babi Hutan dan mengesampingkan para ahli yang berseberangan. Menteri Kehewanan ’dipaksa’ untuk mengeluarkan pernyataan utama bahwa penyebab kematian sapi perah adalah Burung Babi Hutan dengan bujukan bahwa obat penangkalnya pasti akan ditemukan termasuk juga mengundang ke laboratorium yang akan membuat obat tersebut termasuk untuk tentunya juga mengenalkan perusahaan obat tersebut. Termasuk dengan melakukan suap kepada penguasa. Semua mekanisme tersebut bahkan hampir melanggar prosedur yang terlebih dahulu harus mendengar pendapat dari Tim Penyidik Penyakit Sapi Nusantara. Pada akhirnya pengumuman penyebab penyakit dinyatakan juga yaitu Burung Babi Hutan oleh Tim Ahli Pemerintah atas wewenang Meteri Kehewanan. Pernyataan menteri yang bersifat resmi ini merupakan persetujuan dan legitimasi lisan, sekaligus menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi eksperimen-eksperimen selanjutnyta dari para prostitusi intelektual (Mister Robert, Rajikun, Sukirno dan Doktor Dewi sebagai dalangnya).
Pada saat tertangkapnya Burung Babi Hutan, maka prostitusi intelektual memberikan klaim legitimasi ke publik atas keberhasilannya, maka diadakan Undangan Seminar Nusantara Pengenalan Teknologi Canggih Peternakan Pasca Bencana Nusantara Penyakit Misterius yang difasilitasi oleh Institut Peduli Kesejahteraan Total sendiri, dengan pembicara beberapa ahli dari Negara Adidaya, Negara Adikuasa dan dua pakar dari Negara Nusantara. Pakar dari Negara Nusantara sendiri adalah Doktor Dewi Maharani dan Dukun Hewan Rajikun. Kedua pelacur intelektual ini pada akhirnya mendapatkan legitimasi di publik
Pada akhirnya prostitusi intelektual memperoleh persetujuan dari publik dan dari penguasa. Puncak hegemoni ini dengan diberikannya sebuah legitimasi resmi atau surat resmi dari sebuah kekuasaan.”Dewi melirik tulisan pada sampul berkas pertama : Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization, Di bawahnya tertulis Pengendalian Wabah Misterius penyakit Sapi Perah. Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca………………Selanjutnya, untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, agar dapat aman dari serangan penyakit berikutnya , dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode tertentu umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan maksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.” (Baca hlm 398)
Pada tataran ini maka sistem dan mekanisme yang baru sudah ter-konstruksi dan berhasil menggantikan sistem yang lama. Sistem baru ini menjadi dasar bagi mekanisme berkelanjutan dalam bingkai kapitalisme, yaitu keberlanjutan menjadi ketergantungan. ” Nusantara mengimport kedelai sejumlah sejuta ton lebih, bungkil kedelai tujuh ratus ribu ton, dan jagung enam ratus ribuan ton……Nusantara juga mengimpor susu sapi sejumlah enam ratus ribuan ton susu bubuk dan susu yang diproses, daging sapi delapan ribuan ton, dan daging hari lima ribuan ton. Semua bahan impor ini berasal dari beberapa negara yang mengizinkan penggunaan teknologi rekayasa genetika dalam proses produksinya. Tujuh puluh persen pakan ternak di Negara Adimaju ini mengandung transgenik.” (Baca hlm 271)
Lebih jauh dari Novel Lanang, ternyata tidak terdapat keterkaitan antara Burung Babi Hutan mahluk transgenik yang menyebabkan kematian sapi perah. Burung Babi Hutan ternyata hanya digunakan sebagai pengalih perhatian. Sedangkan sumber utamanya dari kematian sapi perah adalah zat rekayasa genetika sendiri. ” Ia adalah persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan yang ada pada diri setiap manusia. Apa wujud dari persilangan ini ? Zat rekayasa genetika” (Baca hlm 406)
Sehingga pada dasarnya ternyata sebuah habitus secara terus-menerus, perlahan-lahan sudah disusupi dan diinjeksi dari kekuatan luar secara halus. Proses hegemonisasi ternyata tanpa disadari telah berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Dalam kasus pada novel Lanang maka hegemonisasi memang sudah berlangsung bahkan sebelum hadirnya prostitusi intelektual. Meskipun pada akhirnya prostitusi intelektual semakin mempercepat pembusukan pertahanan diri dari sistem tersebut. ” Bagaimana kok bisa mematikan sapi-sapi perah ? Begitu sapi perah mengkonsumsi pakan ternak transgenik yang kita pasok dan sebarkan ke seluruh peternakan Nusantara, gen kebodohan dan kemalasan itu langsung menyerbu setiap mekanisme pertahanan tubuh sapi perah. Membuat sapi perah sudah tidak meengenaali lagi mekanisme pertahanan sendiri, apalagi menimbulkan reaksi melawan penyakit. Sehingga, apapun penyakit yang masuk akan memunculkan gejala parah yang berubah-ubah sesuai jenis penyakit yang ada. Tapi tak bisa diobati karena penyebab tunggalnya memang dihilangkan oleh gen silang tadi.” (Baca hlm 406)
Penutup, novel ini jelas menggambarkan sebuah proses hegemonisasi yang berlangsung secara perlahan-lahan, terus-menerus berkesinambungan dan berkelanjutan dalam sistem kehidupan. Pada suatu masa maka mengkristalnya hegemoni ini akan menjadi lebih dikhawatirkan karena membuat sebuah sistem akan membusuk secara perlahan-lahan tanpa disadari. Disaat sudah membusuk dan sekarat maka terjadi keterlambatan dalam menyikapi masalah. Bahkan ironisnya ’tubuh diri’ dari sistem yang sekarat tersebut pada akhirnya menyerah dan akan memilih melakukan ’bunuh diri’. Meronta-ronta minta dibunuh.
Sehingga novel Lanang ini selain menarasikan hegemoni yang sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
Selain itu novel Lanang ini merupakan kontribusi dari penulisnya Yonathan Rahadrjo bagi ruang publik (baca = republik) ke-Indonesia-an kita. Kontribusi dari penulisnya yang juga seorang dokter hewan yang bukan hanya mengenalkan lebih jauh kepada khalayak umum mengenai kontekstual masalah dalam profesi kedokteran hewan, melainkan kontekstualisasi ke-Indonesia-an kita. Novel ini juga jelas sebuah opini dari penulisnya yang terkandung muatan-muatan moral dan etis sebagai ’civil society’ (baca = masyarakat/ komunitas warga) di ruang kepublikan Indonesia. Akhir kata novel ini adalah sebuah kekuatan perjuangan dari ’civil society’ di Indonesia. Sebuah novel yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap ’civil society’ dari berbagai komunitas di Indonesia seperti sastrawan, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, intelektual organik, dan masih banyak yang lainnya.
Beberapa bagian dari tulisan pernah disajikan pada Diskusi Novel Lanang, di Lokasi H.B Jassin Hari Senin, Tanggal 30 Juni 2008.

Baca Juga...

5 komentar pembaca
  • Risma
    9th Jul 2009 3:36 pm
  • teng.. sude totong manjaha Artikel “Menguak Tabir Hegemoni” dijaha sambing dang dikomentari ninna patibbo hu ilmu nai dang tardudung, hape au hadungdung au kodo..Torushon – lanjutkan.
  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 8:32 am
  • Komentar :
    Saya melihat novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif. Merunut pada teori konspirasi intelijen oleh perangkat badan intelijen suatu negara, dimana selalu mengembangkan teori itu yang bertujuan untuk membentuk suatu opini. Ini sangat konspiratif dan konstruktif bukan?
    Teori konspirasi menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area. Pertama, ketika teori konspirasi mengarah pada apa yang disebut sebagai ‘paranoia within reason’. Selalu ada semacam ketakutan yang berlebihan yang selalu mengikut dalam akal manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai ‘systematically distortion of information’. Informasi yang didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Kita tentu ingat pepatah, kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga, teori konspirasi juga selalu mengarah kepada ‘terrorizing of the truth’ karena sulit dibuktikan maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi kebenaran.
    Dalam contoh kasus novel Lanang ini, ketiga hal yang disebutkan di atas sangat relevan. Dalam kejadian sekarang yang melanda dunia, berbagai virus dan penyakit mematikan telah merebak dan menyerang makhluk hidup. Bukankan ada dugaan banyak orang bahwa hal ini adalah peperangan dalam bentuk senjata biologi, dari sapi gila (mad cow), antraks, flu burung, flu babi dan lainnya. Secara ekonomi, hal ini sangat menguntungkan bagi Negara perekayasa penyakit ini, dengan ‘menemukan’ vaksin untuk menangkal penyakit-penyakit ini. Ada perputaran ekonomi yang besar dibidang industri farmasi, makanan dan kimia yang akan menimbulkan ketergantungan. Teori sudah bergerak sesuai skenario dan babak demi babak akan terus berlangsung.
    Ada suatu cerita tradisional, di suatu dusun terpencil, medis dan ilmu kedokteran belum menjadi kebutuhan masyarakat apabila sakit, tetapi pergi kepada orang pintar itu, di kampung kita seperti DATU kali ya. (=walau pengertian Datu sebenarnya juga telah bergeser maknanya). Untuk mempertahankan kedudukan sosialnya sebagai Datu yang disegani dari gempuran teknologi pengobatan yang sudah masuk wilayah itu, dia akan berusaha menciptakan ketergantungan masyarakat agar tetap berobat kepadanya walaupun pengobatan dengan petugas kesehatan dan dokter sudah ada. Bagaimana dia melakukannya, tentu dengan melakukan teori di atas tadi, misalnya menciptakan suatu penyakit, lalu membuat opini dan orang akan berobat terus kepadanya. Tentu dia akan bisa mengobati karena dia pencipta penyakit itu.
    Horas…Mauliate !
  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 9:35 am
  • @Tommy M J Sihotang,
    Perspektif saya tentunya menyorot sistem kerja Negara Adimaju dengan transgeniknya. Dalam sistem kerja itu, termasuk didalamnya para pelaku Prostitusi Intelektual, sistem birokrasi dan pemerintah yag korup, kebohongan publik yang akan menggerogoti kehidupan dengan suatu rasa ketergantungan.
    Jadi seperti disebutkan diatas bahwa novel Lanang ini menarasikan hegemoni sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
    Horas…Mauliate !
  • Parbatto
    10th Dec 2009 10:33 am
  • Kasus NAMRU 2 ?
    Perdangangan VIRUS dan ANTI VIRUS adalah bisnis jutaan dolar…Akka halak na malo alai LICIK, dang i?
  • Parbatto
    15th Sep 2010 2:36 pm
  • Betapa sulit mencari kaum intelektual organis. Lebih gampang menemukan
    kaum intelektual oportunis.

    No comments: