Sugiarti: Jurnal Ilmiah PERTAUTAN ANTARA ASPEK INTELEKTUAL DAN MISTIS DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

Jurnal Ilmiah, Litera
Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya
Universitas Negeri Yogyakarta 2014

PERTAUTAN ANTARA ASPEK INTELEKTUAL DAN MISTIS
DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

Sugiarti
FKIP Universitas Muhammadiyah Malang
email: atika_umm@yahoo.co.id


http://journal.uny.ac.id/index.php/litera/article/view/2583

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pertautan aspek intelektual dan mistis dalam novel Lanang karya Yonathan Rahardjo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif–fenomenologis dengan prinsip-prinsip metode analisis isi kualitatif untuk memahami pesan teks secara deskriptif. Sumber data adalah novel Lanang karya Yonathan Rahardjo dan ditunjang data hasil wawancara dengan pengarang. Data dalam penelitian ini adalah sekuen cerita yang memiliki relevansi dengan tujuan penelitian serta informasi-informasi penting yang diperoleh dari hasil penelusuran pustaka. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pertautan aspek intelektual memberikan kesadaran bahwa kecanggihan teknologi mampu mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi hal mungkin, seperti rekayasa bioteknologi kehewanan. Kedua, pertautan aspek mistis bersumber pada keyakinan tradisi daerah setempat yang tidak masuk akal dan penuh dengan keanehan, tetapi masih diyakini.

Kata kunci: aspek intelektual, aspek mistis, rekayasa genetika

THE CONNECTION BETWEEN THE INTELLECTUAL AND MYSTICAL ASPECTS IN LANANG, A NOVEL BY YONATHAN RAHARDJO

Abstract

This study aims to describe the connection between the intellectual and mystical aspects in Lanang, a novel by Yonathan Rahardjo. It employed the qualitative phenomenological approach using principles in qualitative content analysis to understand text messages descriptively. The data sources were Lanang and the results of interviews with the author. The data comprised the story sequence relevant to the research objectives and important information obtained from literature review. The findings are as follows. First, the intellectual aspect stimulates awareness that the technology sophistication is capable of changing what is impossible into what is possible, such as animal biotechnology engineering. Second, the mystical aspect originates from beliefs in a local tradition that may be illogical and full of weirdness but people still believe them. Keywords: intellectual aspect, mystical aspect, genetic engineering

 PENDAHULUAN

Sastra  merupakan  cerminan  sosial yang banyak mengungkapkan peristiwa peristiwa  yang  ada  dalam  masyarakat. Begitupula dengan novel yang seringkali menceritakan  liku-liku  kehidupan  manusia  yang  terjadi  dalam  realita.  Sastra tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa realitas  sosial.  Sastra  menyatu  dengan realitas  sosial  sesuai  dengan  kehendak pengarang.  Pengarang  memiliki  cara tersendiri dalam menggambarkan realita dalam bentuk karya sastra (novel).

Pandangan/pemikiran  pengarang  akan  mewarnai realitas peristiwa yang dihadirkan dalam karya. Demikian pula pengarang dalam  melakukan  proses  kreatif  akan dipengaruhi  sesuatu  yang  mempribadi dalam dirinya serta kecermatannya dalam melihat,  mendengar,  merasakan,  serta menghayati  sesuatu  yang  terjadi  dalam realitas. Oleh karena itu, tidak salah jika pengarang dalam mengungkapkan proses kreatif dalam bentuk novel telah mampu menghasilkan sesuatu yang lengkap dan menyeluruh  atas  peristiwa  yang  terjadi dalam masyarakat. Pada dasarnya, seluruh  kejadian  dalam  karya,  bahkan  juga karya-karya  yang  termasuk  ke  dalam genre yang paling absurd pun merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan seharihari (Ratna, 2013:35).

Masalah munculnya sebuah karya sastra besar tidak lain adanya latar belakang sosial  yang  mendukung  karya  tersebut. Karya sastra ini sangat berhubungan kuat dengan  pengaruh  latar  belakang  sosial pengarang,  seperti  gagasan-gagasan, ide-ide, dan aktivitas-aktivitas pengarang
yang menjadi struktur dalam karya sastra dalam  bentuk  pandangan  dunia.  Maka dari  itu,  setiap  karya  sastra  memiliki asal-usul penciptaan yang biasa dikenal dengan genetik. Saraswati (2003:10) mengatakan,  karya  sastra  itu  mempunyai asal-usulnya  (genetik)  di  dalam  proses sejarah suatu masyarakat.

Menurut Durkheim, sastra berfungsi memberikan pengalaman kepada anggota masyarakat akan adanya sebuah realitas yang melampaui batas-batas dunia pengalaman langsung individual (Faruk, 2013: 6). Namun demikian sastra juga mengungkap sesuatu yang tidak dapat dirasionalkan oleh pikiran manusia. Sesuatu yang mistis  seringkali  diungkapkan  pengarang dengan pemahaman bahwa dalam kebudayaan masyarakat antara ada dan tiada tidak dapat dipisahkan.

Pengarang sebagai penghadir sastra selalu berpikir keras untuk merenungkan sesuatu yangterjadi dengan mengkaitkan dirinya bersama masyarakat.Sebagai  ciri  khas  kehidupan  sosial interaksi menandai hubungan antara seniman dengan latar belakang sosialnya. Tipe hubungan seniman dengan masyarakat, seperti juga para ilmuwan, pada dasarnya sama dengan pola-pola hubungan sosial yang lain. Pola-pola hubungannya tidak ditentukan oleh status sebagai seniman atau ilmuwan, melainkan oleh jaringan peranan,  jaringan  hubungan  sebagai  aspekaspek dinamis status tersebut (Ratna, 2013: 76).  Struktur  sosial  ditentukan  melalui interaksi  sosial,  perangkat  sistem  simbolis, sistem peranan dan harapan, yang kemudian dikonstruksikan ke dalam polapola institusionalisasi, bukan sebaliknya. Karya  sastra  adalah  respons-respons interaksi sosial melalui personalitas seniman,  bukan  di  dalam  personalitas  seniman (Ratna, 2013:77).

Pengarang dalam menciptakan karya sastra selalu akan dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya masyarakat, pemikiran serta ekspresi pengarang. Nilainilai dalam karya sastra merupakan hasil
ekspresi dan kreasi estetik sastrawan yang ditimba  dari  kebudayaan  masyarakatnya.  Persoalan  kebudayaan  tidak  dapat dilepaskan  dengan  perkembangan  ilmu pengetahuan  dan  teknologi.  Pola  pikir pengarang akan mengikuti perkembangan Ipteks. Ipteks dapat memperngaruhi pemikiran pengarang dalam menghasilkan karya sastra. Yonathan Rahardjo sebagai pengarang mersepon Ipteks sebagai inspirasi dalam pembuatan karya sastra. Hal  ini  disadari  bahwa  perkembangan teknologi secara khusus bioteknologi telah menyatu  dengan  pola  pikir  masyarakat yang menekuni bidang tersebut. Rekayasa bioteknologi akan memunculkan produk pikiran manusia yang nyata. Produk tersebut  bagi  kehidupan  masyarakat  dapat berdampak positif maupun negatif.

Dampak positif perkembangan teknologi  akan  bermanfaat  bagi  manusia,  sedangkan  dampak  negatif  akan  berpengaruh  signifikan  pada  kehidupan  manusia baik secara langsung maupun tidak
langsung. Dalam novel Lanang berupaya untuk mengemukakan keduanya dalam sebuah  pilihan  untuk  dipikirkan. Akan tetapi  kenyataannya  mereka  terkadang memilih hal-hal yang tidak rasional (mistis) untuk kepentingan dirinya di satu sisi dan rasional di sisi lain. Sisi-sisi tersebut merupakan  sebuah  pertautan  yang  dipadu sehingga menjadi narasi cerita yang menarik.

Menurut Roland Barthes (dalam Rafiek, 2010:103) mitos dapat hidup dalam suasana tindakan revolusioner dengan cara berkhayal. Oleh karena itu memiliki karakter  sadar  diri  dari  fisiknya  yang  kaku, bercampur baur dan sederhana sehingga secara  terbuka  mempengaruhi  perilaku
intelektual dengan pondasi-pondasi politis.  Sesungguhnya  mitos  dalam  sastra selalu  berkembang  karena  kreativitas pengarang. Antara intelektual dan yang mistis  terkadang  sulit  untuk  dibedakan
secara jelas.Sastra mampu merekam yang intelektual dan mistis dan menyandingkannya  sehingga  menjadi  sesuatu  yang menarik. Mitos ini tidaklah dapat digambarkan  melalui  objek  pesannya,  tetapi melalui cara pesan tersebut.

Kenyataannya, pengetahuan yang terkandung  dalam  sebuah  konsep  mistis adalah pengetahuan yang rancu dan kabur,  terdiri  atas  berbagai  asosiasi  tanpa bentuk.  Konsep  sama  sekali  bukanlah
esensi abstrak dan murni. Mistis adalah pemadatan tanpa bentuk, tidak stabil dan samar  yang  kesatuan  dan  koherensinya sangat tergantung pada fungsinya (Rafiek, 2010:106). Dalam mitos tidak menyembunyikan dan tidak memamerkan apapun.Mitos mampu membuat konsep yang dimaksudkan  menjadi  lebih  menarik  dan menggugah.  Dengan  demikian  dapat dikatakan  bahwa  sesuatu  yang  mistis akan  mampu  mempengaruhi  seseorang untuk berpikir dengan cara yang berbeda dengan mengkaitkan sesuatu yang ada di luar rasio manusia.

Mistisisme adalah kepercayaan bahwa kebenaran tertinggi tentang realitas hanya dapat diperoleh melalui pengalaman intuitif  suprarasional,  bahkan  spiritual,  dan bukan  melalui  akal  (rasio  atau  reason) logis belaka. Mistik atau mistisisme merupakan  paham  yang  memberikan  ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang
tertentu saja, terutama sekali penganutnya (Gabiz, 2013:2).

Kebudayaan sebagai hasil cipta, karsa dan karya manusia seringkali hanya dipahami tidak lebih dari sebuah konstruksi suatu kolektivitas tertentu, bukan sesuatu yang  berbasis  pada  kenyataan  material
yang bersifat tetap dan niscaya. Semuanya menjadi  tidak  lebih  dari  sebuah rule  of the game. Begitu juga kesastraaan. Segala bangunan  konseptual  dan  pemaknaan mengenai kesastraan, segala pembedaan yang  diberikan  antara  sastra  dengan bukan  sastra,  antara  fakta  dengan  fiksi,
antara sastra tinggi dengan sastra rendah, dan sebagainya, bukanlah bangunan yang kokoh, yang berdiri di atas fondasi fisik yang bersifat tetap dan niscaya, melainkan  di  atas  sebuah  bangunan  mental  yang ringkih, labil, mudah dan dapat berubah, dan  bahkan  dapat  mengandung  kepentingan  sepihak  dari  seseorang  ataupun sekelompok orang ( Faruk, 2013:7).

Pada perspektif sosial budaya bangunan  kesastraan  selalu  terkait  dengan  bangunan  material  dan  immaterial  yang memberikan pengaruh cukup signifikan. Bangunan  tersebut  terkadang  menjadi
ajang pertaruhan bagi sebagian masyarakat untuk  menyampaikan  sebuah  ideologi dan  atau  kepentingan-kepentingan  tertentu. Hal ini terjadi karena persoalan kehidupan semakin komplek dan perkembangan zaman selalu berubah mengikuti perubahan waktu.

Derajat rasionalitas yang tinggi merupakan  tanda  perkembangan  globalisasi masyarakat modern. Dalam artian kegiatan-kegiatan  terselenggara  berdasarkan nilai-nilai dan pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian)daripada yang  sifatnya  primordial,  seremonial atau tradisional. Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembanganperkembangan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi. Dengan derajat rasionalitas yang tinggi itu, maka berkembang antara lain ciri-ciri yang kurang lebih berlaku  umum  yaitu  tindakan-tindakan sosial, orientasi terhadap perubahan dan berkembangnya  organisasi  dan  diferensiasi (Gabiz, 2013:1).

Yonathan Rahardjo mampu memadukan realitas masyarakat disajikan dalam rangkaian  cerita  yang  menarik.  Sebagai pengarang yang memiliki latar belakang pendidikan  kedokteran,  Yonathan  berhasil menciptakan novel yang multitema bahkan sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Medy Loekito (dalam Rahardjo, 2008:  xiv)  saat  memberikan  komentar tentang novel ini.

“Membaca Lanang seakan berjalan di depan deretan etalase toko. Ada berbagai macam hal dipajang, ada yang cantik,  ada  yang  kotor.  Mulai  dari urusan  koperasi,  manajemen,  LSM, karakter  flora-fauna,  profesi  dokter hewan,  mistik,  agama,  kecelakaan, kloning  laboratorium,  peternakan,
libido,  seks,  penipuan,  pelacuran dan  lain  sebagainya.  Pada  intinya, sepenggal  bagian  hidup  ini  menjadi begitu ruwetnya di dalam Lanang. Jika dijabarkan,  mungkin  novel  ini  bisa menjadi ensiklopedia berisi berbagai pengetahuan  dan  kasus  (Rahardjo, 2008: xiv)

 Pola pikir pengarang dalam memadukan persoalan-persoalan intelektual dan mistik menyebabkan karya tersebut benarbenar  dekat  dengan  realitas  kehidupan masyarakat.  Masyarakat  pada  zaman
modern terdapat gejala untuk membuat perimbangan antara yang intelek dan yang mistik. Bagi pengarang kedua hal tersebut telah  menyatu  dengan  kehidupan  masyarakat dan gejala tersebut berlaku pada masyarakat pada umumnya. Fenomena  orang  sakit,  memang  banyak  juga dokter  yang  mampu  mengobati  orang sakit.Akan  tetapi,  kenyataanya  mereka juga masih berobat ke alternatif yang secara rasional terkadang tidak masuk akal, namun mereka meyakininya.

Penulis meyakini bahwa proses kreatif terjadi karena terjadi kegelisahan akan sesuatu tentang persoalan kehidupan. “Kegelisahan penulis sejak proses penciptaan novel Lanang adalah, novel ini merupakan sebuah novel genre multidimensi pertama di  dunia  karya  bangsa  Indonesia  yang
bakal  menggoncang  dan  mengukuhkan keberadaan  pembaca  sebagai  makhluk kompleks dan multidimensi dalam hubungan dengan diri sendiri, sesama manusia,  makhluk  lain  dan  sistem-sistem yang ada”. Penulis yakin bahwa pembaca memiliki  horizon  yang  cukup  memadai
sehingga  berdampak  pada  resepsi  atas karya yang telah dibaca (Rahardjo, 2013: 5)

Dalam  proses  pembacaan  itu,  pembaca akan menemukan diri sendiri dengan nilai-nilai  mikro,  menengah  dan  makro yang mempengaruhinya. Pada gilirannya pembaca secara jujur melakukan segala sesuatu secara mikro, menengah dan makro berdasar kemurnian pertimbangan dan hati nuraninya. Pembacaakan mendapatkan manfaat lain yang berkelanjutan dan  terus-menerus.  Novel  genre  multidimensi ini menjadi kegelisahan penulis untuk terus mencipta tulisan-tulisan novel
yang lain seperti yang sudah terbit novel “Taman  Api”  dan  “Wayang  Urip”  yang semuanya  senantiasa  penulis  evaluasi guna  tidak  berhentinya  proses  kreatif (Rahardjo, 2013:5)

Melihat realitas dalam sastra yang dituangkan dalam novel Lanang karya Yonathan Rahardjo maka masalah yang diteliti mencakup  dua  hal  yaitu:  (1)  pertautan aspek  intelektual  dalam  novel Lanang karya  Yonathan  Rahardjo;  (2)  pertautan aspek mistis dalam novel Lanang karya Yonathan Rahardjo. Kedua aspek ini menjadi penting yang dapat digunakan untuk melihat proses kreatif pengarang dalam menghasilkan karya sastra di satu pihak dan melakukan telah teks di pihak lain.

Aviva Sela Deviyanti: Skripsi S1: DINAMIKA KEPRIBADIAN TOKOH DEWI DAN PUTRI DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

DINAMIKA KEPRIBADIAN TOKOH DEWI DAN PUTRI DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

Aviva Sela Deviyanti, 121111107 (2016) DINAMIKA KEPRIBADIAN TOKOH DEWI DAN PUTRI DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO. Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

 http://repository.unair.ac.id/30433/
[img] Text (HALAMAN DEPAN)
1. HALAMAN DEPAN.pdf

Download (797kB) | Preview
[img] Text (BAB I)
2. BAB I.pdf
Restricted to Registered users only

Download (289kB) | Request a copy
[img] Text (BAB II)
3. BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (312kB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
4. BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (292kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
5. BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (257kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
6. DAFTAR PUSTAKA.pdf
Restricted to Registered users only

Download (178kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian yang berjudul “Dinamika Kepribadian Tokoh Dewi dan Putri dalam Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo” bertujuan untuk mengetahui dinamika kepribadian yang terjadi pada dua tokoh perempuan yang bernama Dewi dan Putri dalam novel Lanang serta mengetahui makna dinamika kepribadian tokoh Dewi dan Putri. Penelitian ini menggunakan teori dinamika kepribadian Sigmund Freud untuk menganalisis dinamika kepribadian kedua tokoh serta makna dinamika kepribadian tersebut. Analisis dimulai dengan menggunakan teori struktural Stanton untuk mencari tokoh dan prnokohan, alur dan latar serta relasi antar tokoh, dilanjutkan dengan menggunakan psikoanalisis Freud. Dari hasil analisis, penulis dapat memaparkan tentang makna dibalik dinamika kepribadian tokoh Dewi dan Putri dalam novel Lanang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika kepribadian Dewi dan Putri ditunjukkan dengan sikap mereka yang selalu berubah-ubah pada Lanang. Pada suatu ketika mereka selalu membantu Lanang, akan tetapi pada waktu yang lain mereka justru menjadi sumber masalah Lanang dan itu terjadi berulang-ulang. Makna dinamika kepribadian Lanang, pada awal ceritakan sosok Lanang adalah orang yang berkuasa atas Dewi dan Putri akan tetapi diakhir malah Lanang dapat dihancurkan oleh Dewi dan Putri. Pada rencana balas dendam mereka, id yang berupa rasa sakit hati menginginkan balas dendam dan hal ini diwujudkan oleh ego untuk balas dendam disinilah superego menjadi pembatas agar mereka masih menggunakan hati nurani. Hal ini terlihat pada saat mereka membalas dendam mereka tidak melakukan secara langsung melainkan masih sembunyi-sembunyi dan dengan cara yang halus.
Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FS.BI.08/16 Dev d
Uncontrolled Keywords: Lanang, Dinamika Kepribadian, Psikologi Sastra
Subjects: P Language and Literature > PN Literature (General)
P Language and Literature > PN Literature (General) > PN1-6790 Literature (General)
Divisions: Fakultas Ilmu Budaya > Sastra Indonesia
Depositing User: Unnamed user with email okta@lib.unair.ac.id
Date Deposited: 04 May 2016 03:40
Last Modified: 04 May 2016 03:40
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/30433

Actions (login required)

Yudi Damanhuri: Skripsi S1 ANALISIS KONFLIK DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

ANALISIS KONFLIK DALAM NOVEL LANANG KARYA YONATHAN RAHARDJO

 http://repository.untirta.ac.id/TA/KS/KS01/KS0104/2015/KS010400054/analisis-konflik-dalam-novel-lanang-karya-yonathan-rahardjo.html

Kategori : TA | Tugas Akhir
Sub Kategori : KS | Skripsi
Bidang Utama : KS01 | Bidang Pendidikan
Bidang Keilmuan : KS0104 | Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Kontributor:YUDI DAMANHURI
Tanggal Posting:24 Maret 2016
Tahun Dokumen : 2015
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan konflik batin tokoh utama dalam novel Lanang. Sebagaimana manusia yang memiliki ragam perbedaan pandangan, penerimaan dan ketidakterimaan sikap antara satu sama lain, maka terjadilah dalam setiap individu apa yang disebut konflik. Dalam hal ini, tokoh-tokoh dalam novel merupakan representasi dari realitas manusia yang memang tidak terlepas dari sang pengarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif, yakni menunjukan karakteristik dan konflik batin tokoh utama dalam novel Lanang karya Yonathan Rahardjo, sedangkan teknik yang digunakan ialah studi pustaka, yaitu penulis menelaah buku-buku yang berkaitan dengan psikologi sastra dan konflik batin. Sumber data penelitian ini adalah novel Lanang karya Yonathan Raharjo, penerbit Pustaka Alvabet pada Mei 2008, sedangkan data dalam penelitian ini adalah konflik batin tokoh utama dalam novel Lanang karya Yonathan Rahardjo. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang meliputi struktur kepribadian id, ego, dan superego yang terdapat dalam konflik batin tokoh utama. Penelitian ini menghasilkan hal-hal berikut: Berdasarkan analisis psikologis dapat diungkapkan, pertama, munculnya konflik batin tokoh utama yang dipicu oleh berbagai peristiwa yaitu kemunculan Burung Babi Hutan, pengkhianatan istri tokoh utama, cinta segi tiga, balas dendam, dan perbedaan ideologi di kalangan dokter hewan. Kedua, solusi yang dilakukan tokoh utama untuk mengatasi konflik batinnya adalah penggantian, sublimasi, melawan diri sendiri, dan keadaan tertekan. Ketiga, kepribadian tokoh utama adalah didominasi oleh unsur kepribadian superego.

Kata-kata kunci: novel, tokoh utama, konflik batin, psikoanalisis.

Yusuf Amin Nugroho: Sejarah Munculnya Fiksi Sains di Indonesia


Sejarah Munculnya Fiksi Sains di Indonesia

Writen By: Yusuf Amin Nugroho On 7/20/2012
http://www.tintaguru.com/2012/07/sejarah-munculnya-fiksi-sains-di.html


Nyoman Tusthi Eddy pernah menyatakan bahwa sastra Indonesia belum memiliki fiksi ilmiah. Menurutnya, para penulis fiksi Indonesia belum ada yang memiliki dua faktor yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya fiksi sains, yakni “terampil sekaligus berselera tinggi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi” dan “kebebasan berpikir.” (Suara Karya, 28-2-2009). Pendapat tersebut, menurut saya terkesan terburu-buru dan tidak berdasar. Tusthi seakan tidak mau melihat perkembangan sastra Tanah Air, mengingat ketika tulisan tersebut diterbitkan, kesusasteraan Indonesia sudah melahirkan beberapa fiksi ilmiah.
Meskipun di negeri ini fiksi ilmiah atau sains masih belum tumbuh sebagaimana genre prosa fiksi yang lain, tetapi kehadirannya telah banyak memberikan warna baru pada khasanah kesusasteraan kita. Kemunculan fiksi sains di Indonesia telah diteliti oleh M.V. Wresti Budiaju A.P dalam penelitian berjudul Kajian Perkembangan Fiksi Ilmiah Anak dan Remaja Karya Pengarang Indonesia 1968–1991. Penelitian tersebut menyatakan bahwa fiksi sains yang muncul pertama kali di Indonesia adalah karya Djokolelono dengan judul Jatuh ke Matahari yang telah terbit tahun 1976. (Maulana, 2010: 30) Tidak heran jika kemudian Djokolelono dikenal sebagai Master Fiksi Ilmiah Indonesia.
Namun demikian gaung mengenai fiksi sains di Indonesia baru terdengar sejak lahirnya novel Supernovakarya Dee (Dewi Lestari) yang terbit pada tahun 2001. Sebelum Dee menulis Supernova, sebenarnya sudah ada seorang penulis muda yang begitu gigih membuahkan fiksi sains, yakni Eliza V. Handayani. Eliza mengaku telah menulis naskah dengan judul Area X: Hymne Angkasa Raya pada tahun 1998 ketika dia masih duduk di Sekolah Menengah Atas. Naskah tersebut memenangi Lomba Penulisan Naskah Film/televisi pada tahun 1999, dan kemudian baru diterbitkan dalam bentuk novel pada tahun 2003.
Selain karya-karya tersebut masih ada beberapa prosa fiksi sains lain karya anak negeri. Ada novel Anomali(2004) karya Santopay yang banyak memuat konsep-konsep fisika. Ada pula novel Laskar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata yang ditulis dengan gaya saintifik dan banyak mengekplorasi istilah-istilah sains. Novel Lanang, Yonathan Rahardjo (2006) yang bercerita tentang virus yang diakibaktkan hasil rekayasa transgenik; dan novel ORB karya Galang Lutfiyanto yang mencoba menggabungkan sains dan mistikisme juga digolongkan dalam fiksi sains.
Untuk mempertegas bahwa fiksi sains di Indonesia sudah banyak bermunculan mungkin perlu dideretkan lebih banyak lagi contoh: Quantum Leap (2008) karya Bimo dan Gerry Nimpuno, Lesti, Nyatakah Dia? (2006) karya Soehario Padmodiwirio, Chimera (2008) karya Donny Anggoro, Seribu Tahun Cahaya (2009) karya Mad Soleh, dan banyak karya fiksi sains lain yang kurang terekspos ke publik.
Sependapat dengan Sandya Maulana (2010: 33) fiksi sains di Indonesia memang masih berada dalam fase yang sangat awal, belum tiba pada pengertian bahwa sains yang terdapat dalam fiksi sains murni bersifat spekulatif dan keakuratannya terbuka untuk dipertanyakan. Pengkajian fiksi sains di Indonesiapun mesti perlu diperluas untuk melihat fiksi sains sebagai karya yang memiliki potensi kritis dan dapat berfungsi sebagai cermin tempat berkacanya dunia nyata.
Apa pun itu, kenyataan bahwa fiksi sains telah mendapat ruang dan penggemar di Indonesia merupakan hal yang baik. Supernova, misalnya, merupakan karya pertama Dee dan langsung meledak di pasaran. Demikian pula Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan Area-Xkarya Eliza V. Handayani banyak mendapatkan apreasiasi dari kalangan pembaca dan kritikus sastra.
Komunitas penggemar dan penulis fiksi sains di Indonesia juga telah terbentuk. Di internet kita dapat berselancar dan menemukan beberapa blog dan group penggemar dan penulis fiksi sains. Salah satunya komunitas Indo-Star Trek yang profilnya telah dimuat di berbagai koran dan majalah. Komunitas Star-Trek Indo ini terlihat unik dan bergairah. Komunitas yang berdiri secara formal tahun 2006 ini telah memiliki website, mailing list, juga forum dan grup di situs jejaring sosial Facebook. Anggota Indo-Star Trek bahkan sudah mencapai lebih 500 orang. Kegiatannya mencakup diskusi sains, pembuatan kostum, wargames, pameran di World Book Day, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Pada tahun 2012 Indo-Star Trek bahkan mengadakan lomba penulisan cerpen bergenre fiksi sains yang memotivasi publik sastra untuk meramaikan fiksi sains tanah air.
Untuk melengkapi pembahasan mengenai fiksi sains di Indonesia penting pula untuk dihadirkan ringkasan dan ulasan karya fiksi sains di sini. Tujuannya adalah, pertama, pembaca akan memperoleh pemahaman yang lebih luas melalui ringkasan kisah dan ulasan karya fiksi sains; kedua, memberikan semacam panduan bagi pecinta sastra, khususnya pelajar yang ingin menekuni fiksi sains; ketiga, menarik minat masyarakat khususnya generasi muda untuk mencintai sastra, dalam hal ini fiksi sains; dan keempat, menimbulkan sikap cinta Tanah Air.

Tommy M J Sihotang: Novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif

http://pakkatnews.com/menguak-tabir-hegemoni-prostitusi-intelektual-interpretasi-novel-lanang.html


Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ (Interpretasi Novel Lanang)

( Resensi Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)
Oleh : Chris Poerba
Publikasi : Tommy M J  Sihotang
”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”
( Roberth Imam )
Jurgen Habermas dari Mazhab Frankfurt Jerman, dengan pendekatan rasio komunikatif menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Antonio Gramsci juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini dan tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial yang diwahyukan Karl Marx sulit akan tercapai.
Gramsci yang juga pernah mengalami kegelisahan karena tidak hadirnya revolusi sosial di Italia dan pernah dipenjara saat Fassisme Mussolini, menambahkan bahwa revolusi tidak terjadi karena bourjuis atau pemilik sumber daya dan penguasa sudah tidak lagi menggunakan alat-alat negara seperti dengan militerisme (dominasi = hardpower) tapi menggantikannya dengan cara-cara yang lebih halus (hegemoni = softpower). Sehingga telah dirubahnya cara-cara mencapai kekuasaan. Dari sebelumnya dengan Dominasi yang memperoleh kekuasaan dengan pendekatan kekerasan baik dengan anarkhisme maupun vandalisme, telah dirubah dengan pendekatan Hegemoni dengan memperoleh kekuasaan melalui kesepakatan atau persetujuan. Bourjuis tentunya jelas memiliki kekhawatiran bila terus-menerus melakukan dominasi totalitarianisme maka akan mendapat perlawanan secara terbuka pula sehingga mekanisme dilakukan dengan cara-cara hegemoni. Dominasi menjadi tersamarkan meskipun sangat nyata dalam keseharian.
Dunia ’kapitalisme tingkat lanjut’ atau dominasi yang disamarkan oleh penguasa ini jelas masih dalam logika ekonomi pasar. Sehingga hegemoni dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, adalah sosialisasi ide-ide dan pencitraan dari bourjuis kepada proletar supaya proletar dapat mengembangkan dirinya sedikit menyerupai bourjuis. Padahal dalam kategori proletar yang telah menjadi bourjuis tetap saja dipandang sebelah mata oleh bourjuis utama. Dalam kategori ini maka proletar yang berupaya menjadi bourjuis pastinya hanya menjadi ’bourjuis abu-abu’ bisa juga dikategorikan sebagai kelas menengah. Pencitraan di sosialisasikan dengan memberikan pemahaman mengenai gaya hidup termasuk diantaranya cara berpenampilan, berbusana bahkan sampai pada berbicara. Kedua, Setelah sosialiasi ide-ide sudah gencar dilakukan tahapan berikutnya adalah menjual berbagai macam produk-produk dan teknologi. Sehingga dari konsep diatas maka yang pertama dilakukan adalah marketing ide dan selanjutnya adalah marketing produk. Sehingga diciptakanlah sebuah ’mekanisme ketergantungan’. Hal ini juga yang merupakan inti sistem kapitalisme yaitu selalu mengupayakan sebuah mekanisme ketergantungan
Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo yang telah menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 ini mendeskripsikan sebuah sistem kehidupan dalam pola ’kapitalisme tingkat lanjut’ bahkan novel ini sanggup me-narasi-kan hegemonisasi dalam keseharian hidup. Mengingat novel dapat membuat alur cerita dan dialog-dialog panjang bahkan diskursus antar para subyek yang saling bertentangan di dalamnya. Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri rekayasa genetik global) yang ditanam dalam keseharian hidup dengan bantuan kerja-kerja prostitusi intelektual. Prostitusi intelektual karena ilmuwan sudah bukan lagi bekerja atas dasar ilmu dan pengetahuan bahkan nilai-nilai kemanusiaan. Melainkan hanya logika ekonomi semata.
Dalam novel ini sebenarnya tergambar bahwa desa pegunungan yang merupakan wilayah koperasi kerja Lanang tidak terdapat sebuah masalah yang dikatakan sangat mendesak untuk segera ditangani, apalagi dengan kebutuhan harus melangsungkan rekayasa genetik/ bioteknologi sebagai satu-satunya jalan keluar. Semua berjalan dengan alami. Diceritakan juga semua aspek berjalan dengan sangat normal seperti kelahiran anak sapi, keluarga yang rukun, peternak sapi pernah yang memiliki keinginan yang masih dalam tahap wajar, pihak koperasi juga menunaikan kewajibannya dengan baik. Sehingga habitus di wilayah pedesaan ini berjalan dengan sistem yang terkelola dengan baik.
Proses hegemonisasi ini dimulai dengan dihadirkannya Burung Babi Hutan. Kemunculan Burung Babi Hutan ini sengaja untuk mengganggu habitus yang mulanya sangat tenang dan damai. Digambarkan sosok Burung Babi Hutan yang merupakan hewan transgenik. Setelah kemunculan Burung Babi Hutan atau Berwujud Babi Hutan Bersayap ternyata Pak Sukarya mendapati anak sapinya yang baru lahir sakit, sebuah penyakit sapi yang misterius. Pada akhirnya terjadilah wabah kematian pada sapi-sapi perah secara beruntun. Uniknya wabah penularan hanya terjadi pada sapi-sapi perah, sedangkan sapi potong tidak terserang. Dan juga tidak ada penularan dari sapi perah ke sapi potong. Singkatnya puncak kekalutan tidak hanya terjadi pada area peternakan Lanang tapi juga bagi para dokter hewan lain, bahkan sampai kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat
Kehadiran Burung Babi Hutan yang merupakan makhluk transgenik ternyata sengaja diciptakan untuk memberikan kekacauan pada sistem. Sebuah keberhasilan hegemonisasi yang dilakukan prostitusi intelektual yang melibatkan sejumlah pelacur-pelacur intelektual dan jaringan kerjanya, seperti Dokterandus Sukirno yang menjabat sebagai Pemimpin Koperasi, Penagih hutang ’Bank Kredit Menyicil’ di Lokalisasi-nya Rafiqoh. yang ternyata juga termasuk dalam skema jaringan pelacur intelektual, Mister Robert, Dokter hewan bule lulusan universitas ternama di luar negeri, Konsultan dan Anggota Dewan Pakar Kesehatan Hewan Nusantara, Tamu dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, baru bergabung dengan perusahaan besar di Nusantara, kekasih Doktor Dewi dan pada akhirnya juga anggota dan membantu di Divisi Pakan Ternak Transgenik, Rajikun mulanya disebut sebagai pengamat peternakan dan kesehatan hewan, tapi bukan Dokter Hewan dan dinyatakan sebagai Dukun Hewan, juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tindakan asusila, juga bersetubuh dengan Putri saat menjadi Burung Babi Hutan, yang ternyata adalah Kepala Divisi Obat Transgenik untuk Hewan, dan otak utama dari proses hegemonisasi prostitusi intelektual ini didalangi oleh Doktor Dewi Maharani, pernah menjadi kekasih Lanang semasa kuliah, dimana hubungan mereka putus setelah Dewi menginginkan Lanang mengikuti agama kepercayaannya, seorang dokter dengan latar belakang bioteknologi kehewanan, yang ternyata memegang Divisi Ternak dan Hewan Transgenik sekaligus Pimpinan Institut Peduli Kesejahteraan Total. Bahkan Putri istri Lanang juga terlibat konspirasi karena kedekatannya dengan Dewi semasa kuliah
Langkah berikutnya yang dikerjakan prostitusi intelektual berharap dapat memegang semua kepala penentu kebijakan negeri dengan memaksa Menteri Kehewanan untuk mengatakan secepatnya ke publik bahwa penyakitnya adalah Burung Babi Hutan dan mengesampingkan para ahli yang berseberangan. Menteri Kehewanan ’dipaksa’ untuk mengeluarkan pernyataan utama bahwa penyebab kematian sapi perah adalah Burung Babi Hutan dengan bujukan bahwa obat penangkalnya pasti akan ditemukan termasuk juga mengundang ke laboratorium yang akan membuat obat tersebut termasuk untuk tentunya juga mengenalkan perusahaan obat tersebut. Termasuk dengan melakukan suap kepada penguasa. Semua mekanisme tersebut bahkan hampir melanggar prosedur yang terlebih dahulu harus mendengar pendapat dari Tim Penyidik Penyakit Sapi Nusantara. Pada akhirnya pengumuman penyebab penyakit dinyatakan juga yaitu Burung Babi Hutan oleh Tim Ahli Pemerintah atas wewenang Meteri Kehewanan. Pernyataan menteri yang bersifat resmi ini merupakan persetujuan dan legitimasi lisan, sekaligus menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi eksperimen-eksperimen selanjutnyta dari para prostitusi intelektual (Mister Robert, Rajikun, Sukirno dan Doktor Dewi sebagai dalangnya).
Pada saat tertangkapnya Burung Babi Hutan, maka prostitusi intelektual memberikan klaim legitimasi ke publik atas keberhasilannya, maka diadakan Undangan Seminar Nusantara Pengenalan Teknologi Canggih Peternakan Pasca Bencana Nusantara Penyakit Misterius yang difasilitasi oleh Institut Peduli Kesejahteraan Total sendiri, dengan pembicara beberapa ahli dari Negara Adidaya, Negara Adikuasa dan dua pakar dari Negara Nusantara. Pakar dari Negara Nusantara sendiri adalah Doktor Dewi Maharani dan Dukun Hewan Rajikun. Kedua pelacur intelektual ini pada akhirnya mendapatkan legitimasi di publik
Pada akhirnya prostitusi intelektual memperoleh persetujuan dari publik dan dari penguasa. Puncak hegemoni ini dengan diberikannya sebuah legitimasi resmi atau surat resmi dari sebuah kekuasaan.”Dewi melirik tulisan pada sampul berkas pertama : Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization, Di bawahnya tertulis Pengendalian Wabah Misterius penyakit Sapi Perah. Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca………………Selanjutnya, untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, agar dapat aman dari serangan penyakit berikutnya , dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode tertentu umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan maksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.” (Baca hlm 398)
Pada tataran ini maka sistem dan mekanisme yang baru sudah ter-konstruksi dan berhasil menggantikan sistem yang lama. Sistem baru ini menjadi dasar bagi mekanisme berkelanjutan dalam bingkai kapitalisme, yaitu keberlanjutan menjadi ketergantungan. ” Nusantara mengimport kedelai sejumlah sejuta ton lebih, bungkil kedelai tujuh ratus ribu ton, dan jagung enam ratus ribuan ton……Nusantara juga mengimpor susu sapi sejumlah enam ratus ribuan ton susu bubuk dan susu yang diproses, daging sapi delapan ribuan ton, dan daging hari lima ribuan ton. Semua bahan impor ini berasal dari beberapa negara yang mengizinkan penggunaan teknologi rekayasa genetika dalam proses produksinya. Tujuh puluh persen pakan ternak di Negara Adimaju ini mengandung transgenik.” (Baca hlm 271)
Lebih jauh dari Novel Lanang, ternyata tidak terdapat keterkaitan antara Burung Babi Hutan mahluk transgenik yang menyebabkan kematian sapi perah. Burung Babi Hutan ternyata hanya digunakan sebagai pengalih perhatian. Sedangkan sumber utamanya dari kematian sapi perah adalah zat rekayasa genetika sendiri. ” Ia adalah persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan yang ada pada diri setiap manusia. Apa wujud dari persilangan ini ? Zat rekayasa genetika” (Baca hlm 406)
Sehingga pada dasarnya ternyata sebuah habitus secara terus-menerus, perlahan-lahan sudah disusupi dan diinjeksi dari kekuatan luar secara halus. Proses hegemonisasi ternyata tanpa disadari telah berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Dalam kasus pada novel Lanang maka hegemonisasi memang sudah berlangsung bahkan sebelum hadirnya prostitusi intelektual. Meskipun pada akhirnya prostitusi intelektual semakin mempercepat pembusukan pertahanan diri dari sistem tersebut. ” Bagaimana kok bisa mematikan sapi-sapi perah ? Begitu sapi perah mengkonsumsi pakan ternak transgenik yang kita pasok dan sebarkan ke seluruh peternakan Nusantara, gen kebodohan dan kemalasan itu langsung menyerbu setiap mekanisme pertahanan tubuh sapi perah. Membuat sapi perah sudah tidak meengenaali lagi mekanisme pertahanan sendiri, apalagi menimbulkan reaksi melawan penyakit. Sehingga, apapun penyakit yang masuk akan memunculkan gejala parah yang berubah-ubah sesuai jenis penyakit yang ada. Tapi tak bisa diobati karena penyebab tunggalnya memang dihilangkan oleh gen silang tadi.” (Baca hlm 406)
Penutup, novel ini jelas menggambarkan sebuah proses hegemonisasi yang berlangsung secara perlahan-lahan, terus-menerus berkesinambungan dan berkelanjutan dalam sistem kehidupan. Pada suatu masa maka mengkristalnya hegemoni ini akan menjadi lebih dikhawatirkan karena membuat sebuah sistem akan membusuk secara perlahan-lahan tanpa disadari. Disaat sudah membusuk dan sekarat maka terjadi keterlambatan dalam menyikapi masalah. Bahkan ironisnya ’tubuh diri’ dari sistem yang sekarat tersebut pada akhirnya menyerah dan akan memilih melakukan ’bunuh diri’. Meronta-ronta minta dibunuh.
Sehingga novel Lanang ini selain menarasikan hegemoni yang sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
Selain itu novel Lanang ini merupakan kontribusi dari penulisnya Yonathan Rahadrjo bagi ruang publik (baca = republik) ke-Indonesia-an kita. Kontribusi dari penulisnya yang juga seorang dokter hewan yang bukan hanya mengenalkan lebih jauh kepada khalayak umum mengenai kontekstual masalah dalam profesi kedokteran hewan, melainkan kontekstualisasi ke-Indonesia-an kita. Novel ini juga jelas sebuah opini dari penulisnya yang terkandung muatan-muatan moral dan etis sebagai ’civil society’ (baca = masyarakat/ komunitas warga) di ruang kepublikan Indonesia. Akhir kata novel ini adalah sebuah kekuatan perjuangan dari ’civil society’ di Indonesia. Sebuah novel yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap ’civil society’ dari berbagai komunitas di Indonesia seperti sastrawan, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, intelektual organik, dan masih banyak yang lainnya.
Beberapa bagian dari tulisan pernah disajikan pada Diskusi Novel Lanang, di Lokasi H.B Jassin Hari Senin, Tanggal 30 Juni 2008.

Baca Juga...

5 komentar pembaca
  • Risma
    9th Jul 2009 3:36 pm
  • teng.. sude totong manjaha Artikel “Menguak Tabir Hegemoni” dijaha sambing dang dikomentari ninna patibbo hu ilmu nai dang tardudung, hape au hadungdung au kodo..Torushon – lanjutkan.
  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 8:32 am
  • Komentar :
    Saya melihat novel Lanang ini memaparkan suatu teori, yang konspiratif dan konstruktif. Merunut pada teori konspirasi intelijen oleh perangkat badan intelijen suatu negara, dimana selalu mengembangkan teori itu yang bertujuan untuk membentuk suatu opini. Ini sangat konspiratif dan konstruktif bukan?
    Teori konspirasi menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area. Pertama, ketika teori konspirasi mengarah pada apa yang disebut sebagai ‘paranoia within reason’. Selalu ada semacam ketakutan yang berlebihan yang selalu mengikut dalam akal manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai ‘systematically distortion of information’. Informasi yang didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Kita tentu ingat pepatah, kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga, teori konspirasi juga selalu mengarah kepada ‘terrorizing of the truth’ karena sulit dibuktikan maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi kebenaran.
    Dalam contoh kasus novel Lanang ini, ketiga hal yang disebutkan di atas sangat relevan. Dalam kejadian sekarang yang melanda dunia, berbagai virus dan penyakit mematikan telah merebak dan menyerang makhluk hidup. Bukankan ada dugaan banyak orang bahwa hal ini adalah peperangan dalam bentuk senjata biologi, dari sapi gila (mad cow), antraks, flu burung, flu babi dan lainnya. Secara ekonomi, hal ini sangat menguntungkan bagi Negara perekayasa penyakit ini, dengan ‘menemukan’ vaksin untuk menangkal penyakit-penyakit ini. Ada perputaran ekonomi yang besar dibidang industri farmasi, makanan dan kimia yang akan menimbulkan ketergantungan. Teori sudah bergerak sesuai skenario dan babak demi babak akan terus berlangsung.
    Ada suatu cerita tradisional, di suatu dusun terpencil, medis dan ilmu kedokteran belum menjadi kebutuhan masyarakat apabila sakit, tetapi pergi kepada orang pintar itu, di kampung kita seperti DATU kali ya. (=walau pengertian Datu sebenarnya juga telah bergeser maknanya). Untuk mempertahankan kedudukan sosialnya sebagai Datu yang disegani dari gempuran teknologi pengobatan yang sudah masuk wilayah itu, dia akan berusaha menciptakan ketergantungan masyarakat agar tetap berobat kepadanya walaupun pengobatan dengan petugas kesehatan dan dokter sudah ada. Bagaimana dia melakukannya, tentu dengan melakukan teori di atas tadi, misalnya menciptakan suatu penyakit, lalu membuat opini dan orang akan berobat terus kepadanya. Tentu dia akan bisa mengobati karena dia pencipta penyakit itu.
    Horas…Mauliate !
  • Tommy M J Sihotang
    15th Jul 2009 9:35 am
  • @Tommy M J Sihotang,
    Perspektif saya tentunya menyorot sistem kerja Negara Adimaju dengan transgeniknya. Dalam sistem kerja itu, termasuk didalamnya para pelaku Prostitusi Intelektual, sistem birokrasi dan pemerintah yag korup, kebohongan publik yang akan menggerogoti kehidupan dengan suatu rasa ketergantungan.
    Jadi seperti disebutkan diatas bahwa novel Lanang ini menarasikan hegemoni sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi.
    Horas…Mauliate !
  • Parbatto
    10th Dec 2009 10:33 am
  • Kasus NAMRU 2 ?
    Perdangangan VIRUS dan ANTI VIRUS adalah bisnis jutaan dolar…Akka halak na malo alai LICIK, dang i?
  • Parbatto
    15th Sep 2010 2:36 pm
  • Betapa sulit mencari kaum intelektual organis. Lebih gampang menemukan
    kaum intelektual oportunis.