Pages

Search Here

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Muhrishol Yafi: KISAH PETERNAKAN DALAM KARYA SASTRA


Agustus 24, 2009 pada 3:25 am  (resensi buku)

KISAH PETERNAKAN DALAM KARYA SASTRA

Judul Buku : Lanang

Penulis : Yonathan Rahardjo

Penerbit : Pustaka Alvabet,Tangerang

Cetakan : I,Mei 2008

Halaman : xxi+416 halaman

Habiburrahman El-Shyirazi mempunyai hak untuk menggunakan setting suasana negara Mesir, dalam penulisan novel ayat-ayat cinta,Budi Darma juga mempunyai hak untuk menggunakan setting kehidupan orang Amerika Serikat dalam novel “olenka”nya. Pun,demikian pula dengan Yonathan Rahardjo,penulis novel ini juga mempunyai hak untuk memakai setting negaranya sendiri dalam menuturkan cerita yang dibangun pada novel ini.

Novel ini ditulis oleh seorang dokter hewan, yaitu sebuah profesi yang kurang populer bila dibandingkan dengan dokter umum ataupun dokter gigi. Munculnya dokter hewan sebagai seorang pengarang atau lebih serius disebut sastrawan sepertinya bukan terbilang baru,karena sebelumnya kita sudah mengenal Taufik Ismail,Asrul Sani dan bila ditarik ke masa lampau kita juga mengenal Marah Rusli,sang pengarang roman Siti Nurbaya,itupun juga dokter hewan.

Tapi ada yang unik dari kehadiran Yonathan kali ini,keunikan itu terletak pada tema cerita yang dipilih, yaitu tema kesehatan hewan dan peternakan,sebuah tema yang sesuai dengan profesinya,dan tema yang belum pernah diangkat oleh sastrawan yang juga dokter hewan sebelumnya.

Pengangkatan tema itu sepertinya sebagai wujud kegelisahan hati sang pengarang pada perkembangan peternakan dan kesehatan hewan yang terjadi di negaranya. Apalagi,sang pengarang selain sebagai dokter hewan ternyata dia juga seorang jurnalis,dia menggawangi majalah INFOVET,sebuah majalah yang yang mengulas masalah peternakan dan kesehatan hewan.

Tokoh utama dalam novel ini diperankan oleh Lanang,yang berprofesi sebagai dokter hewan dan bekerja pada sebuah koperasi yang terletak di pegunungan. Alkisah pada suatu ketika Lanang dikejutkan oleh kematian seekor sapi perah milik seorang peternak,lanang mencoba untuk mendiagnosa penyebab kematian sapi itu,tapi ia tak mampu. Penyakit sapi itu sangat misterius,hanya menyerang sapi perah saja dan sangat sulit diobati bahkan lebih parah lagi penyakit itu menjadi wabah dan menghabiskan semua populasi sapi perah di daerah pegungan itu.

Lanang sebagai dokter hewan merasa penasaran dengan penyakit misterus itu,ia mencari tahu tentang penyebab penyakit itu secara ilmiah tapi belum juga ketemu,ia melakukan pengembaraan kesana kemari,untuk mendapatkan jawaban atas penyebab kematian semua sapi perah di wilayah pegunungan itu.

Ia juga melaporkan wabah ini pada pemerintah terkait,dan pemerintah juga belum dapat memastikan apa penyebab kematian sapi-sapi itu. Iapun menjadi gamang,hingga pada suatu ketika ia dikejutkan oleh pernyataan seorang dukun hewan yang bernama Rojikun,dukun itu mengatakan bahwa penyebab kematian ternak itu adalah burung babi hutan. Dan pemerintah kemudian juga mengumumkan bahwa penyebab wabah itu adalah burung babi hutan.

Lanang sendiri yang pernah bertemu burung itu sebelum wabah itu terjadi sebenarnya menyetujui pernyataan itu,tapi ia adalah seorang dokter hewan, yang harus mendasari semua keputusannya dengan teori ilmiah, sedang dukun mendasari keputusannya dengan mistik.

Meskipun ia menyetujui pernyataan dukun itu sekaligus menyutui pernyataan pemerintah,tapi ia masih belum yakin dengan jawaban itu,ia ingin jawaban yang lebih ilmiah. Anehnya sebelum penyebab penyakit itu dapat dengan pasti ditemukan,tapi banyak tawaran obat yang datang untuk menangkal penyakit itu, dan Lanang mencium ketidakberesan yang terjadi dalam merebaknya wabah ini.

Ia terus melakukan penelusuaran penyebab kematian sapi-sapi itu,dan dikemudian hari ia bertemu dengan Doktor Dewi,seorang perempuan cantik yang pernah jadi kekasihnya dulu sewaktu masih kuliah,dan sekarang sedang menekuni bidang rekayasa genetik.

Doktor itu menyatakan bahwa penyebab kematian sapi itu memang benar adalah burung babi hutan,tapi kebenaran itu hanyalah sebuah ilusi,karena penyebab sesungguhnya adalah kemalasan dan kebodohan dari manusia.

Penyakit itu muncul karena kemalasan manusia untuk melakukan usaha keras agar mendapat hasil yang memuaskan,kemalasan itu ditandai dengan menggunakan bahan transgenik pada ternak mereka,bahan yang dapat meningkatkan produksi ternak sapi perah sebanyak dua puluh persen.

Dan kebodohan itu dapat dilihat dari tidak kritisnya manusia dalam menerima produk itu,manusia hanya mau enaknya saja padahal efek dari bahan itu akan berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Diantara bahaya itu adalah adanya resiko terkena penyakit gula darah,atau diabetus,meningkatkan resiko kanker payudara,kanker prostat dan kanker usus besar.

Produk tansgenik itu ternyata disebarkan oleh sebuah perusahaan pakan ternak,yang dapat merusak pertahanan tubuh ternak terhadap penyakit,sehingga ternak sangat mudah terserang penyakit dan satu-satunya obat penangkal penyakit itu hanya dimiliki oleh persahaan itu. Dan ternyata pula perusahaan itu telah bekerjasama dengan pemerintah yang berwenang. Untuk melancarkan bisnisnya perusahaan itu memberi upeti pada pemerintah.

Misteri wabah penyakit yang menyebabkan kematian sapi perah hanyalah sebagai teka-teki yang membuat pembaca ingin terus menyusuri tek yang dibangun Yonathan. Tapi sebenarnya didalam novel ini terdapat banyak sekali rahasia tentang kondisi peternakan dan kesehatan hewan di nusantara,dan yang membuat novel ini mempunyai nilai lebih adalah adanya transfer ilmu terutama bidang bioteknologi dan kesehatan hewan pada pembaca. Karena dalam novel ini banyak sekali dicantumkan teori-teori bioteknologi dan kesehatan hewan.

Oleh:Muhrishol Yafi,Koresponden Majalah Poultry Indonesia

Mimin Haway: Plot yang disuguhkan sungguh luar biasa. Menegangkan, misterius dan mengejutkan.

Mimin Haway
http://www.goodreads.com/book/show/3303766.Lanang
Jun 27, 2010
Mimin Haway rated it 3 of 5 stars
Shelves: novel
Dapat buku ini gratis dari GRI pas acara diskusi buku Jakarta tahun lima puluhan di TM Bookstore Poins Square. Yang namanya hadiah ya dibaca aja, apalagi ada embel-embel 'novel pemenang DKJ 2006', jadi antusias baca.

Pertama terkesan dengan endorsement yang luar biasa, lalu baca lima halaman pertama tambah terkesan karena kalimatnya sastra banget. Tapi halaman berikutnya membuat saya kecewa. Mungkin karena timing bacanya kurang tepat. Kalau sudah berkeluarga baru boleh baca haha..., soalnya banyak adegan dewasanya beuh...Sampai satu bulan baru kelar bacanya. Tapi plot yang disuguhkan sungguh luar biasa. Menegangkan, misterius dan mengejutkan.

Ceritanya seorang Dokter hewan bernama Lanang bertugas di daerah pegunungan. Seperti penantin baru lainnya, tentu Lanang menikmati kebersamaan dengan istrinya yang bernama. Tapi tiba-tiba seekor burung babi hutan datang dan mengganggu percintaan mereka.

Di awal karir, Lanang harus mengalami tekanan, karena sapi yang ia tangani banyak yang mati. Dan belum jelas penyebabnya. Lanang berpikir burung babi hutan itulah penyebabnya. Sejak kejadian itu, Lanang menjadi penasaran ingin menemukan babi hutan jadi-jadian dan akan membunuhnya. Ia selalu bawa senjata kemana-mana. Tapi burung babi hutan selalu menghatui tanpa bisa membunuhnya.

Dengan ramuan yang ia bikin, Lanang berhasil memanggil burung babi hutan dan sukses membunuhnya. Lanang dielu-elukan penduduk setempat. Tapi itu tidak bertahan lama, karena Lanang difitnah oleh dukun Rajikun.

Sampai pada cerita laboratorium rahasia milik Dewi (mantan kekasih Lanang). Dokter Dewi menciptakan hewan transgenetik. Burung babi hutan salah satu produk gagalnya. Penyebab kematian sapi itu adalah kandungan susu buatan Dokter Dewi yang melumpuhkan kekebalan sapi.

Ditutup dengan ending mengejutkan. Ternyata Putri, Rajikun dll adalah staff Dokter Dewi yang ikut berpartisipasi membuat hewan transgenetik.
Dokter Lanang di strap, dimasukkan ke penjara dan diganti organ dalamnya (jantung dan paru-paru) dengan organ hewan. Semuanya dilakukan Dewi karena balas dendam pada Lanang yang menolak cintanya.

Hernadi Tanzil: Lanang jadi salah satu buku pilihan 2008

http://bukuygkubaca.blogspot.com/2008/12/10-2-buku-yang-kupilih-2008.html

Tuesday, December 23, 2008

10 + 2 BUKU YANG KUPILIH 2008

Ini dia 5 buku fiksi dan 5 buku non fiksi yang menjadi Buku Pilihan 2008.
(urutan berdasarkan alvabet)

Buku Fiksi
1. A. Thousand Splendid Sun – Khaled Hosseini (Qanita )
2. Bulan Jingga dalam Kepala – M. Fadjroel Rachman (Gramedia, 2007 )
3. Janda dari Jirah – Cok Savitri (Gramedia, 2007 )
4. Lanang – Yonathan Raharjo (Penerbit Alvabet, 2008)
5. Lolita – Vladimir Nobakov (Penerbit Serambi, 2008)

Buku Non Fiksi
1. Di negeri Penjajah – Harry A. Poeze (KPG, 2008)
2. Kearifan Pelacur – Elizabeth Pisani (Penerbit Serambi, 2008)
3. Lekra Tak Membakar Buku – Rhoma Dwi Aria Y & Muhidin M. Dahlan (Merakesumba, 2008)
4. Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2 – Sigit Susanto (Insist Press, 2008)
5. The 7 Laws of Hapiness – Arvan Pradiansyah (Kaifa, 2008)

Buku-buku yang kupilih diatas biasanya adalah buku-buku yang membuat wawasanku terbuka dan meninggalkan kesan yang dalam karena aku mendapat sesuatu yang ‘baru’ dalam kandungan buku tersebut. Berikut adalah komentar singkatku atau mungkin bisa disebut sebagai pertanggungjawabanku atas buku-buku yang kupilih

A Thousand Splendid Suns, selain kisahnya yang menarik, di novel tersebut aku belajar mengenai sejarah berganti-gantinya kekuasaan di Afghanistan yang selalu diwarnai oleh kekerasan.

Julia Imoet: Ga’ nyesel deh pokoknya, SERU abisss! Baca Novel ini gw sempet dibikin terbengong-bengong. Gila ya..imajinasi pengarangnya hebat banget!

http://julia-imoet.blog.friendster.com/

oleh: Julia Imoet

Resensi Buku: Lanang

Judul : Lanang

Karangan : Yonathan Rahardjo

Penerbit : AlvabetSastra





Suka baca Novel ber-genre Scie-Fi? Novel ini bisa jadi pilihan. Novel pemenang Sayembara Novel DKJ 2006 ini ditulis oleh seorang Dokter Hewan, isinya bertemakan tentang rekayasa genetika. Cocok dibaca buat mereka yang tertarik dengan isu-isu sosial, psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan. Weits..tapi bukan berarti yang masih awam di dunia ini ga bisa ngikutin loh. Contohnya gw ;-) Awalnya emang pusing karena banyak istilah asing yang baru dikenal (Maklum aja, gw anak ekonomi), tapi ternyata lama-lama bisa ngikutin juga tuh. And very excited! Bahasanya nyastra banget…jauh dari bayangan gw, kalo yang nulis ternyata adalah seorang Dr.Hewan :-) Bacanya ga bisa berenti, menegangkan…pengen cepet tau gimana endingnya.



Ceritanya, tentang seorang dokter Hewan bernama Lanang yang berpraktek di sebuah koperasi yang bergerak di bidang peternakan, di desa terpencil yang terletak jauh didaerah pegunungan. Pengantin baru ini, langsung memboyong istrinya “Putri” untuk tinggal bersamanya di desa itu. Kehidupannya sebagai pengantin baru ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Hal itu diawali ketika sesosok Burung Babi Hutan, yang diyakini sebagai mahluk rekayasa genetika (ataukah monster?) mengganggu kehidupan perkawinan dan pekerjaan Lanang. Bagaimana tidak, jika mereka selalu diteror (bahkan ketika mereka melangsungkan ritual “malam pertamanya!”). Sapi perah yang ada di seluruh peternakan itu lambat laun musnah karena penyakit yang diyakini disebar oleh “monster” aneh ini. Hal ini membuat Lanang menjadi STRESS berat. meski masih berusaha menciptakan kesan religius dari dalam dirinya, namun ternyata Lanang masih rajin “jajan” mencari perempuan lain selain istrinya. Hal itu didapatnya di tempat pelacuran dan juga “Dewi” cinta pertamanya dulu ketika masih di bangku kuliah yang berfofesi sama sebagai doktor hewan. Kehidupan bertambah rumit, ketika seorang dukun hewan “Rajikun” muncul berkoar-koar tentang adanya mahluk Burung Babi Hutan Ini. Dan pada akhirnya banyak orang yang memanfaatkan dari kejadian ini, untuk kepentingan pribadi masing-masing. Sebagai intrik politik, bisnis, juga sebagai pembalas dendam masa lalu. Bagaimana pada akhirnya kehidupan Lanang, dan juga nasib si Burung Babi Hutan? Trus apa hubungannya si Dukun Hewan Rajikun dengan Lanang? Juga Putri dengan Dewi?.



Lebih lengkapnya, baca aja Novelnya kali yee.. ;-) ga’ nyesel deh pokoknya, SERU abisss! Baca Novel ini gw sempet dibikin terbengong-bengong. Gila ya..imajinasi pengarangnya hebat banget! Gw berasa nonton film-film Scie-Fi dari Luar sono. Tentang camp pembuatan mahluk-mahluk rekayasa genetika, mana kepikiran coba? Nyamuk berkepala tupai, Gen domba dioplos sama Gen manusia biar air susunya banyak, Gen kera dioplos sam Gen ubur2 laut biar bisa nyala diruang gelap, membuat ayam transgenic , dll..dll… *Fiuuuh…cape deh gw bayanginnya!* ;-) Trus ada lagi yang bikin takjub, waktu ritual pembunuhan si Burung Babi Hutan. Nuansa mistis-nya berasa banget, ritual yang aneh. Hehe…



Selain ceritanya, nilai plus dari buku ini yang gw catet adalah bahasanya yang indah. Sastra banget, banyak puisnya juga (meski terkadang puisnya agak2 ga ngerti, hehe…). Oh ya, satu lagi kritiknya. Kok Novel ini banyak adegan “ML” nya yah? :P ga gt vulgar sih. cuman… ;-) *No comment ah kalo soal ini* harusnya, di pojok kiri atas ada tulisan : BO *Bimbingan Orang tua* atau 18+. Hehe…



Finally, mari kita berandai-andai. Jika Novel ini di-film-kan? Seru banget kali yaa…cuman modalnya pasti gede :D Gw udah punya bayangin nih buat jadi dukun Hewan Rajikun-nya: Sudjiwo Tedjo aja! atau Paranormal yang kaya banget itu tuh (Lupa deh siapa namanya…). Hehe..



P.S

Very Special Thanks to Thamoz buat bukunya juga “diskusi” nya ;-)


October 1st, 2008 at 6:33 pm Comments & Trackbacks (0) Permalink

Ilenk Rembulan: Resensi: Rindu Dendam Cinta Transgenik

http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/08/20/00472916/resensi.rindu.dendam.cinta.transgenik


Resensi: Rindu Dendam Cinta Transgenik
istimewa
Rabu, 20/8/2008 | 00:47 WIB

Oleh : ilenk rembulan

Judul Buku : LANANG
Penulis : YONATHAN RAHARDJO
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga : Rp. 55.000,-
Tebal : 440 halamanan

Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.

Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.

Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.

Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.

Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.

Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.

Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.

Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.

Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian tersebut.

Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.

Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.

Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.

Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.

Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno, yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.

Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.

Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.

Penuh Bahasa Ilmiah

"Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui".

"Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat."

"Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika."

Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.

Kemudian dijelaskan juga adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.

Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.

Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.

Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.

Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?

Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Moral, Religi dan Klenik

Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut.

Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.

Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.

Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.

Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).

Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca, kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.

Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.

Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.

Cinta dan Dendam

Intrik yang dibangun pada cerita yang membuatnya menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.

Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.

Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.

Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.

Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.

Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.

Catatan akhir

Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit, namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.

Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.

JY

Hernadi Tanzil: Novel yang menuai kritik dan pujian

oleh:
H Tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com/2008/08/lanang.html

Lanang
Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Editor : A. Fathoni
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 414 hlm


Sebenarnya agak terlambat untuk membicarakan novel Lanang – Yonathan Rahardjo, pemenang harapan II novel DKJ 2006. Novel yang terbit sejak Mei 2008 ini telah banyak menuai komentar, ada yang memuji dan ada juga yang mengkritiknya. Ketika novel ini dibahas di TIM pada bulan Juli yang lalu, novel ini didiskusikan dengan sangat kritis oleh para pengamat dan pelaku sastra nasional.

Arpesiasi atas novel ini ternyata tak berhenti di ruang-ruang diskusi sastra, kritikan, pujian, dan beraneka tanggapan dari berbagai kalangan terus berseliweran di ruang cyber, baik di milis-milis sastra, maupun blog-blog yang membahas buku ini. Kini semua komentar, diskusi, essai, dan makalah yang membahas novel ini telah dikumpulkan oleh penulisnya dalam sebuah blog yang diberi nama http://novellanang.co.cc

Novel ini diawali dengan deskripsi suasana pedesaan ketika dokter hewan Lanang tengah menolong kelahiran seekor anak sapi perahan. Proses kelahiran anak sapi ini berlangsung dengan lancar dan disambut gembira oleh si empunya sapi. Pulangnya, saat lanang memadu kasih dengan istrinya, mucullah sosok mengerikan dari dalam tanah. Bentuknya menyerupai babi, namun memiliki sayap dan bisa terbang. Belum lagi Lanang sadar dari rasa kagetnya, burung babi hutan yang memporak porandakan rumahnya itu terbang dan lenyap entah kemana.

Kemunculan burung babi hutan itu ternyata diikuti oleh kematian mendadak sapi-sapi perah di desa tempat lanang bekerja, bagai wabah ganas, kematian itu menyebar hingga ke seantero nusantara. Para ahli ternak mulai mencari penyebab wabah kematian sapi-sapi perah itu, namun penyakit aneh yang menyertai kematian para sapi perah tak bisa diidentifikasi secara ilmiah hingga seorang dukun hewan memastikan bahwa burung babi hutan yang pernah mendatangi lananglah penyebab wabah tersebut.

Lanang terobesesi untuk mencari tahu apa sebenarnya mahluk tersebut. Berbagai usaha dilakukannya hingga akhirnya berkat kegemarannya mengumpulkan cairan tubuh dari para wanita yang dikencaninya, ia berhasil merumuskan sebuah cara ilmiah plus mistis guna menghadirkan sosok burung babi hutan. Usahanya tersebut berhasil, burung babi hutan berhasil ditembaknya hingga tewas. Bersamaan dengan tewasnya mahluk tersebut lenyap juga wabah penyakit yang melanda para sapi perahan

Lanang pun menjadi pahlawan. Namun ini bukan akhir dari kisah Lanang, tewasnya burung babi hutan belum menjawab apa dan darimana mahluk tersebut berasal. Peran Lanang sebagai pahlawan pemberantas wabah penyakit hewan tiba-tiba dipertanyakan dan digugat dalam sebuah seminar Kehewanan Nasional. Selain itu rumah tangga Lanang pun diguncang prahara. Kehidupan Lanang berada dalam titik terendahnya. Secara intelektual dan emosional ia dihancurkan oleh sebuah konspirasi tingkat tinggi yang justru dilakukan oleh kolega-koleganya sendiri.

Sanggupkah Lanang bertahan, darimana dan apakakah sebenarnya burung babi hutan itu muncul? Layaknya sebuah novel misteri, semua misteri dan berbagai kejutan tak terduga akan tersaji di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel dengan keragaman tema

Novel yang dibuat oleh seorang dokter hewan sekaligus pecinta dan pelaku sastra ini memiliki keragaman tema. Ada soal cinta, seks, kemunfaikan, psikologis, dan isu-isu sosial yang menyangkut lingkungan kesehatan hewan dan bioteknologi.

Secara psikologis karakter dalam tokoh-tokoh novel ini bisa dibilang menarik. Pada awalnya kita akan disuguhkan karakter Lanang sebagai dokter hewan yang berdedikasi, mencintai istrinya dan tampak taat menjalankan ritual agamanya. Namun Lanang bukanlah tokoh yang sempurna, sedikit demi sedikit kebusukan dan perilakunya yang aneh dan rapuh akan terungkap. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Putri, istrinya, Dewi, teman seprofesinya, dan Rajikun di dukun hewan yang kontroversial.

Konflik kejiwaan dan karakter tokoh-tokohnya ditampilkan secara mendalam sehingga membangun novel ini menjadi sebuah novel psikologis yang mengungkap sisi malaikat dan sisi iblis pada tiap manusia.

Tema lain yang menonjol dalam novel ini adalah mengenai lingkungan dunia kesehatan hewan. Tampaknya penulis menumpahkan semua pengetahuan akademisnya dan wawasan lingkungannya sebagai seorang dokter hewan pada novel ini. Seluk beluk mengenai dunia kesehatan hewan dieksplorasi dengan baik termasuk intik-intrik didalamnya dan berbagai konspirasi dalam dunia kesehatan.

Dan yang paling menarik adalah tema rekayasa genetika. Akan terungkap bagaimana penggunaan zat-zat transgenik dalam pengolaan pakan hewan bagaikan pisau bermata dua, di satu pihak dapat memacu produktivitas hewan namun sekaligus bisa berdampak menimpulkan penyakit baru. Ironisnya, hal ini ternyata disengaja agar produsen obat penangkalnya bisa memasarkan produknya dengan maksimal.

Dan hal yang lebih ekstrim lagi adalah akibat rekayasa genetika yang dicobakan pada hewan-hewan yang ada disekeliling kita. Misalnya bagaimana seekor monyet yang diberi gen ubur-bur akan membuat monyet tersebut berpendar dalam gelap, seekor babi yang memilik sayap setelah diberi gen seekor burung, atau pemberian gen manusia pada sapi perah agar dapat menghasilkan susu lebih banyak dan kandungan susu yang dihasilkan menjadi sama dengan ASI ! Semua itu akan terungkap dengan jelas pada novel ini.

Alur cerita

Novel yang ditulis dengan bahasa yang ‘nyastra’ ini memiliki alur kisah yang tak terlalu cepat, kalimat-kalimat yang puitik dalam mendeskripsikan sesuatu tampaknya turut membuat alur kisahnya berada dalam kecepatan yang sedang-sedang saja.

Ketika membaca novel ini, pembaca akan diajak bagaikan menaiki sebuah roler coaster. Perlahan tapi pasti pembaca dibawa menaiki puncak ketegangan dari novel ini. Klimaksnya adalah dengan tertembaknya burung babi hutan ditangan dokter lanang.

Uniknya hal ini terdapat di pertengahan novel ini. Tentunya pembaca akan bertanya-tanya, kalau begitu kisah apa lagi yang akan ditemui di sisa halaman selanjutnya? Yang pasti setelah itu situasi kembali mengendur sesaat, emosi pembaca akan diajak kembali menanjak menuju klimaks berikutnya yang berakhir di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel ini juga menyisipkan berbagai teka-teki dan misteri sehingga walau tak memiliki alur kisah yang cepat, hal ini dapat mengikat pembacanya untuk terus betah melahap novel ini hingga selesai guna mencari jawab semua teka-teki dan misteri yang terdapat dalam novel ini.

Novel yang menuai kritik dan pujian

Seperti telah diungkap diatas, novel ini ternyata menuai beragam tanggapan, baik yang positif maupun negatif. Yang memuji, umumnya mengacungkan jempol pada penulisnya karena keberaniannya menghadirkan tema mengenai rekayasa genetik, seluk beluk peternakan, dll yang merupakan wilayah yang jarang dibicarakan di sastra Indonesia.

Yang mengkritik, menyorot soal terlalu banyaknya deskripsi-deskripsi puitik yang mengganggu alur cerita, beberapa kejadian yang tidak masuk akal, hingga struktur kalimatnya yang dianggap berantakan.

Terlepas dari berbagai kritik atas novel ini, saya pribadi bisa menikmati novel ini hingga tuntas, bahkan banyak mendapat pencerahan melalui dialog-dialog seputar kesehatan hewan, bioteknologi, rekayasa genetik, kritik sosial, hingga intrik-intrik politik dunia kesehatan tanah air yang mungkin merupakan cermin apa yang sesungguhnya terjadi di dunia kedokteran hewan dan peternakan di tanah air.

Dibalik pencerahan yang saya dapat memang ada beberapa hal yang mengganggu seperti beberapa puisi yang menurut saya mengganggu alur kisahnya, terutama di bagian ketika Lanang menumpahkan kekesalannya pada kolega-koleganya melalui kalimat-kalimat puisi sebanyak hampir 3 halaman ! Saya terpaksa melompati bagian ini karena sama sekali tak bisa menikmati puisi tersebut.

Sedangkan untuk peristiwa yang menurut saya ganjil adalah ketika Lanang digempur oleh rekan-rekannya dalam seminar Kehewanan Nasional. Umpatan-umpatan dan tuduhan yang ditujukan pada Lanang tampak terlalu berlebihan dan emosional sehingga tidak mencerminkan suasana sebuah seminar nasional yang dihadiri oleh ahli2 dokter hewan dari luar negeri.

Kehadiran sosok burung babi hutan sendiri saya rasa terlalu mengada-ngada dan agak sulit bagi saya untuk menghadirkan sosok tersebut dalam benak saya. Saya rasa dengan tema, pesan, dan muatan yang sama tak perlulah penulis menghadirkan sosok mahluk aneh dan terkesan mistis. Jika saja burung babi hutan digantikan dengan sejenis virus, seperti virus flu burung yang hingga kini masih menjadi momok di negara kita, pasti novel ini akan lebih membumi dan bermanfaat karena ada kesempatan bagi penulisnya untuk mengemukakan hal-hal baru mengenai virus ini.

Selain itu usaha ketika lanang akhirnya memperoleh suatu rumusan yang mencampuradukkan unsur bioteknologi, mistis, dan religi untuk memanggil burung babi hutan saya rasa terlalu berlebihan dan diluar nalar saya yang awam dengan kajian bioteknologi.

Nah, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya tersebut, novel yang telah hadir dan menyemarakkan jagad sastra kita ini setidaknya memiliki nilai-nilai baik. Seperti yang ditulis oleh koran tempo, novel ini telah mengangkat satu isu yang sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang, Selain itu terungkap pula tarik menarik antara kedokteran modern dangan pengobatan alternatif, hubungan suami istri, serta isu lingkungan.

@h_tanzil

Efri Ritonga: KISAH ABSURD SEEKOR BABI

Koran Tempo Ruang Baca
Edisi 28 Juli 2008

http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwOA==&dokm=MDc=&dokd=Mjg=&dig=YXJjaGl2ZXM=&on=VUxT&uniq=NzE2


U L A S A N


KISAH ABSURD SEEKOR BABI


Ada dua pemikat novel Lanang seandainya disandingkan dengan novel lain di rak buku. Pertama adalah embel-embel sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006.


Lanang menyabet juara harapan kedua. Satu peringkat di bawah novel Glonggong karya Junaedi Setiyono, yang lebih dulu beredar. Glonggong cukup manis mengolah sejumput kisah lain di masa perang Diponegoro.


Pemikat kedua adalah sinopsis di sampul belakang. Alkisah, sejak kemunculan makhluk rekayasa genetika antara burung dan babi hutan, penyakit aneh membantai ribuan sapi perah di area peternakan tempat Lanang bekerja.


Bersama pemerintah dan masyarakat, dokter hewan Lanang sibuk mencari tahu biang kerok penyakit aneh itu. Seminar dan penelitian dibuat, tapi penyakit misterius tersebut tak kunjung ketemu. Dukun hewan Rajikun yang menyatakan biang keladinya adalah burung babi hutan — makhluk jadi-jadian —memperkeruh situasi.


Pergulatan antara mistikisme tradisional melawan bioteknologi modern menjanjikan ramuan fiksi sains bercita rasa Indonesia. Harapan langsung terbit, Lanang akan menyajikan tema fiksi yang masih langka di Indonesia: fiksi ilmiah. Terbayang novel ini bakal sarat dengan dialog-dialog ilmiah yang cerdas, tajam, dan lincah.


Tapi, nyatanya, setelah bersusah- payah mengunyah membaca novel ini sampai akhir, harapan tinggal harapan. Mulanya Lanang melangkah lumayan cepat. Cikal bakal ketegangan muncul di awal dengan gelombang kematian ternak sapi. Lalu datang pula makhluk babi bersayap.


Namun semakin jauh ke dalam, langkah Lanang mulai kedodoran. Ceritanya seolah tak bergerak ke mana-mana. Fokusnya juga buyar. Alur ceritanya silang sengkarut antara pencarian si babi, perdebatan, persenggamaan, perselingkuhan, senggama lagi, monolog, dan selingkuh lagi.


Kegemaran Yonathan —yang juga seorang dokter hewan —berpuisi membanjiri keseluruhan isi novel. Sepertinya ia tidak rela melewatkan satu halaman pun tanpa berpuisi. Walhasil, tak berapa lama membaca sepak terjang Lanang, jemu mulai menyergap.


Bukan cuma itu, gara-gara taburan kata-kata indah, emosi tokoh yang hendak disampaikan ke pembaca menjadi buyar. Begitu pula saat pengarangnya hendak membangun suasana melalui deskripsi, sering gagal karena tertutup untaian kalimat panjang nan manis.


Coba saja simak gambaran emosi Lanang kala dituding sebagai penyebab kematian sapi-sapi itu :


Halilintar menyambar-nyambar di tengah siang hari bolong.


Lanang diserbu panah berapi dari segala penjuru para rekan, peternak, dan ahli kesehatan hewan.


Atap gedung serasa runtuh. Lanang membara. Auranya merah mengeluarkan asap mengepul.


Mata Lanang membelalak penuh amarah, bagai mengeluarkan api bara panas berwarna merah kekuningan. Bahkan naga liangliong yang berarak pada setiap Hari Raya Imlek tak bisa menandingi. Kalau naga-naga kertas itu disandingkan dengan naga yang tersirat dari perangai murka Lanang saat tu, pasti akan hangus terbakar. Dan jadi abu.


Hitam.


Luruh.


Indah sekali. Tapi sayang, kemarahan sang tokoh yang harusnya lebih meledak-ledak dan manusiawi, menjadi sangat santun dan cantik.


Tiada yang salah dengan karya yang puitis. Asal tidak berlebihan. Contoh yang cukup berhasil barangkali serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Ungkapan- ungkapan puitis kuno tidak mengaburkan jalannya cerita. Simak saja:


Duka membayang di kaki langit, duka sekali lagi membungkus Majapahit.


Ada banyak hal yang dicatat Pancaksara, banyak sekali. Kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu, yang ditulisnya berdasar kisah yang dituturkan ayahnya, Samenaka.


Tema sains di novel ini pun seolah hanya mendapat peran pembantu di tengah dominasi drama hidup anak manusia. Perdebatanperdebatan ilmiah antara tokohtokohnya kurang imajinatif dan lincah. Apalagi setelah dikotori dengan sisipan puisi-puisi panjang.


Jauh lebih menarik sahut-menyahut antara tokoh Tennant dengan superkomputer Trinity dalam novel The Footprints of God karya Greg Iles. Mereka berdebat dengan jernih mengenai teknologi, ketuhanan, dan masa depan manusia.


“Apakah kemudian kesadaran akan mati ?” Kata komputer.


“Dorongan terkuat dari segala entitas yang hidup akan selamat.”


“Bagaimana mungkin kesadaran bertahan dalam keadaan semacam itu?”


Ini adalah konsep yang sulit, saat di mana sang ular harus menelan ekornya sendiri sampai akhirnya tubuh dalamnya menjadi di luar.


“Dengan berpindah keluar dari medium yang mati. Berpindah keluar dari zat dan energi. Keluar dari ruang dan waktu.”


Jalan cerita novel ini juga sederhana saja. Tidak ada jalan berliku, tanjakan, turunan, minim ketegangan, dan penutup kisahnya pun tidak mengentak. Mestinya, ketimbang bermain dengan kata-kata, lebih baik pengarangnya memperkuat alur cerita supaya lebih mengesankan.


Begitupun buku ini tentu mempunyai nilai-nilai baik. Misalnya isu yang diangkat sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang. Tarik menarik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif, hubungan suami-istri, kesetiaan, serta isu lingkungan. EFRI RITONGA

Qyu: Berbelit-belit Banyak Kejutan

http://qyu.blogspot.com/2008/07/lanang.html

Monday, July 28, 2008 Lanang, Yonathan Rahardjo*

Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Edisi : Cet I, Mei 2008, 440 hlm*

Novel "Lanang" karya Yonathan Rahardjo ini adalah pemenang harapan kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Entah mengapa novel pemenang sayembara Novel DKJ 2006 ini terlambat dibukukan. Sementara novel2 pemenang sayembara yang sama di tahun 2007 malah hampir semua telah dibukukan sebelum novel ini.

Desain sampulnya yang gelap buram sama sekali tidak memberikan petunjuk tentang isi cerita. Sekilas tampak sesosok tubuh yang menatap malam. Itu saja. Namun tipografi judulnya lumayan menarik. Label "Pemenang Sayembara Novel DKJ 2006" yang sangat mencolok di sampul depan rupanya masih dianggap kurang sebagai nilai lebih dari novel ini. Penerbit berusaha memperkuat lagi dengan mencantumkan belasan endorsement dari beberapa sastrawan dan media terkemuka yang memuji2 novel ini.

Sejujurnya aku tidak tertarik ketika pertama kali membaca potongan kisahnya di sampul belakang. Terutama karena disebutkan adanya mahluk aneh "Burung Babi Hutan". Ah, pastilah kisah fantasi yang terlalu dipaksakan. Ketertarikan atau lebih tepatnya rasa penasaran mulai timbul saat mengetahui bahwa novel ini dalam beberapa minggu2 terakhir ini sempat menjadi topik di beberapa diskusi perbukuan.


*Kehidupan Seorang Dokter Hewan*

Lanang adalah seorang Dokter Hewan yang bertugas di sebuah daerah pegunungan dimana penduduknya banyak beternak sapi perah. Ia baru saja menikahi Putri, teman semasa kuliahnya. Belum sempat berbulan madu, Lanang langsung memboyong Putri ke daerah pegunungan tempat tugasnya.

Namun malam bulan madu pertama mereka ternyata menjadi awal dari rentetan bencana. Diawali dengan pemunculan sesosok mahluk aneh di saat mereka berdua sedang bergumul mesra. Makhluk serupa babi hutan besar berbulu hitam, dengan sayap di kaki depannya. Burung Babi Hutan.

Belum sempat pulih dari kekagetan melihat makhluk aneh, paginya Lanang harus menangani wabah penyakit yang mendadak menyerang sejumlah sapi perah. Di depan mata Lanang, sapi sapi sekarat dan meledak. Selanjutnya wabah aneh itu dalam waktu singkat nyaris memusnahkan sapi-sapi perah di banyak tempat.

Sama sekali tidak ada petunjuk apa jenis penyakit tersebut. Sejenis rabies tapi lebih mengerikan. Dalam sebuah pertemuan, para dokter hewan tidak ada yang memiliki solusi. Hanya satu orang yang berani bicara. Namanya Rajikun, dikenal sebagai dukun hewan karena tidak mengikuti prosedur ilmiah dalam pengobatannya. Rajikun menyatakan bahwa penyakit itu disebabkan oleh makhluk berwujud Burung Babi Hutan.

Tidak ada yang mempercayai kesimpulan itu, kecuali Lanang. Lanang yang masih terus dihantui oleh makhluk tersebut bertekad menemukannya dan membunuhnya. Perburuan terhadap Burung Babi Hutan tersebut mendamparkan Lanang bertemu kembali dengan Dewi, seorang ahli terkemukan dalam bidang rekayasa genetika. Dewi juga adalah mantan kekasih Lanang, yang ditinggalkan untuk menikah dengan Putri.


*Novel yang Rumit*

Seperti yang diungkapkan pada beberapa endorsement untuk buku ini, novel ini rumit. Kata itulah yang aku paling setuju. Rumit sampai aku harus sedikit bersusah payah untuk mencernanya. Pertama karena penulis memiliki basis awal sebagai penulis puisi, maka tak pelak jika novel inipun bertaburan kalimat puitis. Sebagai orang yang tidak begitu mampu memahami puisi, aku tersesat dalam bunga-bunga bahasa puitis yang seringkali bias itu.

Kedua, novel ini dengan lumayan mendetil banyak menjelaskan tentang seluk-beluk ilmu kehewanan. Dari mulai jenis hewan, jenis penyakit, jenis obat, ilmu rekayasa genetika hewan, hingga carut marut persaingan bisnis dalam dunia pengobatan hewan. Tentu itu karena penulisnya memang seorang dokter hewan. Sebagian besar pembahasan itu aku hanya bisa memahami permukaannya saja. Penjabaran2 detilnya malah membuatku bingung.

Ketiga, aku agak bingung membangun imajinasi selama membaca cerita ini. Dimanakah genre cerita ini harus diletakkan? cerita fiksi ilmiah, atau cerita fantasi? atau malah cerita mistis? Karena unsur ilmiah, fantasi dan mistis bercampur baur tanpa jarak disini. Padahal ketiga genre itu masing2 meletakkan realitas pada posisi yang berbeda-beda. Walaupun pada ending akhirnya semua hendak diposisikan secara ilmiah dan realistis, tapi tetap banyak hal berbau fantasi dan mistis yang tidak terjelaskan secara ilmiah dengan baik.

Maka, demi agar buku ini dapat terbaca dengan tuntas, bagian2 yang menurutku rumit itu dengan sengaja aku lompat-lompati. Yang penting masih bisa menangkap inti cerita.


*Idenya Segar dan Unik*

Pujian untuk buku ini terutama adalah untuk segi ide topik cerita yang memang sangat unik. Tampaknya memang belum ada novel karya penulis Indonesia yang berani mengangkat topik dari dunia dokter hewan yang merembet jauh hingga ke rekayasa genetika hewan. Untuk yang satu ini memang patut diacungi jempol, karena berhasil dijabarkan dengan sangat detil. Dan juga topik2 itu berhasil dimasukkan sebagai bagian utama cerita, bukan sekedar tempelan ajang pamer pengetahuan penulis. Walaupun sayangnya pada beberapa bagian, penjabaran keilmuan dan detil bisnis kehewanan itu terasa berpanjang-panjang membosankan dan kurang menarik.

Ide tentang rekayasa genetika, hingga terciptanya makhluk2 gabungan dua jenis hewan memang lumayan gila. Walaupun ternyata sebenarnya tidak perlu2 amat ada mahluk2 super aneh tersebut di kisah ini. Tapi cukup menambah wawasan bagi pembaca, bahwa hal itu secara teoritis bisa terjadi, meski belum terbukti. Ide lain yang menjadi twist dalam novel ini tentang perilaku Lanang yang sebenarnya, juga cukup mengejutkan dan menarik. Tampaknya juri2 pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta lebih menyukai tulisan2 yang memiliki keberanian mengangkat ide yang unik dan berbeda untuk menjadi pemenang dalam ajang tersebut, daripada novel2 yang ditulis dengan latarbelakang klise.


*Berbelit-belit Banyak Kejutan*

Plot ceritanya lumayan rumit dan berbelit-belit. Harus kesana kemari terlebih dahulu untuk mendapatkan kesimpulan. Pada saat wabah sudah menyerang dimana-mana, para dokter hewan malah sibuk berdebat tentang peraturan tentang obat, bukannya mencari solusi. Lanang pun tampak tidak memikirkan penjelasan ilmiah tentang wabah tersebut, malah sibuk kesana kemari mencari dan memburu Burung Babi Hutan. Setelah cerita memuncak dengan pertemuan kembali antara Lanang dan Burung Babi Hutan, tiba-tiba kisah yang masih separuh ini menurun drastis menjadi lembek tentang kisah percintaan masa lalu ... Dan selanjutnya ditutup dengan kejutan2 yang memutarbalikkan semua cerita.

Karakter2nya juga penuh kejutan. Lanang yang sejak awal tampak penuh tanggung jawab dan romantis, meskipun agak mudah stress, pada endingnya digambarkan sebagai maniak. Putri yang lemah ternyata menyimpan dendam. Rajikun dari awal memang orang yang licik mampu berubah-ubah peran sebabai siasat dalam mencapai tujuannya. Sementara Dewi wanita cerdas yang penuh gejolak dendam.

Mengenai adanya adegan2 pergumulan seksual yang lumayan banyak bertebaran di beberapa bab, menurutku tidak terlalu menjadi masalah. Karena sudah terasa lazim pada novel-novel karya penulis lokal masa sekarang memberikan imbuhan-imbuhan adegan percintaan yang cukup mendetil. Penulis dengan cerdik menjadikan adegan2 tersebut sebagai bagian dari cerita yang tak mungkin dihilangkan. Hanya saja yang terasa agak mengganggu adalah adanya adegan seksual antara manusia dengan hewan. Bagian itu langsung aku lompati.


*Yang Tak Terjawab*

Ada beberapa penggambaran yang menimbulkan pertanyaan dalam novel ini.
- Mengapa Rajikun disebut sebagai dukun hewan dan penganut klenik? sementara sama sekali tidak digambarkan dalam novel ini Rajikun melakukan kegiatan2 berbau klenik. Rajikun malah bekerja di sebuah laboratorium modern.
- Yang memiliki kemampuan klenik malah Lanang. Dari campuran potongan daging sapi, telor dan susu serta cairan wanita ditambah dengan doa-doa, Lanang menciptakan biji-biji kesempurnaan yang dijadikan senjata melawan Burung Babi Hutan. Dari mana kemampuan ini datang?
- Ketika Rajikun begitu saja menyebutkan penyebab wabah adalah Burung Babi Hutan, tak seorang pun berinisiatif untuk meminta fakta detailnya dan mempelajarinya. Bahkan hingga saat Menteri mengumumkannya sebagai pernyataan resmi pemerintah secara mentah-mentah, tak ada alasan kuat yang mendukungnya. Kemana para petinggi dunia ilmiah?
- Dalam sebuah acara seminar ilmiah, Rajikun dengan sangat bebas menghujat dan menuduh Lanang habis-habisan di depan publik tanpa ada seorang moderator yang berniat menengahi. Acara ilmiah macam apakah itu?
- Burung Babi Hutan disebutkan memiliki wujud seperti Babi hutan dengan lengan depan bersayap. Bisakah membayangkan Babi hutan yang nyaris tak berleher itu mampu menjilati bagian bawah tubuhya?
- Apa tujuannya menjadikan Lanang sebagai yang terjadi pada ending novel ini? Pertanyaan terbesarku memang adalah: ini novel fiksi ilmiah, fantasi, atau malah mistis? /posted by Q

Dwi Fitria: Tentang Rekayasa Genetika

Jurnal Nasional, Minggu 22 Juni 2008

Tentang Rekayasa Genetika

Mengetengahkan masalah rekayasa genetika, Lanang memberikan alternatif lain dalam khazanah sastra Indonesia

Oleh:
Dwi Fitria


SETIDAKNYA ada tiga orang dokter hewan yang kemudian juga dikenal sebagai sastrawan dalam khazanah sastra Indonesia. Taufiq Ismail, Asrul Sanl, juga Marah Kusli. Yonathan Rahardjo menambah panjang daftar ini. la adalah seorang dokter hewan yang juga mengukuhkan dirinya di belantika sastra Indonesia.
Yang membedakannya dengan tiga sastrawan sebelumnya adalah, Yonathan mengangkat ilmu yang ditekuninya jalin menjalin dengan karya sastra yang dibuatnya. Lanang, adalah perwujudan paling anyar perkawinan kedua hal ini.
Lanang berkisah tentang seorang dokter hewan yang sedang mengabdi di sebuah daerah di pelosok. Ia baru saja menikali dan mcmboyong serta istrinya yang masih belia ke tempat ia menunaikan tugas. Saat suatu malam seekor mahluk aneh memorak porandakan kamar tidur mereka, Lanang tercerabut dari kcasyikannya menjalani rutinitas pengabdian sebagai seorang dokter hewan muda,
Mahluk itu menyerupai babi hutan tetapi yang aneh, di punggungnya ada sepasang sayap. Setelah "serangan" ke rumahnya, keesokan harinya Lanang mendapati ternak di desa tempat ia mengabdi mulai terjangkit penyakit aneh yang tak terjelaskan oleh teori kedokteran hewan yang ia pelajari selama ini.
Belakangan terkuak juga bahwa binatang aneh yang menyerang rumah Lanang, burung babi rusa, adalah juga penyebab penyakit aneh yang melanda hewan yang diternakkan penduduk desa. Burung babi rusa ternyata dikembangkan oleh Doktor Dewi, seorang kaki tangan perusahaan asing yang ditugasi untuk menyebarkan wabah virus penyakit dengan menggunakan hewan aneh hasil rekayasa genetik yang dibuat-nya.
Lanang yang idealis harus menyelidiki dan menuntaskan wabah bencana yang ditebar pihak asing ini.
Sepintas melihat jalan cerita yang memasukkan unsur canggih bioteknologi, membuat novel Lanang punya banyak kemiripan dengan sebuah cerita fiksi ilmiah. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19.
Adalah penulis Francis Jules Verne dan penulis Inggris H.G Wells yang dianggap sebagai orang-orang yang memelopori penciptaan genre yang amat me-nawarkan keluarbiasaan cerita yang biasanya bahkan tak ter-pikirkan sebelumnya.
Dalam Around the World in Eighty Days, Verne mengajak imajinasi pembacanya berkelana membayangkan kemungkinan mengelilingi dunia dalam waktu yang amat cepat untuk ukuran masa itu (novel ini terbit pada 1873). Belakangan "ramalan" Verne ini seolah benar-benar terbukti. Kemajuan teknologi telah membuat apa yang dibayangkannya lebih dari seabad yang lalu itu menjadi hal yang benar-benar mungkin dilakukan. Sementara Wells mengajak pembacanya membayangkan serangan makhluk luar angkasa terhadap planet bumi dalam The War of The Worlds. Buku yang terbit pada 1898 ini masih bisa memesona para pembaca masa kini, sebab mengajak pembacanya membayangkan kemungkinan adanya kehidupan lain selain manusia di semesta yang luas ini.
Yang membuat Lanang berbeda adalah, meski alurnya mirip cerita fiksi ilmiah, novel ini tetap mempertahankan gaya bahasa yang indah. Di beberapa bagian malah menjadi cenderung puitis.
"Aku telah mengejarmu sekian lama. Dalam pengejaranku, kucari kau tanpa lelah. Jerih payah dan pergulatanku hanya sekadar pompa gas yang mendorongku untuk selalu menyatukan fokus pada satu sasaran yang kutuju. Yaitu, aku mesti bisa mengungkapkan kau secara gamblang. Aku sudah berdarah-darah demi mendapatkanmu." Hal 115
Selain itu penokohan dalam novel ini juga cukup kompleks. Tokoh Lanang bukanlah karakter pahlawan hitam putih yang tak memiliki cela (seperti banyak tokoh pahlawan dalam fiksi ilmiah). Meski digambarkan memiliki kualitas seorang "hero," Lanang yang digambarkan cerdas, obsesif ini tetap digambarkan memiliki kekurangan-kekurangannya sendiri.
Lanang dalam cerita ini secara bersamaan harus mampu menyelesaikan masalah yang seolah menimpa nyaris semua bagian kehidupannya. Dan di hadapan masalah-masalah kompleks itu, ternyata Lanang tidak sejumawa namanya.
Meski cerita bertitik berat pada bioteknologi, masalah-masalah lain yang lebih erat dengan isu sosial seperti psikologi, dan politik kesehatan juga turut dibahas dalam. novel ini.
Menurut Apsanti Djoko Susanto dalam pengantar buku ini, Lanang juga mengajukan banyak kritik sosial. Di antaranya kondisi dunia pendidikan kedokteran hewan yang hanya mengajarkan ilmu dari Barat dan seolah mengabaikan kearifan lokal.
Dalam beberapa bagian novel dilontarkan pula kritik pada mentalitas pejabat pemerintahan yang picik dan lamban dalam menghadapi kebuntuan. Alih-alih berpikir keras menyelesaikan masalah yang dihadapi, para pejabat ini tanpa segan dan malu langsung saja berpaling pada klenik yang begitu mereka percayai.
Lanang adalah novel kompleks dengan bobot tersendiri. Cukup berat dan cukup kompleks untuk mengantarkan novel ini menjadi pemenang Sayembara Novel DKJ pada 2006 lalu.

Data Buku
Judul : LANANG
Penulis : Yonathan Rahardjo
Kategori : Fiksi/Sastra
Tebal : xii + 418 halaman
Terbit : Mei 2008
Penerbit : Pustaka Alvabet
Harga : Rp 55.000

Ai Tuti Alawiyah: Psychological conflict among the characters that is appeared deeply and presented like real

Oleh
Ai Tuti Alawiyah
FKIP
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Name : Ai Tuti Alawiyah
NPM : 06221210680
Semester; IV afternoon
Title : Lanang
Author : Yonathan Rahardjo
Editor : A. Fathoni
Publisher: Alvabet Sastra
Year : 2008
Page : 416 pages


In general, this story vividly tells about disagreement, deception, religion, spiritual, accident, prostitution and sex. There is a psychological conflict among the characters that is appeared deeply and presented like real.
The novel was told about Ihe story of veterinary surgeon was named Lanang. Lanang was a veterinary surgeon in his village and has a wife was named Putri. His daily activity is help me dairy cow breeder. In the morning, the little cow that he help was died. He was very shocked, then he had made some investigation, but he still failed to find it. He doesn't know that caused dairy cow was died. But he remember with "Burung babi hutan" that has come him.
Then, all doctor make a seminar for this case. In that seminar, he met Dr. Dewi. Dewi was a holder of doctorate who worked as a henchman of foreign corporation. She had a duty for supplying genetic engineer product from foreign country. She created transgenic animal that was able to spread the virus of disease named wild boar bird or Burung Babi Hutan. Since appearing of this peculiar animal, the area of dairy cow where Lanang worked suddenly attacked by the mysterious disease. Lanang was a clever veterinarian.
I think that is an impressive thing. An animal veterinarian who dominates the scientific language can also dominate poetic language. Apparently scientists also can be romantic person. I think Lanang is an interesting reading.

Dedy Tri Riyadi: Bertemu Monster dalam Bahasa Puisi

oleh:
Dedy Tri Riyadi
Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal :
Harga : Rp. 55.000,-


Lupakanlah logika bahasa dan menalar segala bentuk moral juga kebenaran dalam cerita ini. Bahasanya yang entah karena emosi dibuat rumit seperti puisi menjadi semacam tembok dalam labirin yang coba dibangun oleh pengarangnya.

Kritikan terhadap cara berbahasa dari novel ini sudah banyak diungkap orang lain. Untuk itu, rasanya dari awal pembahasan ini perlu diingatkan calon pembaca mengenai hal yang satu itu.

Terlepas dari kerumitan bahasa dan vulgarisme yang dianut oleh penulis, ada ide baru yang hendak digugat olehnya. Kecenderungan sastra yang menonjolkan feminimisme (gugatan isi hati perempuan terhadap dominasi lelaki) ingin ditentang oleh penulis sebagaimana termaksud dengan judul "Lanang" ini.

Lanang selain sebagai nama tokoh utama juga menggambarkan hal yang ingin dicapai oleh tokoh utama tersebut dalam kehidupannya. Bermain-main di ranah seksual dengan berbagai jenis wanita bahkan binatang menjadi salah satu cara baginya untuk mendapatkan predikat "jantan" itu.

Salah satu cara untuk bisa menikmati novel ini juga adalah dengan melupakan seekor monster berbentuk burung babi hutan yang pastinya akan menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana caranya menciptakan monster itu? Atau lebih lanjut : Apakah kegunaan sebenarnya dengan percobaan dokter Dewi dan perusahaan itu menciptakan burung babi hutan? Karena memang tak perlu hal itu ditanyakan di sini.

Adalah Stephen King yang menanamkan cara menjalarkan ketakutan ke benak pembaca dengan baik dengan alien-alien yang oleh pembaca jarang ditebak di bagian awal seperti apa bentuknya. Mungkin kengerian inilah yang hendak dibangun oleh Yonathan Rahardjo dengan monster burung babi hutannya. Pesan moral yang ingin ditunjukkan jelas : Hati-hati dengan rekayasa genetika!

Dengan isu itulah saya kira, Lanang menjadi catatan tersendiri. Karena novel Indonesia yang membahas isu transgenik bisa dikatakan belum ada. Saya membandingkan novel ini dengan novel yang dulu pernah saya baca "Almost Adam." Temanya hampir serupa tentang lingkungan mahluk hidup dan evolusi. Bedanya jika "Almost Adam" berpihak pada missing link, Lanang memberontak pada evolusi ke depan : rekayasa genetika. Meskipun demikian, hal-hal erotik dalam kedua novel ini sangat bertentangan. "Almost Adam" menggarap sisi persetubuhan dengan kata-kata yang filosofis dan ilmiah, sedangkan "Lanang" tampak kedodoran di sisi yang sama.

Ada pendapat untuk "Lanang" ini dikategorikan sebagai novel puisi. Atau setidaknya novel dengan bahasa yang puitis. Pendapat saya sebagai pembaca, puitis atau tidak tergantung dari pemilihan kata yang dilakukan oleh penulis. Beberapa karya yang pernah saya baca nampak puitis karena rima yang dijaga dan penggambaran suasananya yang halus. Salah satu bagian dari "Mahasati" karya Qaris Tajudin salah satunya.

Dedy Tri Riyadi

ekohm wrote June 10 2008 at 12:39 PM
pertamaaxxx....nih...

Akmal Nasery Basral: Konstruksikan seperti apa bentuk (sebagian) bangunan sastra indonesia 10-15 tahun dari sekarang.

dari "akmal n. basral"
kepada nana rakeswara
cc apresiasi-sastra@yahoogroups.com
tanggal 9 Jun 2008 09:25
subjek [*Apresiasi-Sastra*] Re: haloo

http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/39716


nana, karena permintaanmu ini tak ada yang confidential jadi aku forward ke milis karena ada beberapa nama yang mungkin bisa membantumu lebih jauh, seperti eka kurniawan (no. 25), saut situmorang (no. 7, 26 dan 29), dan kawan-kawan lain semisal hasan aspahani, mikael johani.

"the last leaf"-nya o'henry (no. 21) bisa dilihat di sini:
http://www.classicshorts.com/stories/lastleaf.html

o ya, satu ralat kecil. nana, saya tidak tinggal di pusat peradaban, tapi di pusat kemacetan (cibubur). itu bedanya jauh sekali. :)

nah sekarang untuk yang no. 30, pertanyaan khususmu untuk saya, saya usulkan agar kamu juga bersedia dengan rendah hati membaca prosa-prosa yang berorientasi ke masa depan, bukan hanya yang memandang takjub masa silam.

prosa-prosa yang berorientasi ke masa depan tersebut saat ini mungkin tengah mengalami proses metaformosis yang serius, atau bahkan mengalami hibernasi, sehingga karena itu keindahannya tak bisa terlihat dengan cepat, apalagi kekuatannya yang magnetik.

tapi jika kau bersedia menundukkan diri sedikit di depan teks-teks di bawah ini, barangkali
akan bisa kau konstruksikan seperti apa bentuk (sebagian) bangunan sastra indonesia 10-15 tahun dari sekarang. untuk menyebut beberapa di antaranya adalah:

1. semua novel mang jamal.
2. semua novel dan cerpen lan fang.
3. seluruh buku anak-anak arleen amidjaja
4. semua cerpen bung kelinci yang sudah dipublikasikan.
5. seluruh novel hary b. kori'un
6. karya-karya prosa hudan hidayat
7. karya-karya feby indirani yang sudah terbit.
8. cerpen-cerpen rita achdris yang sudah beredar.
9. novel yonathan rahardjo yang baru saja dipasarkan dalam bentuk buku.
10. seluruh karya prosa sihar ramses simatupang.

salam,

~a~

nana rakeswara wrote:
Halo akmal, aku akan tanggepin tulisanmu, tapi hari-hari ini belum bisa, aku lagi nyelesain sesuatu. Eh, tolong carikan bebrapa esay di bawah ini ya. aku menglipingnya dulu, ilang gara-gara pindah rumah. Kamu kan tinggal di salah satu pusat peradaban (TUK.he3.), tentu gak gitu sulit mencarinya. Aku sekarang tinggal di desa, gak da perpus gak da temen bicara, susah sekali mau nyari apaapa. Terimakasih ya.






Nirwan Dewanto, “Pembacaan Dekat atau Jauh?: Melintasi Sastra dan Seni Rupa,” Kalam 22, 2005.
Esay Dewanto Homo Poeticus Lampungensis 1
Esayesay Faruk HT
Tulisan Bambang Agung : Sastra Dunia Sastra Nasional
Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri
Kesusastraan, Pasemon” Gunawan Muhammad
Esei2 pendek Chairil
Mengapa Saya menulis Sajak Subagyo Sastrowardoyo
Jagad Besar dan Jagad Kecil Sanusi Pane
Indonisasi Ciliwung Rustandi Kartakusuma
Angkatan 70 dalam sastra Indonesia Abdul Hadi W.M
Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Sutan Takdir Alisjahbana
Pengaruh Barat Ida Nasution
“ Sikap Budaya Takdir dalam Polemik Kebudayaan dan Pengaruhnya” Subagio Sastrowardoyo
Ulasan Subagyo tentang puisi Sitor Situmorang
Ulasan Goenawan Muhammad terhadap DukaMu Abadi
Ulasan Arif B. Prasetyo terhadap Misalkan Kita di Sarajevo
Ulasan Arief B. Prasetyo terhadap Cala Ibi
Ulasan Sutardji Coulzum Bachri terhadap Perahu Kertas
Cerpen Enam (dimuat di koran tempo), cerpen Boneka (dimuat di playboy), kritik pertunjukan robert Wilson ; I la galigo (di bentara). Ugoran Prasad
Cerpen Daun Terakhir O’Henry
Semua Tulisan Hasif Amini
Debat Enin Supriyanto Vs Jim Supangkat mengenai kasus Pinkswing Park
Debat I Made Sukadana Vs Adi Wicaksono
Cerpen Eka Kurniawan : Gelak Sedih
Semua Tulisan Katrin Bandel yang belum dimuat dibukunya.
Semua tulisan Arsuka
Semua tulisan Enin Supriyanto
Semua tulisan Saut Situmorang
Semua prosamu yang menurutmu kuat, dan prosa-prosa lain yang pingin kamu bagi untukku

Dedy Tri Riyadi: Burung Babi Hutan di Novel Lanang, Rekayasa Genetik atau Monster?


Mengelitik Nalar Lewat Imajinasi Liar.


Rekayasa genetik di dalam apapun bentuk percobaan dan penelitian dimulai dengan keinginan manusia untuk menghasilkan generasi tetumbuhan dan hewan yang punya sifat lebih baik daripada tetuanya. Penyisipan sifat-sifat yang "diharapkan" yang saat ini ada pada generasi yang berbeda ataupun lintas organisma adalah problema utama dari rekayasa genetika.

Di dalam dunia tetumbuhan, rekayasa genetika menjadi berkembang ketika ditemukan semacam sel yang bisa menginfiltrasi sel lain dan menularkan sifat-sifat bawaannya hingga kemudian pada fisik dan fisiologis tumbuhan yang ditempelnya akan berubah. Kita bisa melihat dengan gampang hal tersebut pada akar atau batang yang mengge-lembung karena disusupi bakteri yang jika di dunia medis bisa dikatakan sebagai tumor.

Pada dunia kehewanan dan manusia, keinginan untuk memberantas penyakit keturunan/ bawaan seperti asthma, butawarna, dan lainnya membuat para ilmuwan bergegas meneliti sel induk. Salah satu yang sering kita ketahui adalah sel kordial atau ari-ari. Lewat penelitian panjang dari sel induk ini lahirlah tehnologi kloning yang kontroversial itu.

Kloning tidak serta merta berarti menciptakan generasi baru tanpa hubungan seksual belaka, kloning berbicara masalah perbaikan kualitas hidup dengan cara yang ajaib. Dari novel grafis yang kemudian difilmkan "300" dikatakan orang Sparta mempunyai seleksi alam yang kejam bagi seorang laki-laki. Semenjak bayi, yang cacat dan lemah akan dibunuh dengan cara dibuang ke dalam jurang! Dan hebatnya, itu ternyata bukan cuma dongeng belaka. Di negara tetangga kita, Vietnam masih diberlakukan hal serupa. Bedanya hanya caranya, di sana setiap ibu hamil wajib ditangani oleh dokter. Dan dari sang dokter kenormalan bayi itu sangat diharapkan. Fetus bahkan embrio yang cacat wajib hukumnya untuk diaborsi!

Memang sulit untuk mengungkap transgenik atau hasil rekayasa genetik bila disangkut-pautkan dengan moralitas. Ketika kita mengutakatik tanaman, tak ada yang protes soal moralitasnya. Yang protes itu para petani itu pun karena bibit tanaman transgenik yang diperoleh harganya lebih mahal dan ternyata tidak cocok untuk ditanam di lahan pertanian mereka. Atau proses pembeliannya yang cenderung dipaksakan!

Tetapi ketika kita berada di ranah binatang terutama ordo mamalia, tiba-tiba timbul ketakutan. Bagaimana kalau hal itu bisa sampai juga kepada spesies manusia? Simaklah penemuan transgenik berikut ;

- penumbuhan organ telinga pada kulit tikus hidup
- penumbuhan organ jantung pada babi

apakah kira-kira itu bermanfaat atau membahayakan atau tidak usah saja dilakukan?

Padahal penelitian itu punya niat yang baik seperti diutarakan di atas demi generasi atau perbaikan kualitas hidup manusia.

Dalam buku Lanang, ada semacam kekuatiran dari penulis untuk menghadapi hal-hal yang sifatnya rekayasa genetika tersebut. Dan seperti sudah diduga selalu dihubungkan dengan moralitas bahkan kekuasaan Tuhan.

Padahal di dalam beberapa kitab suci dikatakan telah diciptakan untuk manusia tetumbuhan dan hewan. Dan tidak ada yang diciptakan hanya untuk kesia-siaan. Artinya rekayasa genetika yang bertujuan untuk kebaikan itu sesungguhnya (jika sesuai niatan) tidak akan menciptakan monster-monster yang mengancam kehidupan manusia. Kecuali bila misalnya diciptakan kloning badak-harimau sebagai alat pembasmi masal atau sekedar membubarkan demo di depan istana presiden.

Burung babi hutan di dalam novel Lanang adalah gambaran ketakutan itu. Jika bisa dikatakan monster badak-harimau di atas lebih masuk akal dibandingkan dengan burung babi hutan, karena keduanya adalah mamalia, meskipun berbeda kelompok ordo yang berbeda. Burung babi hutan menggabungkan kelompok kelas yang berbeda! Kelas Mamalia dan kelas Aves. Di sepanjang sejarah perkawinan antar-hewan, paling jauh adalah perkawinan di dalam kelompok Familia, yaitu pada hewan yang kita sebut sehari-hari sebagai anjing.

Saya pernah memprotes cerpen Carangan yang menampilkan sesosok binatang berbentuk anjing liar (di cerpen itu disebut serigala, tetapi karena di Indonesia tidak pernah ada jenis itu maka saya sebut anjing saja) yang berukuran kecil. Penulis mengatakan bahwa nama latin dari spesies itu adalah lupus erectus (lupus, dengan huruf depan kecil). Kenapa saya protes karena penamaan jenis anjing-anjingan adalah Canis. Serigala sekalipun. Dan penulisan penamaan latin untuk kata pertama selalu menggunakan huruf awal yang ditulis kapital. Itu ilmiah. Sebagai novel yang mengedepankan isu ilmiah, kemunculan burung babi hutan menurut saya sudah mengaburkan isu tersebut.

Rasanya lebih tepat jika mahluk burung babi hutan memang ditempatkan pada ranah monster, bukan hasil rekayasa genetika. Karena di dalam ilmu mitologi, terdapat banyak sekali monster seperti singa bersayap burung, manusia berkepala kerbau, anjing berkepala tiga, raksasa bermata satu, bahkan gambaran malaikat di masyarakat Persia kuno juga bersifat sebagai monster yaitu manusia bersayap burung.

zifah wrote June 9 2008 at 3:57 AM
... menarik juga. Tuhan mengatakan tidak ada ciptaanNya yang sia-sia. Mungkinkah burung babi hutan transgenik ini adalah ciptaan yang sia-sia.

papaemarvel wrote June 9 2008 at 4:11 AM
Stephen King sangat piawai menjalarkan ketakutan yang ingin dia ciptakan ke pikiran pembacanya. Mungkin Yonathan belajar dari sana. Toh mahluk-mahluk dalam novel Stephen King juga tidak bisa dinalarkan ..hehehe

zifah wrote June 10 2008 at 4:58 AM
imajinasi ya toh?

papaemarvel wrote June 10 2008 at 6:34 AM
ya imajinasi. tapi saya sebagai pembaca penginnya sesuatu itu harus perfect secara logika. tapi kalaupun tidak, saya akan menerima hal-hal yang sifatnya "beyond logic" tadi ...
misal di salah satu novel Stephen King, alien itu bisa masuk ke dalam tubuh siapa saja yang kita kenal. Dan sekonyong-konyong ketika kita sadar, kita tahu


Ilenk Rembulan: RINDU DENDAM CINTA TRANSGENIK

oleh: Ilenk Rembulan

http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/06/lanang-apresiasi-penerawanganku.html

RINDU DENDAM CINTA TRANSGENIK
Oleh : ilenk rembulan
Judul Buku : LANANG
Penulis : YONATHAN RAHARDJO
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga : Rp. 55.000,-
Tebal : 440 halaman

“Kita menggunakan bakteri dan jamur transgenik untuk memproduksi obat, enzim, vitamin dan materi-materi lain yang penting dan mampu menggantikan fungsi bakteri-bakteri atau jamur alami yang berperan dalam pembuatan pakan ternak.
“Orang berusaha meningkatkan produksi bahan-bahan penghasil protein hewani dengan teknologi. Namun jangan lupa, teknologi juga bisa menimbulkan masalah. Demikian juga teknologi rekayasa genetika yang memunculkan makhluk yang sudah dimodifikasikan sifat-sifat keturunan bibitnya”
Di jaman yang sudah semakin maju ini, pemikiran manusia berkembang dengan pesat untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi jutaan bahkan milyar manusia di bumi untuk kebutuhan pangannya. Agar kebutuhan akan gizi dan semua zat pembangun bagi pertumbuhan raga dan jiwa manusia tercukupi, maka segala macam percobaan genetika dilakukan demi terpenuhi kesemuanya.
Kadang tak jarang para ahli di negara maju menggunakan rekayasa genetika dengan menyilangkan berbagai macam gen makhluk hidup demi terpenuhi kebutuhan meningkatkan produksi dari ternak maupun hasil pertanian. Hasil dari rekayasa ini biasanya disebut produksi transgenik.
Bagi sebagian negara maju ada yang melarang penggunaan hasil ini, namun banyak juga sebagian besar negara telah menggunakan hasil rekayasa tersebut baik langsung maupun tidak langsung.
Terbukti dengan munculnya penyakit sapi gila, kemudian flu burung dan lain-lain penyakit yang mulai timbul dari hasil negatif penggunaan penemuan tersebut.
Bagaimana tidak gila sapi-sapi tersebut, ternyata menurut penelitian di dalam pakan ternak dicampuri tepung dari tulang sapi itu sendiri. Tanpa sadar sapi-sapi itu yang tadinya termasuk hewan herbivora berubah menjadi secara tidak langsung karnivora. Hewan makan dari tulang temannya sendiri, yang tentunya hal ini sudah menyimpang dari pola lingkaran makan hewan herbivora tersebut.
Di samping itu munculnya trend pola makan sebagian manusia di negara maju yang serba fastfood dan kemudian menjalar ke negara berkembang, telah menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kanker, diabetes yang semakin meningkat juga penyakit lainnya di mana pada masa dahulu tidak ada atau muncul, pada jaman sekarang mulai muncul dan menyebar.
Apa jadinya bila gen penentu sifat makhluk hidup semisal kambing yang digabungkan dengan singa maka akan menghasilkan hewan singa berkepala kambing atau sebaliknya kambing berbadan singa. Hal ini bisa terjadi dari hasil transgenik yang dikembangkan oleh kepandaian manusia yang pada akhirnya menjadi keblinger ataukah sah-sah saja? Apakah tidak melawan kodrati Ilahi dengan memporak-porandakan hasil ciptaanNYA?
Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.

SINOPSIS
Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.
Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.
Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.
Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.
Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.
Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.
Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.
Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian tersebut.
Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.
Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.
Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.
Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.
Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno, yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.
Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.

KARYA YANG MENGANDUNG UNSUR ILMIAH
“Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui”
“Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat”
“Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika.”
“Pemakaian hormon tersebut juga akan meningkatkan dalam air susu yang diproduksi kadar faktor pertumbuhan insulin, hormone yang dihasilkan kelenjar ludah perut dan berguna mengatur pembentukan serta penguraian karbohidrat atau zat gula. Pada manusia maupun hewan, faktor pertumbuhan itu identik. Sehingga bayi yang minum susu dari sapi yang disuntik hormon itu punya risiko menderita penyakit gula darah alias diabetes. Di samping itu produk sapi perah yang diterapi hormon pertumbuhan sapi yang mengandung insulin-like growth dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar.
Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.
Kemudian dijelaskan juga pada novel tersebut adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.
Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.
Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.
Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.
Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?
Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

MORAL, RELIGI DAN KLENIK
Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut. Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.
Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.
Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.
Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).
Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca, kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.
Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.
Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.

CINTA DAN DENDAM
Intrik yang dibangun pada cerita yang membuat menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.
Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.
Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.
Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.
Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.
Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.

EGO MANUSIA, SIFAT MASKULIN & FEMININ
Kelemahan pada diri Lanang yang digambarkan sangat macho dengan dada bidang, cerdas, tinggi besar, tidak dapat dipungkiri. Bahwa dia telah dikalahkan oleh ego pribadinya sendiri, banyaknya keinginan yang tidak terwujud dalam kehidupannya, cintanya yang hilang dengan dua wanita yang sudah didapatkannya tetapi kemudian dua-duanya pergi meninggalkannya, dan pada akhirnya bersama-sama menguasainya tanpa dia bisa berkutik melawannya.
Sifat feminin dalam diri seorang Lanang yang fisiknya lelaki lebih menonjol berseberangan dengan sifat Dewi yang ternyata lebih maskulin dibandingkan fisiknya yang perempuan sejati, demikian juga dengan Putri yang berpenampilan lebih lembut daripada Dewi, ternyata juga menyimpan sifat maskulin yang dominan dengan begitu mudah mau diajak oleh Dewi menundukkan Lanang dengan operasi rekayasanya.
Pembunuhan sebagian dari gen penentu kehidupan mahluk hidup tersebut dengan ringan dan bengis telah dilakukan dua orang perempuan dengan ego dan maskulinnya terhadap diri kekasih yang dicintainya sekaligus dibencinya.

CATATAN AKHIR
Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit, namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.
Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.

selesai